Peristiwa

Hancurnya Irigasi Gunung Nago Memicu Pengangguran dan Kemiskinan, Suyono: Pemko Dituntut Garcep Carikan Solusinya

9
×

Hancurnya Irigasi Gunung Nago Memicu Pengangguran dan Kemiskinan, Suyono: Pemko Dituntut Garcep Carikan Solusinya

Sebarkan artikel ini

PADANG – Putus dan hancurnya Irigasi Gunung Nago Pauh Kota Padang tidak saja berimbas menjeritnya petani, karena lahannya tidak bisa digarap, pasca banjir bandang yang melanda akhir 2025 lalu.

Akan tetapi juga berimbas kepada pelaku usaha peternak ikan air deras yang di bagian lahan yang dialiri Irigasi Gunung Nago Kanan. Ratusan kepala Keluarga (KK) mengalami kesulitan ekonomi mereka, karena usaha mereka tidak beroperasi lagi.

Hal ini dibenarkan Ketua Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) Gunung Nago Kanan Suyono, Jumat (15/5/2026).

Suyono tidak membantah, pasca banjir bandang yang menghantam Kota Padang akhir 2025 lalu, merusak sarana jalan dan jembatan serta Insfrastruktur pertanian irigasi sawah. Sehingga menyisakan ekonomi masyarakat semakin berat dan sulit.

Tidak itu saja, juga menambah jumlah pengangguran di kota yang berjuluk Ranah Bingkuang ini. Kenapa tidak, masyarakat yang bekerja di sektor pertanian di aliran Gunung Nago Kanan ini mencapai lebih kurang 500-an KK tentu jiwanya lebih banyak lagi.Yang usaha mereka di sektor pertanian.

Baca Juga:  Dua Orang Kasus Positif Covid 19 di Tanahdatar Sembuh

“Belum lagi pelaku usaha yang bergerak sebagai peternak ikan air deras, tentu berjumlah ratusan orang pula” ujar Suyono.

Dikatakan, pelaku UMKM ini sebelumnya mayoritas berusaha di aliran Gunung Nago Kanan sekitar Lambuang Bukik Kecamatan Pauh, kemudian Kampuang Pinang Kuranji, Simpang Kuranji, Koronggadang dan Kalumbuk Kecamatan Kuranji. Bahkan, sampai hingga ke Kecamatan Nanggalo

Hingga kini kolam atau keramba mereka tidak beroperasi lagi. Otomatis memicu kesulitan bagi sumber ekonomi mereka. Bisa jadi makin meningkatnya warga miskin di kota ini.

Di sisi lain, jika petani mengalihkan budidaya ke komoditi palawija, tentu konsekwensi modalnya besar dari bersawah. Komoditi palawija selain modal besar juga butuh perawatan yang ekstra. Namun, hasilnya tidaklah sama dengan komoditi pangan (sawah – red).

Baca Juga:  Gubernur Mahyeldi Ingatkan Masyarakat Harus Tetap Waspada Terhadap Potensi Bencana

Hingga kini, Suyono mengaku belum ada perhatian dari Pemko Padang, terhadap petani jadi korban banjir bandang ini. Apakah berupa bantuan, berupa pupuk, bibit atau lainya bagi petani menanam palawija.

Apalagi, dalam waktu dekat musim penerimaan siswa baru bakal menjelang, kebutuhan masyarakat terutama masyarakat petani yang lahan tak bisa digarap itu makin “tapakiek” dengan beban ekonomi. Tentu, dalam hal ini Pemko Padang segera Garcep (gerak cepat) menanggulangi kesulitan masyarakat ini.

Suyono sarankan, pemerintah mencarikan solusi agar sawah bisa digarap kembali dengan memasang pipa dari jembatan Gunung Nago hingga ke gedung SD Lambuang Bukik dengan mamasang tiang. Menjelang Irigasi Gunung Nago dibangun secara permanen. (drd)