Opini

Mengasah Keterampilan Sosial Pelajar di Era Digitalisasi, Tantangan dan Peluang

91
×

Mengasah Keterampilan Sosial Pelajar di Era Digitalisasi, Tantangan dan Peluang

Sebarkan artikel ini

Oleh : Isrizal, M.Pd

(Kepala MTsN 1 Padang) 

PERKEMBANGAN teknologi digital membawa dampak signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Di era ini, pelajar dihadapkan pada tantangan baru dalam mengasah keterampilan sosial yang esensial untuk keberhasilan mereka di masa depan.

Keterampilan sosial atau social skills merupakan kemampuan individu dalam berinteraksi secara efektif dengan orang lain, yang mencakup komunikasi, kolaborasi, empati dan kemampuan menyelesaikan konflik.

Era digitalisasi memunculkan fenomena baru di mana interaksi sosial sering terjadi secara virtual melalui berbagai platform digital. Meskipun teknologi menawarkan kemudahan dalam berkomunikasi, hal ini juga membawa dampak negatif terhadap keterampilan sosial pelajar. Penelitian dari American Psychological Association (APA) menunjukkan bahwa peningkatan penggunaan media sosial dapat mengurangi kualitas interaksi tatap muka, yang berpotensi menurunkan kemampuan sosial dasar seperti empati dan kepekaan terhadap emosi orang lain.
Era digitalisasi membawa sejumlah dampak positif bagi pengembangan keterampilan sosial pelajar. Teknologi digital memungkinkan pelajar untuk berkolaborasi dengan teman-teman dari berbagai belahan dunia. Platform seperti Google Classroom, Microsoft Teams, dan Zoom memungkinkan kerja sama dalam proyek kelompok meskipun berada di lokasi yang berbeda. Kolaborasi online ini mengasah keterampilan komunikasi digital dan manajemen proyek, yang merupakan kompetensi penting di dunia kerja modern.
Era digital membuka akses yang luas ke berbagai informasi dan sumber belajar. Pelajar dapat belajar dari berbagai bahan yang tersedia online, seperti video edukasi, artikel, dan kursus daring. Ini memungkinkan mereka untuk memperluas wawasan dan keterampilan sosial melalui pembelajaran mandiri.
Interaksi dengan teknologi digital membantu pelajar mengembangkan keterampilan teknis dan digital yang diperlukan di era modern. Mereka belajar menggunakan perangkat lunak kolaboratif, platform komunikasi, dan alat digital lainnya yang mendukung kerja tim dan komunikasi.
Banyak institusi pendidikan mulai mengintegrasikan program SEL (Sosial dan Emosional) ke dalam kurikulum mereka. Program ini bertujuan untuk mengembangkan kompetensi emosional dan sosial pelajar melalui pembelajaran yang terstruktur dan terintegrasi. SEL dapat meningkatkan kemampuan pelajar dalam mengenali dan mengelola emosi, menetapkan dan mencapai tujuan positif, merasakan dan menunjukkan empati terhadap orang lain, serta membangun dan memelihara hubungan positif. SEL bertujuan untuk mengembangkan kompetensi emosional dan sosial pelajar melalui pembelajaran yang terstruktur dan terintegrasi. Menurut Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning (CASEL), SEL dapat meningkatkan kemampuan pelajar dalam mengenali dan mengelola emosi, menetapkan dan mencapai tujuan positif, merasakan dan menunjukkan empati terhadap orang lain, serta membangun dan memelihara hubungan positif.
Implementasi SEL dapat dilakukan melalui berbagai strategi, termasuk penggunaan teknologi digital. Misalnya, aplikasi pembelajaran seperti Class Dojo dan Seesaw memungkinkan guru untuk memantau dan mengembangkan keterampilan sosial dan emosional pelajar. Selain itu, program mentoring online juga dapat menjadi sarana efektif untuk mengajarkan keterampilan sosial, di mana pelajar dapat belajar dari mentor yang berpengalaman melalui sesi video call atau chat.
Media sosial dapat digunakan untuk mempererat hubungan sosial dengan teman dan keluarga yang berada jauh. Dengan demikian, pelajar dapat tetap terhubung dan berbagi pengalaman, memperkuat hubungan sosial yang sudah ada.
Di samping dampak positif, terdapat beberapa dampak negatif dari era digitalisasi terhadap keterampilan sosial pelajar tidak bisa diabaikan.Penelitian menunjukkan bahwa peningkatan penggunaan media sosial dapat mengurangi kualitas interaksi tatap muka. Interaksi virtual seringkali kurang menampilkan isyarat non-verbal yang penting dalam komunikasi tatap muka, seperti ekspresi wajah dan bahasa tubuh, yang dapat menurunkan kemampuan pelajar untuk memahami dan menanggapi emosi orang lain secara langsung.
Penggunaan teknologi yang berlebihan dapat menyebabkan kecanduan, yang dapat mengganggu waktu belajar dan aktivitas sosial lainnya. Kecanduan teknologi dapat mengisolasi pelajar dari interaksi sosial langsung dan mengurangi kesempatan untuk mengembangkan keterampilan sosial yang penting.
Media sosial dan platform digital lainnya juga membawa risiko bullying dan cyberbullying. Pelajar yang menjadi korban cyberbullying dapat mengalami dampak psikologis yang serius, yang dapat mempengaruhi perkembangan keterampilan sosial mereka.

BACA JUGA  Menyigi Program Bang Wako dan Energi di Tahun Politik

Comment