Opini

Tiga Setengah Abad Kota Padang, Saatnya Mengejar Ketertinggalan

627
×

Tiga Setengah Abad Kota Padang, Saatnya Mengejar Ketertinggalan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Dasman Boy Dt Rj Dihilie

(Wartawan Utama)

TANGGAL, 7 Agustus 2025 Kota Padang sudah berumur 356 tahun, sejak kota ini ditetapkan jadi daerah administrasi Kota Padang pada tahun 7 Agustus 1669 silam. Secara umur kota yang berjuluk Ranah Bingkuang ini telah memasuki usia tga setengah abad. Tentu kota ini lebih tua dari Kota Pekanbaru Ibukota Provinsi Riau, ditetapkan 23 Juni 1784 silam, yang saat ini berumur 241 tahun.

Namun, tak bisa dipungkiri secara pembangunan di sektor infrastruktur, Kota Bingkuang ini jauh tertinggal secara fisik maupun non fisik. Dan tak bisa disangkal, di sektor ekonomi Ibukota Provinsi Sumbar ini juga jauh tertinggal. Ironinya, kota ini sudah beberapa putaran tertinggal. Buktinya, kalau Kota Pekanbaru itu ditinggalkan sebulan, lalu kembali ke sana, maka bisa tersesat. Karena begitu cepatnya perubahan dampak dari pembangunan fisik.

Di satu sisi jika Kota Padang ini ditinggalkan selama satu tahun, lalu kembali lagi ke titik yang sama. Maka tidak akan pernah tersesat, sebab tidak ada pembangunan yang cukup signifikan.

“Maka dengan memomentum umur kota yang sudah berumur lebih dari 3,5 abad ini perlu peningkatan pembangunan fisik secara merata ke bagian timur Kota Padang. Juga tak kalah pentingnya membangun insfrastruktur ekonomi dalam upaya meningkatkan kesejahteraan warga kota.

Baca Juga:  Tongkat Estafet Buat Pemimpin

Sesuai dengan program unggulan/(Progul) pasangan Walikota Padang Fadly Amran – Maigus Nasir, tentu warga kota mengharapkan perubahan ke arah yang lebih Kota Padang ini. Di sisi pembangunan sarana dan prasarana jalan dan jembatan diharapkan merata sampai ke pinggiran kota, mengacu kepada Progul Padang Rancak dan Jeiajah Padang . Jangan ada lagi, kawasan pinggiran kota Padang (Papiko) yang tak tersentuh pembangunan jalan dan jembatan. Sebab, sarana ini merupakan urat nadi ekonomi masyarakat di kawasan Papiko.

Katanya, memang tak terlepaskan kota ini terlahirkan secara historis karena keheroikan para pandeka (pendekar-red) Urang Pauh yang menyerbu Loji VOC Belanda di Muara Kota Padang, tanggal 7 Agustus 1669 silam. Salah satu tokohnya Si Patai Rj Jambi, yang juga dijuluki Robin Hood Kota Padang zaman itu. Maka di samping itu tak tebantahkan Pauh dan nagari sekitarnya atau Padang Pinggiran Kota Padang (Papiko) pusek jalo pumpunan ikannya Kota Padang ini.

Maka, di sisi ekonomi tentu pemimpin kota ini lebih jeli lagi, untuk meningkatkan kesejahteraan warga kotanya. Tidak hanya cukup dengan tagline “UMKM Naik Kelas” yang hanya sekadar mengawal UMKM dan koperasi. Sementara, di kawasan Papiko warganya sebagian besar masih berlatar belakang ekonomi agraris.. Maka, insfrastruktur pertanian tidak diabaikan Pemko Padang. Apalagi mereka, penyokong ketahanan pangan, termasuk palawija dan sayur mayur warga kota.

Baca Juga:  Saganggam Sabimbiang Tangan

Tapi jika ditilik di kawasan Papiko masih banyak ditemukan sarana jalan berlubang lubang bahkan jalan tanah. Artinya, pembanguan infrastruktur sarana jalan di kawasan Papiko ini masih belum maksimal.

Di segi ekonomi untuk mewujudkan kesejahteraan warga kota, tentu tak hanya bisa ditanggulangi dengan kegiatan sebatas seremonial. Maka dituntut pemimpin kota ini memiliki networknya (jaringan – red) yang luas ke luar. Bagaimana, menyeret program yang ada di pusat atau investor ke kota ini untuk membangun perekonomian. Sehingga bisa membuka lowongan kerja. Jadi, link atau jaringan pemimpin kota ini jangan sampai di batas kota saja lalu hilang.

Karena pengangguran di kota ini setiap tahun kian bertambah. Karena sulitnya mendapatkan kesempatan kerja. Tak terbantahkan, mencari pekerjaan saat ini bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami. Tingkat pengangguran di Kota Padang pada tahun 2023 mencapai 10,86 persen atau pengangguran terbuka tercatat sebanyak 48.067 orang.

Jadi pasangan walikota dituntut kerja nyata, jangan sebatas seremonial dan wacana. Sebagai pemimpin yang dikenang warga nya adalah karyanya, yakni gajah mati maninggaan gadiang, Harimau mati maninggaan balang, pemimpin meninggal meninggalkan karya. (*)