Peristiwa

Dukungan Psikososial Kemkomdigi Pulihkan Trauma Anak Terdampak Banjir di Sumatra

123
×

Dukungan Psikososial Kemkomdigi Pulihkan Trauma Anak Terdampak Banjir di Sumatra

Sebarkan artikel ini
Kemkomdigi bersama Save the Children menghadirkan Mobil Dukungan Psikososial pemulihan psikososial bagi anak terdampak banjir di Padang, Medan, dan Aceh Sabtu (6/12/2025).Ist

PADANG – Kemkomdigi bersama Save the Children menghadirkan Mobil Dukungan Psikososial pemulihan psikososial bagi anak terdampak banjir di Padang, Medan, dan Aceh Sabtu (6/12/2025). Program ini memfokuskan pendampingan bagi kelompok rentan melalui aktivitas kreatif yang menurunkan kecemasan dan memulihkan rasa aman.

Sebanyak 102 anak dari Lingkungan 8, Kelurahan Belawan Bahagia, mengikuti kegiatan menggambar, mewarnai, permainan kelompok, serta sesi mendongeng sebagai bagian dari pemulihan pascabencana.

Ketua Tim Kemkomdigi, Taofiq Rauf, menegaskan pemulihan tidak cukup mengandalkan perbaikan infrastruktur. Ia menyebut dukungan kesehatan mental bagi anak harus menjadi prioritas. “Pendekatan ini sejalan dengan mandat Kemkomdigi dalam memperkuat komunikasi publik yang inklusif dan responsif di wilayah terdampak,” ujar Taofiq Rauf.

Fasilitator Save the Children, Syahferi Anwar, menyampaikan anak di wilayah terdampak umumnya mengalami ketakutan ekstrem pada fase awal pascabencana. Ia menilai suara hujan menjadi pemicu utama. “Begitu hujan turun, yang mereka cari pertama adalah orang tua. Objek lekat mereka terguncang,” ujar Syahferi.

Ia membandingkan kondisi tersebut dengan anak pesisir yang lebih terbiasa dengan banjir musiman. Ia mencontohkan situasi di Tamiang, wilayah longsor dampingan mereka, ketika anak masih menolak berkumpul dua hari pascakejadian. “Mereka takut. Saat bertemu orang baru, mereka tambah cemas. Pendekatan harus perlahan,” jelasnya.

Syahferi memaparkan metode pendampingan dilakukan melalui tahap pengenalan, kegiatan inti, dan fase transisi yang memastikan anak tidak kembali ke trauma awal. “Jangan sampai anak sudah stabil lalu kita pergi dan mereka kembali ke trauma awal. Itu yang kami hindari,” katanya.

Baca Juga:  DPC Grib Jaya Bukittinggi Berharap Kolaborasi dengan Pemerintah Terlaksana

Untuk anak yang terpisah dari orang tua, pendamping menggunakan Psychological First Aid. Anak didekati bertahap sambil dipantau emosinya. “Kalau anak tertutup, jangan dipaksa bicara. Kita ikuti ritmenya. Identitas tetap kami kumpulkan melalui Restory Family Link,” jelasnya.

Ia menambahkan idealnya satu fasilitator mendampingi 10–20 anak dalam satu sesi. Kapasitas dapat ditingkatkan hingga 30 anak untuk kegiatan luar ruang.

Di Aceh, kegiatan dukungan psikososial Komdigi diikuti oleh 218 anak perempuan, 194 anak laki-laki, serta 88 pendamping. Kegiatan berlangsung di Posko Pengungsian Meunasah Krueng, Manyang Cut, Meuredeu Pidie Jaya, Minggu (7/12). Hari berikutnya kegiatan berlanjut di Grong-Grong Capa diikuti 158 anak, kemudian di Balee Panah diikuti 112 anak.

Di Padang, kegiatan berlangsung di tiga titik. Lokasi pertama berada di posko pengungsian Akademi Maritim Sapta Samudera, Lubuk Minturun, Jumat (5/11), diikuti 112 anak dan 32 pendamping. Lokasi berikutnya di SDN 02 Cupak Tengah dan Posko Guo Belimbing, Sabtu (6/12), diikuti 185 anak dan 45 pendamping.

Beragam aktivitas tersebut terbukti efektif memulihkan rutinitas dan kepercayaan diri anak. Kegiatan dinilai memperkuat interaksi sosial dan menurunkan kecemasan setelah bencana.

Baca Juga:  Pengurus LTPQ Bukittinggi Periode 2025-2030 Resmi Dikukuhkan

Pada sesi akhir, fasilitator melatih remaja dan warga menjadi relawan psikososial. Langkah ini bertujuan membangun ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana berulang.

Salah satu peserta, Raffi Faezah, mengaku senang mengikuti kegiatan. Ia menunjukkan gambar rumah dan truk hasil warnanya. “Aku suka gambar rumah dan truk,” ujarnya di akhir sesi.

Peserta lain, Amira, menyampaikan kegiatan menggambar dan mendengarkan dongeng menjadi bagian favoritnya.

Kemkomdigi memastikan program dukungan psikososial terus diperluas sebagai upaya mempercepat pemulihan nasional. Program ini juga memastikan komunikasi publik berjalan efektif dan berpihak pada kelompok rentan.

Kemkomdigi juga membangun posko dan Media Center di sejumlah wilayah. Upaya ini mencakup pemulihan jaringan telekomunikasi serta penyediaan ruang koordinasi darurat bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan.

Di Aceh, posko terpusat di Gedung Sekretariat Daerah Provinsi. Di Sumatra Barat, posko berada di Komplek Kantor Gubernur. Di Sumatra Utara, posko beroperasi di Gedung Kwarda Gerakan Pramuka Sumut, GOR Pandan Tapanuli Tengah, serta Posko Dukungan Psikososial di Hamparan Perak.

Seluruh posko berfungsi sebagai pusat informasi, ruang kerja jurnalis, titik konferensi pers, serta lokasi pemantauan jaringan telekomunikasi oleh Balai Monitoring. Posko juga menjadi ruang redaksi bersama untuk penyusunan narasi publik terkait penanganan bencana. (Bdr)