Pimpinan PD Muhammadiyah ke depan, butuh dukungan dari semua elemen di kota ini. Maka, kader yang memimpin Muhammadiyah Kota Padang ke depan dituntut secara pribadi tak berlawanan politis dengan kepala daerah. Kemudian secara organisasi harus mampu bersinergis dengan semua pihak
Oleh: Dasman Boy Dt Rj Dihilie
(Wartawan Utama)
MUSYAWARAH Daerah (Musyda) Muhammadiyah Kota Padang, sudah di depan mata, yang sedianya bakal digelar 12-14 Mei 2023. Rencananya, Musyda organisasi Islam yang cukup besar ini bakal ditabuh di lapangan RTH Imam Bonjol dan dilanjutkan ke SMK Muhammadiyah 1 Padang.
Jelang ditabuhnya Musyda Muhammadiyah Kota Padang ini juga sudah mengapung beberapa nama. Namun, dari beberapa nama yang sudah mengapung tersebut, belakangan telah mengerucut dua nama bakal calon (Balon). Bahkan, dua nama Balon itu semakin santer disebut sebut, bakal menjadi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Padang.
Tidak itu, jauh sebelum Musyda yang ke 23 ini kedua Balon tersebut telah melancarkan lobi sana, lobi sini. Bahkan, saling melemparkan psywar – perang urat syaraf – untuk menjual argumen mereka, untuk meretas jalan menuju pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Padang.
Tapi, jika menilik dari momentum
Musyda PD Muhammadiyah tahun ini mengusung tagline “Memajukan Kota Padang, Mencerdaskan Umat”. Jika, diarifi kader Muhammadiyah yang bakal duduk sebagai pimpinan daerah dituntut bisa memajukan Kota Padang sebagai lokusnya Muhammadiyah di Ranah Bingkuang ini. Tidak hanya memajukan daerah sebagai lokusnya, akan tetapi juga dituntut mencerdaskan umatnya atau sumberdaya manusianys (SDM).
Namun, mengutip statemen Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir baru baru ini menegaskan, selama ini Persyarikatan Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia berdasarkan standar dan teori lama terkait kuantitas (jumlah massa).
Namun belakangan, ukuran-ukuran berdasar kuantitas itu dianggap mulai tidak relevan lagi. Para ahli mulai mengukur status ‘organisasi terbesar’ berdasarkan kualitas. Bahkan, organisasi Islam ini telah berevolusi menjadi organisasi muslim terbesar di dunia.
Maka untuk itu Kader pimpinan Muhammadiyah ke depan dituntut menjalin kerjasama dan bersinergi dengan semua pihak, terutama dengan pemerintah maupun ormas lainnya. Tentu, menterjemahkan statemen dari Ketum PP Muhammadiyah itu bisa ditafsirkan kader Muhammadiyah ke depan bisa menjaga marwah Muhammadiyah sebagai Ormas Islam terbesar di dunia.
Maka dari itu kader Muhammadiyah yang bakal menjadi pimpinan Muhammadiyah Kota Padang kelak yang bisa bersinergi dengan pemerintah maupun dengan segala pihak. Dan bisa diterima semua elemen di Kota Padang serta yang bisa menjaga keharmonisan dengan semua pihak. Bukan, kader yang pro kontra. Jika terseret pro dan kontra identitas politik, maka sangat merugikan Muhammadiyah.
Kemudian, yang bisa mendukung program pemerintah dalam hal ini program Pemko Padang. Tentu sebaliknya Pemko Padang juga mendukung Muhammadiyah. Terutama dalam mendukung program Muhammadiyah demi kemaslahatan umat di Kota Padang. “Artinya, kito tak bisa rimbun sarampaknyo salingka kaum kito sajo, tapi butuh juo kaum di sekitar kito”
Akan tetapi, jika kelak yang duduk sebagai pimpinan Muhammadiyah Padang itu tak mampu bersinergi dan bekerja sama dengan pemerintah, dengan sendirinya akan berdampak terhadap perserikatan Muhammadiyah. Tentu dengan sndirinya bertolak belakang dengan kemauan dari Ketum PP Muhammadiyah yang mengharapkan Muhammadiyah makin besar pada masa mendatang.
Kemudian, yang menjadi Ketua PD Muhammadiyah Padang itu ke depan secara pribadi jangan berlawanan haluan politis dengan kepala daerah di Kota Padang. Jika itu terjadi, berlawanan politis dengan kepala daerah dalam hal ini Walikota Padang maka dengan sendirinya akan mengerdilkan Muhammadiyah sebagai Ormas Islam terbesar di dunia. Sebab mau tak mau program Muhammadiyah perlu dukungan Pemko Padang dan sebaliknya program Pemko Padang butuh dukungan dari Muhammadiyah. Kemudian tak terbantahkan Muhammadiyah butuh dukungan moril dan material dari pemerintah.
Sebab, Muhammadiyah bertipe
organisasi keagamaan yang juga bertujuan sosial, ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Apalagi, sejak didirikan, Muhammadiyah telah mengadopsi platform reformis yang memadukan pendidikan agama dan pendidikan modern, terutama sebagai cara untuk mempromosikan mobilitas Muslim ke atas menuju komunitas ‘modern’ dan untuk memurnikan Islam Indonesia dari praktik sinkretis lokal.
Selain itu, tujuan organisasi Muhammadiyah didirikan juga mempunyai makna kesadaran mengemban amanah sebagai wakil Allah SWT di bumi yang bertugas menciptakan kemakmuran, keamanan, kenyamanan dan keharmonisan. Apalagi, pendiri Muhammadiyah Kiyai H Ahmad Dahlan meminta hidup hiduplah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.
Apalagi menyeret nyeretnya Muhammadiyah ke ranah politik, yang pada gilirannya bakal mengerdilkan dan merugikan Muhammadiyah sebagai Ormas Islam kelas wahid di muka bumi ini. Maka, cerdaslah kader Muhammadiyah dalam menentukan pilihannya siapa pemimpin Muhammadiyah Kota Padang satu periode ke depan. Karena, musim politik telah menjelang, tentu rawan terseret ambisi politik, yang bisa merusak visi dan misi dari Muhammadiyah. Serta rawan terhadap pelanggaran kepada AD ART perserikatan Muhammadiyah. (* *)







