Peristiwa

Ratusan Hektar Sawah Telantar, Petani Harapkan Dewan Peduli dengan Jeritan Mereka

22
×

Ratusan Hektar Sawah Telantar, Petani Harapkan Dewan Peduli dengan Jeritan Mereka

Sebarkan artikel ini

PADANG – Eks Ketua Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) Irigasi Gunung Nago Kanan Pauh Kota Padang Zul Akmal Naro Rj Jambi SSos mengharapkan, wakil rakyat yang duduk di parlemen Kota Padang ikut menyuarakan petani yang ratusan hektar lahannya tak bisa digarap, karena sumber airnya Irigasi Gunung Nago putus, akibat banjir bandang akhir 2025 lalu.

Karena saat ini, lebih kurang 500 kepala keluarga (KK) yang sumber pangannya berasal dari lahan tak bisa digarap itu makin menjerit di tengah ekonomi yang berat dan sulit.

“Oleh karena itu diharapkan wakil rakyat yang duduk di parlemen Kota Padang untuk peduli terhadap mereka, agar mencarikan solusinya. Setidaknya, mendorong eksekutif dalam hal ini Pemko Padang untuk melakukan jemput bola ke Pemprov Sumbar maupun ke pusat,” ujar Naro panggilan akrab pria ini, Selasa (12/5/2026).

Diharapkan Naro, mereka masyarakat yang menjerit karena sumber ekonomi dan pangannya mereka ambruk akibat dampak Irigasi Gunung Nago hancur, tentu mereka butuh bantuan legislator mendengarkan jeritan mereka. Dan mempasilitasi kesulitan mereka agar dicarikan jalan keluarnya.

Baca Juga:  Tim SAR Lantamal II Ikut Pencarian dan Penyelamatan Korban Laka Lantas Sungai Baremas

“Setidaknya mereka legislator tersebut ikut bersuara di media agar Pemko Padang segera bergerak cepat untuk sitawa memberikan sidingin bagi petani kesulitan ini,” lirih Naro.

Tidak anggota parlemen saja, Naro juga berharap, organisasi masyarakat atau organisasi underbownya pemerintah soal pertanian, ikut bergerak menyuarakan atau mendorong Pemko Padang segera gerak cepat (Garcep), untuk mencarikan solusi masalah petani, di antara persoalan kota lainya.

Sekarang petani bingung, pasca lahan mereka tak bisa digarap, walaupun bisa dialihkan menanam palawija. Namun, mereka akan dihadapkan dengan modal, untuk membeli bibit, pupuk dan modal menggarapnya. Apalagi, saat ini segala harga naik, untlan mendapatkan finansial sulit dan nilainya tak sesuai kebutuhan.

“Kesulitan di dalam kondisi ekonomi berat ini adalah sebelumnya mereka tak membeli beras, sekarang membeli beras,” beber Naro.

Salah warga Pauh IX Jaf (25)yang notabene Padang Pinggiran Kota (Papiko) menuturkan, soal urusan dapurnya makin berat di sela – sela ekonomi berat ini.” Sebelumnya masalah pangan (beras) tinggal minta sama toke, di mana saat panen nanti tinggal ditombok dengan hasil panen,” ucap Jaf.

Baca Juga:  Salurkan Bansos, Pemko Bukittinggi Terus Dorong Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Kini masalahnya, toke enggan memberikan piutangnya, karena sawah tak bisa digarap karena ketiadaan air yang mengairi sawah. Sehingga mau tak mau terpaksa membeli. Kalaupun mengutang beras ke tetangga juga mengalami masalah yang sama dengan, lahannya kini juga terlantar.

“Dengan harapan yang besar pada parlemen maupun eksekutif (dewan dan pemko – red) untuk mencarikan solusinya cepat agar sawah kami bisa digarap. Dan Pemko hendaknya memberikan informasi via media sampai di mana progres usaha mereka mencarikan solusinya,” harap Jaf.

Lahan yang terdampak hancurnya Irigasi Gunung Nago mengakibatkan, 300 ha sawah telantar tidak bisa digarap. Namun, seluas 300 ha membuat lebih kurang 500 KK pangan mereka terdampak. Ratusan KK meliputi 3 kecamatan, yakni Kecamatan Pauh, Kecamatan Kuranji dan Kecamatan Nanggalo. (drd)