Opini

Saling Injak, Walaupun 81 Tahun Merdeka

1
×

Saling Injak, Walaupun 81 Tahun Merdeka

Sebarkan artikel ini

Oleh:Dasman Boy Dt Rj Dihilie

(Wartawan Utama)

SETIAP, 17 Agustusan memeriahkan perayaan kemerdekaan di tengah tengah masyarakat, kita selalu dipertontonkan dengan pertunjukan panjat pinang. Selain panjat pinang, ditambah dengan kebolehan peserta balapan karung, balapan makan kerupuk dan berbagai lomba rakyat lainnya.

Khusus, lomba panjat pinang setiap HUT Kemerdekaan, tak terbantahkan selalu masif digelar di setiap kampung maupun di setiap komplek perumahan. Lomba, ini bagi masyarakat Minang difinisikan dengan dua makna tersirat dan tersurat.

Namun, untuk menghelat lomba panjat pinang ini masyarakat terutama generasi muda selalu keliling kampung sembari mengusung list sumbangan dan proposal. Kegiatan seperti mengemis keliling kampung ini selalu dijumpai setiap kampung dan komplek.

Bahkan, aktivitas meminta sumbangan untuk perayaan kemerdekaan lni sekaligus menyasar jalan raya, dengan pelakunya remaja dan anak – anak. Tentu, hal ini mau tak mau pengguna jalan raya merasa terganggu kenyamanannya, walaupun sempat kena serempet kendaraan. Meminta sumbangan di jalanan ini masif ditemukan di jalan raya jelang hari “H” perayaan kemerdekaan.

Akan tetapi, melihat fenomena ini sering terdengar ungkapan ringan dari mulut masyarakat yang sedikit kritis. Kenapa t dari puluhan tahun negeri ini merdeka (81 tahun-red), untuk menggelar perayaan kemerdekaan saja masyarakat selalu mengemis menghimpun dana untuk melaksanakan acaranya.

Baca Juga:  Tongkat Estafet Buat Pemimpin

Puluhan tahun pemangku negeri mengelola sumber daya alam (SDA) dan berbagai pajak yang “sebalik pinggang” apakah tak bisa disisihkan bagi masyarakat untuk melaksanakan perayaan kemerdekaan. Apa pula kontribusinya orang – orang kaya triliuner itu dalam perayaan kemerdekaan ini terutama dalam membantu masyarakat.

Ironis jua, setiap perayaan kemerdekaan masyarakat di bawah secara tersirat mempertontonkan si miskin berebut hadiah, yang merupakan acara peninggalan penjajah . Karena panjat pinang tersebut secara historis adalah acara yang dihelat kolonial Belanda, yang mempertontonkan pribumi yang untuk mendapatkan hadiah, yang digantung berupa beras, gandum, rotii dan kebutuhan pokok lainnya.

Peserta panjat pinang itu berlomba – lomba hadiah yang begitu mewah di masa penjajahan itu. Meneka pribumi saling renggut, saling Injak untuk mendapatkan hadiah yang cukup bernilai tinggi. Sedangkan, kaum penjajah menonton sambil tertawa dibawah tenda yang disediakan.

Sebab, secara sejarah, lomba panjat pinang pertama kali dilaksanakan kolonial di Batavia, Jakarta sekarang.
Sementara akarnya secara global tercatat pertama kali pada masa Dinasti Ming di Tiongkok. Sejarah di masa Kolonial Belanda dikenal dengan nama de klimmast yang berarti memanjat tiang. Diadakan pada acara-acara besar kolonial seperti hajatan, pernikahan atau perayaan ulang tahun Ratu Belanda, Wilhelmina (tiap tanggal 31 Agustus).Pesertanya adalah orang pribumi, sementara kaum penjajah menonton dari bawah tenda sebagai hiburan. Mereka merasa terhibur sambil tertawa terbahak – bahak menyaksikan pribumi berlomba – lomba berebut hadiah.

Baca Juga:  Nasionalisme dan Kebangsaan, Refleksi Kemerdekaan RI ke-80

Hadiah yang diperebutkan adalah barang-barang kebutuhan pokok yang saat itu menjadi barang mewah bagi rakyat kecil, seperti beras, gula, roti, dan pakaian. Sedangkan pada akar dalam Budaya Tionghoa permainan serupa yang disebut qiang-gu sudah tercatat sejak era Dinasti Ming di wilayah Fujian dan Guangdong.Tradisi tersebut berkaitan dengan ritual atau perayaan Festival Hantu sebelum akhirnya menyebar ke berbagai wilayah termasuk Asia Tenggara.

Perlu dipahami lebih dekat kilas balik sejarah dan makna di balik tradisi panjat pinang ini tak terlepas acara bagi penjajah untuk menikmati pribumi yang miskin berebut hadiah. Tentu sangat ironi sekali eksploitasi kemiskinan ini dipertontonkan secara masif setiap perayaan kemerdekaan dinikmati masyarakat keias bawah.

Sepatutnya, setiap HUT Kemerdekaan ini masyarakat menikmati hari ulang tahun negara menikmati hasil kemerdekaan dengan gembira sembari menikmati makanan, yang disediakan pengelola negara. Kemudian, sambil menyaksikan pertunjukan yang lebih mendidik. Atau pertunjukan lebih mendidik masyarakat agar termotivasi hidup iebih layak. Tidak laqi atraksi si miskin berebut hadiah Sembako peninggalan penjajah. (*)