PADANG – Gubernur Sumatera Barat membuka pelatihan penyusunan rencana kontingensi bencana tahun 2026. Kegiatan berlangsung di Aula BPSDM Sumbar, Senin (6/4/2026).
Kegiatan dihadiri unsur Forkopimda, perwakilan BPBD, Kepala BPSDM, unsur akademisi, relawan kebencanaan, organisasi masyarakat.
Ia menyebut Sumatera Barat memiliki tingkat kerawanan bencana tinggi. Ancaman meliputi bencana geologi dan hidrometeorologi.
Ia menjelaskan tren bencana meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Banjir, banjir bandang, tanah longsor, cuaca ekstrem, gelombang pasang terjadi dengan frekuensi dan dampak lebih besar.
“Seringnya terjadi bencana di Sumbar menjadi dasar dalam penyusunan dokumen rencana kontingensi bencana di Sumbar,” katanya.
Ia menegaskan dokumen rencana kontingensi menjadi pedoman penting. Dokumen tersebut mengarahkan kebijakan penanganan bencana secara terstruktur.
“Kami berharap dokumen yang dibuat nanti bisa didiskusikan dengan baik sehingga bisa menjadikan peluang bersama dalam menangani bencana yang ada di Sumbar,” ujarnya.
Ia menekankan penyusunan rencana kontingensi harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Tahapan mencakup sebelum, saat, dan setelah bencana.
Ia mengungkap peristiwa bencana hidrometeorologi besar terjadi pada akhir November 2025. Banjir bandang dan longsor dipicu curah hujan ekstrem serta fenomena siklon tropis.
“Peristiwa ini memberikan pelajaran penting bagi kita semua bahwa kesiapsiagaan menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko bencana,” ucapnya.
Kepala BPSDM Sumbar menyebut dokumen rencana kontingensi penting bagi daerah rawan bencana. “Dengan adanya dokumen renkon, seluruh komponen akan mengerahkan sumber daya, logistik, dan peralatan saat tanggap darurat bencana,” katanya. Ia menegaskan pentingnya kolaborasi pemerintah, TNI, Polri, dunia usaha, akademisi, media, masyarakat dalam membangun sistem penanggulangan bencana yang tangguh. (Bdr)







