Sumatera Barat

HUT TNI AL ke-80, Amanat KSAL Melalui Dankodaeral II Sebut Kehadiran KRI Brawijawa – 320 Kebanggaan Bersama

285
×

HUT TNI AL ke-80, Amanat KSAL Melalui Dankodaeral II Sebut Kehadiran KRI Brawijawa – 320 Kebanggaan Bersama

Sebarkan artikel ini

PADANG, – Komandan Komando Daerah TNI Angkatan (Dankodaeral) II Laksamana Muda TNI Sarimpunan Tanjung yang bertindak sebagai Inspektur Upacara (Irup) pada pelaksanaan upacara  memperingati HUT TNI AL yang ke 80 di ikuti  seluruh prajurit Kodaeral II, Rab(10/09/2025).

Amanat Kepala Staf TNI AL (KSAL) Laksamana TNI DR Muhammad Ali.SE.,MM.,M.Tr.Opsla yang dibacakan Dankodaeral II menyampaikan, tepat pada 80 tahun silam TNI Angkatan Laut dibentuk dengan berawal dari Badan Keamanan Rakyat (BKR) Laut, tepatnya tanggal 10 September 1945. Kemudian berkembang menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Laut. Dengan perkembangan waktu berobah menjadi Tentara Republik Indonesia (Tri) Laut. “Hingga akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1947 berobah menjadi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL, ” ujar Dankodaeral II Padang.

Katanya, kemudian berbagai pencapaian TNI AL di Medan tugas, prestasi dan kinerja TNI AL telah mendapatkan pengakuan dan apresiasi positif dari masyarakat. Hal ini dievaluasi sebagai bahan evaluasi selanjutnya. Upaya ini merupakan dedikasi TNI AL dalam mewujudkan tugas ,visi TNI AL yang modern berdaya gentar kawasan dan proyeksi global untuk mendukung Indonesia maju menuju Indonesia emas.

Berbagai tugas TNI AL ke depan sekaligus sudah melaksanakan berbagai langkah strategis, melalui validasi organisasi sebagai pembentukan organisasi baru, dengan peningkatan Lantamal menjadi Kodaeral. Dengan modernisasi kekuatan TNI AL juga telah mempromosikan kehadiran KRI Brawijaya -320 yang menjadi kebanggaan bersama.

Upacara yang dilaksanakan dengan penuh khidmat, dihadiri oleh Wadankodaeral II Kolonel Laut (P) Mulyadi SE., CRMP., M.Tr.Opsla., Pejabat Utama dan Kasatker Kodaeral II.. (drd)

Baca Juga:  Rakor Stunting di Sijunjung, Pemprov Sumbar Fokus Tekan Risiko pada 20 Ribu Keluarga