PADANG – PT Indonesia Fintopia Technology (Easycash), platform pinjaman daring (pindar) berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), terus berkomitmen untuk mendorong peningkatan literasi keuangan kepada masyarakat. Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan Easycash melalui pengenalan Modul Bijak Keuangan (MOJANG) kepada mahasiswa dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam kegiatan Indonesia Fintech Youth Community (INFINITY) dan Fintech UMKM Jalan Terus (FULUS) 2026 yang diinisiasi oleh Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) di Padang, Sumatera Barat (Sumbar).
Berdasarkan data OJK per Agustus 2026, indeks inklusi keuangan masyarakat Sumbar telah mencapai angka 95,3%, sementara indeks literasi keuangannya masih 76,6%. Selisih 19% kedua indeks tersebut menunjukkan perlunya penguatan pemahaman masyarakat seiring dengan semakin luasnya akses terhadap layanan keuangan. Sebagai perbandingan, secara nasional indeks inklusi keuangan juga tercatat sebesar 93,61% dan 69,57% untuk literasi keuangannya.
Untuk mendukung peningkatan literasi tersebut, AFTECH menyelenggarakan dua program edukasi di Padang, yakni FULUS yang menyasar pelaku UMKM di Padang pada 4 November dan INFINITY yang ditujukan bagi mahasiswa dan berlangsung di Universitas Andalas pada 5 November. Mengangkat tema “Fintech untuk Masa Depan Keuangan Digital: Kenali Manfaat serta Risiko Penggunaannya”, kedua program tersebut diikuti oleh lebih dari 200 peserta. Melalui partisipasinya, Easycash membawa materi MOJANG untuk membantu peserta memahami manfaat, risiko, serta pertimbangan penting dalam menggunakan layanan keuangan digital.
Director of External Engagement & Membership, Abynprima Rizki mengatakan generasi muda dan pelaku UMKM merupakan kelompok penting dalam pengembangan ekosistem ekonomi digital sehingga perlu mendapatkan edukasi keuangan yang relevan dengan kebutuhan masing-masing.
“Generasi muda dan UMKM memiliki peran krusial dalam mendorong pertumbuhan ekonomi digital di masa depan, sehingga penting bagi mereka memiliki bekal pengetahuan keuangan yang memadai. Melalui kolaborasi dengan anggota kami seperti Easycash, AFTECH berupaya mendorong pemerataan edukasi keuangan digital yang dapat menjangkau lebih banyak masyarakat dan turut mewujudkan inklusi keuangan yang sehat dan berkelanjutan,” ujar Abynprima.
Head of Corporate Affairs Easycash, Wildan Kesuma, mengatakan penguatan literasi keuangan perlu didukung oleh materi edukasi yang mudah dipahami, praktis, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Capaian inklusi di Sumbar menjadi modal yang baik dalam memperluas akses layanan keuangan. Namun peningkatan literasi diperlukan agar masyarakat mampu menggunakannya secara bijak dan bertanggung jawab. Dengan berpartisipasi pada program INFINITY dan FULUS ini, kami ingin menjangkau mahasiswa dan UMKM dengan materi edukasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka, sekaligus mendorong terbentuknya kebiasaan finansial yang sehat dalam kehidupan sehari-hari maupun kegiatan usaha,” ujar Wildan.
Dari Transaksi Digital hingga Dana Darurat
Dalam program INFINITY, mahasiswa dibekali pemahaman mengenai penggunaan layanan keuangan digital secara bijak, mulai dari membedakan Pindar berizin dan diawasi OJK dengan pinjol ilegal, memahami biaya atau manfaat ekonomi, hingga menyesuaikan penggunaan produk dengan kemampuan finansial.
Melalui MOJANG, peserta juga diajak memahami pengelolaan keuangan sederhana, seperti menyusun anggaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, menyiapkan dana darurat, serta menggunakan metode 50-30-20 sebagai salah satu referensi. Salah satu peserta dari Fakultas Hukum Universitas Andalas, Ilham, menilai materi tersebut relevan dengan kondisi mahasiswa, terutama mereka yang merantau.
“Sebagai mahasiswa yang merantau, sebagian besar uang yang saya kelola masih berasal dari orang tua. Dari sesi ini, saya jadi lebih memahami bagaimana mengatur arus kas, termasuk mengenal metode 50-30-20 melalui MOJANG. Materinya relevan dengan cara kami sebagai mahasiswa mengelola uang sehari-hari,” ujar Ilham.
Dari Arus Kas hingga Pembiayaan Usaha
Berdasarkan data Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumatera Barat tahun 2025 yang dikutip OJK, terdapat 740.347 UMKM di Sumatera Barat, terdiri atas 738.322 usaha mikro, 1.750 usaha kecil, dan 275 usaha menengah. Besarnya jumlah tersebut menunjukkan pentingnya dukungan terhadap peningkatan kapasitas, literasi keuangan, akses pembiayaan, digitalisasi, serta keberlanjutan usaha UMKM di daerah.
Dalam sesi FULUS, pelaku UMKM diajak melihat keputusan pendanaan dari kondisi usaha, mulai dari pencatatan arus kas dan kemampuan bayar hingga tujuan penggunaan dana, legalitas Penyelenggara, manfaat ekonomi, dan tenor.
Peserta juga diingatkan bahwa pendanaan untuk usaha belum tentu produktif jika tujuan dan sumber pembayarannya tidak jelas. Tambahan dana idealnya mendukung aktivitas usaha dan tetap sesuai dengan kemampuan arus kas.
Devi, pemilik UMKM Risol Cemilan Raja, menilai sesi tersebut membantu memberikan pemahaman yang lebih terarah mengenai pengelolaan keuangan usaha.
“Acara hari ini memberikan pemahaman yang lebih baik bagi kami sebagai pelaku UMKM, terutama dalam mengatur arus kas. Materinya membantu kami melihat pengelolaan keuangan usaha dengan lebih terarah,” ujar Devi.
Kontribusi Pindar terhadap pembiayaan UMKM juga terus meningkat. OJK mencatat penyaluran pembiayaan Pindar kepada sektor UMKM hingga Juni 2026 mencapai Rp35,12 triliun, tumbuh 23,25% secara tahunan (year-on-year/yoy) dan setara dengan sekitar 33,41% dari total pembiayaan industri Pindar pada periode tersebut.
MOJANG merupakan modul literasi keuangan yang disusun Easycash bersama AFTECH dan IARFC Indonesia untuk membantu masyarakat memahami pengelolaan keuangan, penggunaan produk keuangan, risiko pendanaan, hingga pentingnya reputasi kredit. Modul tersebut dapat diunduh secara gratis melalui easycash.id/mojang.
“Kami berharap kolaborasi dengan AFTECH, OJK, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya dapat terus diperkuat agar perluasan akses keuangan berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas literasi masyarakat. Bagi Easycash, inklusi yang sehat bukan hanya soal semakin banyak masyarakat memiliki akses terhadap layanan keuangan, tetapi juga semakin mampu memahami dan menggunakannya secara bijak,” tutup Wildan.(bdr)







