Oleh Romy Sastra
“Dari Kapujan, lalu ke Batang Kapas
Bersatu dalam genggaman dan tak akan lepas”
Begitulah dua larik diksi yang saya susun kepada dua sosok putra daerah terbaik Pesisir Selatan di perantauan, di samping putra-putri terbaik Pesisir Selatan terbaik lainnya kita banggakan bersama.
Kita menuju dunia globalisasi era digitalisasi, dan telah memasuki gerbang itu berenang-renang di dalamnya mencari kemudahan, kemudian membangun pemikiran, ini sisi positif di dunia digital.
Dengan adanya transformasi informasi kemarin dalam agenda tahunan, tentang kegiatan para pengurus DPP PKPS masing-masing yang kita saksikan bersama berjalan dengan baik dan lancar. Kita semua telah mengenali sosok dua figur pemimpin Ketum dan Sekjen yang akan menakhodai lajunya organisasi bersama para pengurus harian, menyusun program-program untuk dapat direalisasikan.
Ekosistem PKPS sudah lama didirikan dengan segala kekurangan dan keberhasilannya adalah suatu kajian tersendiri menyikapinya. Tentu ada plus minus selama organisasi itu berdiri berjalan dan itu adalah hal yang wajar. Meminjam kata-kata tokoh pahlawan Tan Malaka.
“Terbentur, terbentur, terbentur, lalu terbentuk” begitulah sunnatullah kepada semesta manusia untuk dapat berevolusi merenungi (kontemplasi) demi sebuah tujuan kemaslahatan umat.
Estafet kepemimpinan (leader) dua ikon PKPS 2025-2030. Adi Karsyaf SH.MH. dan sekjennya Bakri Maulana SE. MP. adalah diharapkan sebagai roh kemajuan organisasi PKPS rentang waktu periode berjalan. Ini sebuah tantangan tersendiri bagaimana dua ikon putra-putri terbaik Pesisir Selatan ini dapat berkontribusi lebih tinggi lagi ke dunia yang mereka cita-citakan ke depan.
Amanah ini adalah salah satunya potret kinerja dalam organisasi rantau dan kampung membawa bahtera ke tengah samudra keluaga besar Pesisir Selatan.
Di samping draft program yang sudah dibentuk, dan itu bukan pekerjaan yang mudah. Akan tetapi, pekerjaan yang rumit ketika sinergitas tak terbangun lima pilar yang saya bentangkan di artikel opini saya yang lalu.
Persoalan klasik yang kerap terjadi adalah dua hal di antaranya: finansial dan kemistri saganggam sabimbiang tangan. Apa visi misi serta obsesinya untuk PKPS?
“Sakali aia gadang, sakali tapian barubah” di slogan kata-kata pepatah ini adalah cambuk untuk pemangku jabatan dapat bersumbangsih penuh sejurus kolektif leadership yang akan menciptakan perubahan besar terhadap perkumpulan dari sebuah kemampuan.
Bagaimana pohon itu rimbun lalu berbuah, burung-burung bersarang bernyanyi menari ria di dahan-dahan dan ranting-ranting. Pun seandainya daun itu jatuh tak menimpa ilalang yang tumbuh di bawahnya. Justru terberkati (blessed) hendaknya.
“Nan buto paambuih lasuang, nan pakak palapeh badia, nan lumpuah paunyi rumah, nan kuaik pambaok baban, nan binguang disuruah-suruah, nan cadiak lawan barundiang.”
Begitulah sinergitas dalam ranah adat Minangkabau untuk tampek baiyo-iyo yang bisa kita fungsikan dan telah diberikan mandat ke setiap pengurus untuk dapat bekerja dengan baik, jangan sampai terjadi “minyak habieh samba tak lamak”.
Semarak suatu acara adalah seremoni. Tapi yang penting itu bagaimana menggerakan ide-ide kreatif yang akan diterapkan, kita tunggu talenta para pengurus demi membangunkan yang takalok di rantau dan di Pesisir Selatan.
Ada potensi alam yang kita pikirkan manfaatkan, sekaligus dilestarikan meningkatkan ekonomi kreatif pariwisata, perkebunan, pertanian, peternakan dll demi kemajuan orang-orang di nagari. Tentu sinergitas dengan pemerintahan daerah dapat terjalin, dan bahannya ada di pemikiran kita semua bersumbangsih ke kampung halaman.
Ada hal-hal yang urgen di kampung halaman, contoh tergerusnya nilai-nilai adat dan budaya efek pengaruh budaya asing baik yang datang lewat kolonialisme dan tersembunyi memengaruhi masyarakat, baik itu narkoba, kesenian yang di luar batas-batas norma, lewat teknologi digital, ini sisi negatifnya.
Kita berharap dengan wadah perkumpulan PKPS ini, dapat mengakomodir pemikiran dari rantau merantai ke kampung halaman. (**)







