PADANG – Program Unggulan Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah dan Wakil Gubernur Vasco Ruseimy Nagari Creative Hub (NCH) mulai menunjukan hasil. Sejumlah aktivititas masyarakat di NCH sudah berjalan menuju arah lebih baik.
Seperti di Nagari Pangian, Kecamatan Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar. Di Pangian, antusias warga untuk menjadikan NCH sebagai pusat pertumbuhan Nagari terlihat jelas.
Ketua Satuan Tugas (Satgas) NCH Nagari Pangina, Zilnovita Zainal mengatakan secara umum keinginan warga Pangian menjadikan NCH pusat perekonomian cukup tinggi. Begitu juga menjadi pusat aktivitas budaya dan pemuda.
“Seluruh pelatihan yang berkaitan dengan kemajuan nagari sekarang kami arahkan ke sini agar manfaatnya lebih terasa bagi masyarakat,” ujarnya.
Hal itu disampaikannya saat menerima kunjungan dari Biro Administrasi Pimpinan (Adpim) Setdaprov Sumbar, Rabu (29/7/2026).
Katanya, konsep NCH ada lima fasilitas pokok yang harus tersedia. Yakni, internet gratis, Medan Balinduang, Medan Bapaneh, Teras Nagari dan Lapau Nagari.
Di Pangian katanya, tiga dari lima fasilitas tersebut sudah dimanfaatkan masyarakat. Seperti untuk medan nan Bapaneh, fasilitas ini sudah dimanfaatkan anak-anak muda untuk kegiatan kepemudaan, setiap minggu selalu ada kegiatan yang digelar.
Untuk medan Balinduang, juga ada kegiatan kebudayaan. Hingga kini sejak dibentuk dari akhir 2025 lalu sudah menggelar beberapa kali kegiatan kebudayaan yang diampu oleh Dinas Kebudayaan Sumbar. Begitu juga dengan latihan silat Pangian yang menjadi silat tradisi khusus Pangian.
“Untuk silat Pangian sudah jalan, setiap minggu latihan. Apalagi guru silat ini jumlah tinggal dua orang, jadi harus ada regenerasi agar tidak hilang,’paparnya.
Sementara untuk Lapau Nagari, NCH sudah membuat sejumlah akun untuk pemasaran produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Nagari Pangian. Hingga saat ini, enam produk unggulan Nagari Pangian telah berhasil dipasarkan melalui TikTok Shop. Produk tersebut di antaranya aneka sambal lado, rendang belut, minuman kesehatan berbahan serai, lemon dan jahe, kerajinan tangan, serta produk rajutan hasil karya kelompok perempuan.
Namun, pengelola mengakui transformasi digital masih berada pada tahap awal.
Nilai transaksi melalui TikTok Shop baru mencapai sekitar Rp380 ribu karena pelaku UMKM masih belajar memahami sistem pemasaran digital.
“Kami masih learning by doing. Anak-anak KKN dari Universitas Negeri Padang banyak membantu kami belajar mulai dari membuka akun, live TikTok, menerima pesanan sampai sistem pembayaran,” katanya.
Kendala Pengawetan Produk
Di balik semangat digitalisasi, terdapat persoalan mendasar yang masih dihadapi sebagian besar pelaku UMKM, yakni daya tahan produk pangan.
Mayoritas produk unggulan berupa kuliner tradisional seperti sambal memiliki masa simpan yang relatif singkat sehingga sulit dipasarkan secara luas melalui platform daring.
Berbeda dengan rendang belut yang mampu bertahan hingga sekitar dua bulan, sebagian besar produk lain masih membutuhkan inovasi teknologi pengawetan.
“Kendala terbesar kami bagaimana produk makanan ini bisa tahan lama. Kalau rendang belut relatif aman, tetapi sambal dan produk lainnya masih perlu teknologi pengawetan agar bisa dipasarkan lebih luas,” ujarnya.
Karena itu, selain pendampingan pemasaran, pelaku UMKM berharap adanya dukungan teknologi pangan agar produk lokal memiliki daya saing yang lebih tinggi. Selain persoalan produk, pengelola NCH juga mengakui keterbatasan sumber daya manusia menjadi tantangan berikutnya.
Kemampuan menjadi host live shopping, mengelola marketplace hingga strategi digital marketing masih sangat terbatas. Padahal, pemasaran digital dinilai menjadi pintu masuk memperluas pasar UMKM Sumatera Barat.
“Kami juga masih kekurangan host. Anak-anak muda memang lebih cepat memahami teknologi, sehingga pelatihan digital marketing menjadi kebutuhan yang sangat penting,” katanya.
Meski penjualan daring masih berkembang, sejumlah produk UMKM Nagari Pangian sebenarnya telah berhasil menembus pasar modern. Minuman kesehatan berbahan serai-lemon-jahe serta rendang belut kini telah dipasarkan di salah satu pusat oleh-oleh di Kota Padang. Namun tantangan berikutnya adalah menjaga kontinuitas produksi.
“Kalau produksinya tidak konsisten, produk bisa langsung dihentikan dari jaringan pemasaran. Jadi bukan hanya kualitas, tetapi kesinambungan produksi juga harus dijaga,” jelasnya.
Dari hasil kunjungan lapangan, terlihat bahwa Nagari Creative Hub tidak berhenti sebagai pembangunan fisik semata.
Program tersebut mulai berfungsi sebagai pusat aktivitas masyarakat, tempat lahirnya pelaku UMKM baru, ruang pelestarian budaya Minangkabau, sekaligus laboratorium transformasi digital di tingkat nagari.
Pemerintah nagari juga mulai mengarahkan berbagai program pemberdayaan agar terintegrasi dengan aktivitas di Nagari Creative Hub.
Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setdaprov Sumbar Nolly Hendra menegaskan pembangunan tidak hanya diwujudkan melalui program pemerintah, tetapi juga melalui komunikasi publik yang sehat.
Menurutnya, masyarakat berhak memperoleh informasi pembangunan secara utuh sehingga dapat mengetahui berbagai capaian sekaligus memberikan masukan bagi penyempurnaan kebijakan.
“Negara juga harus hadir melalui publikasi yang jujur, berimbang, dan saling menghargai. Media memiliki peran strategis agar masyarakat mengetahui apa yang sedang dibangun pemerintah sekaligus ikut mengawalnya demi kepentingan Sumatera Barat,” kata Nolly didampingi Kabag Makopim, Budi Arfi.
Ia berharap sinergi pemerintah dan media terus diperkuat sehingga berbagai program unggulan daerah, termasuk Nagari Creative Hub, dapat dipahami masyarakat secara objektif dan memberikan manfaat yang lebih luas.(Bdr)







