Peristiwa

Pasca putusnya Irigasi Gunung Nago, Ratusan Petani Menjerit, 300 Ha Sawah Terlantar

2
×

Pasca putusnya Irigasi Gunung Nago, Ratusan Petani Menjerit, 300 Ha Sawah Terlantar

Sebarkan artikel ini

PADANG – Sebagian besar petani di kawasan Kecamatan Kuranji dan Kecamatan Nanggalo menjerit pasca putusnya Irigasi Gunung Nago, akibat banjir bandang akhir tahun 2025 lalu. Pasalnya, lebih kurang 600 KK yang terdiri dari petani, ekonomi mereka semakin sulit dan berat.

Diperkirakan, mencapai lebih kurang 300 hektar (ha) lahan persawahan terlantar, tidak bisa digarap. Kalaupun dialihkan dengan menanam palawija, tentu mereka (petani) terbentur dengan modal.

“Sehingga, tak terbantahkan banyak sawah sebagai lahan pertanian terlantar telah ditumbuhi tanaman gulma yang sudah meninggi,” ucap Jun (50)salah seorang petani di kawasan Kuranji, Kamis (7/5/2026).

Kemudian, di tengah kondisi ekonomi yang cukup berat saat ini membuat masyarakat semakin sulit. Sebab, masyarakat yang selama ini bisa menggarap sawahnya otomatis tidak membeli beras.

Baca Juga:  3 Mantan Wako Bukittinggi dan Ratusan Orang Hadir di Pemakaman Hj Noni

Tapi, sekarang sawah tak bisa digarap karena, pasokan air irigasi Gunung Nago putus, memaksa mereka membeli beras. Parahnya, lagi ketika sawah masih bisa digarap toke (pemilik huller – red) mau memberikan piutang beras. Kini, toke mau lagi memberikan piutang kepada petani, dengan alasan modal bakal lama terbenam.

Kalau lahan dialihkan dengan menanam palawija, tentu dihadapkan dengan modalnya yang besar. Selain itu, tidak semua lahan bisa dimanfaatkan sebagai ladang.

Dengan kondisi petani yang sulit saat ini mereka mengharapkan pemerintah, untuk mencarikan segera solusi masalah irigasi Gunung Nago ini sehingga bisa kembali mengairi sawah masyarakat. “Apalagi, dalam waktu dekat musim penerima siswa baru sekolah (SPMB), tentu masyarakat akan membutuhkan finansial,”ujar Jun.

Baca Juga:  Cuaca Ekstrem Ancam Padang, 5 Mahasiswa Terjebak di Sungai Bangek

Selain itu, petani mengharapkan bantuan dari pemerintah, seperti bantuan modal, pupuk dan bibit sehingga lahan yang teraliri air bisa ditanam palawija.

Lahan aliran Irigasinya berasal dari Gunung Nago ini meliputi dua kecamatan, yaitu Kecamatan Kuranji dan Kecamatan Nanggalo dengan luas diperkirakan mencapai 300 ha. Sehingga, dikalkulasikan mencapai lebih kurang 600 KK, yang bergantung ekonominya di lahan tersebut. Maka masyarakat petani yang lahannya terlantar ini, meminta segera pemerintah (Pemprov Sumbar dan Pemko Padang) mencarikan solusinya.

“Pertanyaannya sampai kapan sawah mereka bisa digarap kembali, karena hingga saat ini belum ada kebijakan dari pemerintah dalam upaya jmemperbaiki irigasi Gunung Nago tersebut,” ucap Jun. (drd)