JAKARTA — Peringatan Hari Bakti Pemasyarakatan kembali menjadi kesempatan baik untuk merefleksikan peran negara dalam menghadirkan keadilan yang berkeadaban. Dengan mengusung tema ‘Pemasyarakatan Kerja Nyata, Pelayanan Prima’, semangat pembinaan dan pemulihan martabat manusia kembali ditegaskan sebagai inti dari sistem pemasyarakatan di Indonesia.
Anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi Partai NasDem, Dr. (H.C) Ir. M. Shadiq Pasadigoe, SH., MM, mengungkapkan pernyataannya bahwa pemasyarakatan sejatinya bukan sekadar proses menjalani hukuman, tetapi perjalanan kemanusiaan untuk menemukan kembali jati diri.
“Pemasyarakatan adalah cermin peradaban. Di sanalah negara diuji, apakah mampu memperlakukan manusia dengan adil, bahkan ketika mereka pernah melakukan kesalahan,” ujar Shadiq dalam keterangannya, Senin (27/4/2026).
Ditambahkan Legislator NasDem dari Dapil Sumatra Barat I itu, sistem pemasyarakatan yang baik harus berpijak pada nilai keadilan, kemanusiaan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Menurutnya, pendekatan yang humanis akan membuka ruang bagi warga binaan untuk kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik.
Dalam refleksi yang lebih mendalam, M. Shadiq juga mengaitkan nilai pemasyarakatan dengan perjalanan sejarah dan pengalaman keluarga. Ia mengungkapkan bahwa ayahandanya pernah mengalami masa pengasingan dan penahanan di wilayah Boven Digoel, Papua—sebuah tempat yang dalam sejarah Indonesia dikenal sebagai lokasi pembuangan tokoh-tokoh bangsa.
“Dari sejarah itu kita belajar, bahwa di balik keterbatasan dan penderitaan, selalu ada harapan. Bahwa manusia tidak boleh dihakimi selamanya oleh masa lalunya. Setiap insan memiliki ruang untuk berubah dan memperbaiki diri,” tegasnya.
Secara filosofis, ia menegaskan bahwa pemasyarakatan adalah tentang memanusiakan manusia. Bahwa hukum bukan semata-mata untuk menghukum, tetapi untuk menuntun. Bukan sekadar memberi batas, tetapi membuka jalan kembali.
“Hukum tanpa kemanusiaan akan kehilangan makna, dan pemasyarakatan tanpa harapan akan kehilangan arah. Maka di sinilah negara harus hadir, bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai penjaga nilai-nilai kemanusiaan,” tambahnya.
Peringatan Hari Bakti Pemasyarakatan diharapkan menjadi penguat komitmen seluruh pemangku kepentingan untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan, pembinaan, serta perlindungan hak warga binaan.
Dengan demikian, sistem pemasyarakatan dapat benar-benar menjadi sarana transformasi sosial yang membawa manfaat nyata bagi masyarakat.
Sebagai penutup, M. Shadiq mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan momentum ini sebagai titik tolak memperkuat nilai empati dan keadilan.
“Karena sejatinya, ukuran kemajuan sebuah bangsa tidak hanya dilihat dari kemegahannya, tetapi dari bagaimana ia memperlakukan mereka yang pernah jatuh, lalu diberi kesempatan untuk bangkit kembali,” pungkasnya. (*/drd)







