SOLOK SELATAN – Praktek pertanian pada masa sekarang, memakai sistem pertanian modern yang lebih mengandalkan teknologi pertanian dan padat modal, diantaranya pupuk kimia, pestisida sintetis, benih hibrida, dan alat berat pertanian semakin mendominasi praktik pertanian.
Adapun pendekatan ini sering dipromosikan atas dasar peningkatan produksi, lalu dampak jangka panjangnya terhadap lingkungan dan kesejahteraan petani menjadi perhatian serius oleh beberapa pihak.
Pertanian modern ini telah menyebabkan muncul masalah akibat penggunaan bahan kimia berlebihan. Penurunan kualitas tanah dan air. Ketergantungan petani terhadap produk dan jasa pertanian komersial. Meningkatnya beban biaya produksi bagi petani kecil.
Melihat kondisi tersebut, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Barat (Sumbar) menggelar kegiatan Sekolah Lapang bertajuk “Sawah Pokok Murah” di Jorong Bukik Malintang Utara, Nagari Lubuak Gadang, Kecamatan Sangir, Solok Selatan, Rabu, (23/07/2025). Agenda ini merupakan bagian dari upaya untuk mendorong praktik pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan di tengah dampak negatif sistem pertanian modern yang padat modal.
Kegiatan akan berlangsung di Pondok Belajar Berkelanjutan di Sukabaru Jorong Bukit Malintang Utara, diikuti sekitar 50 petani yang punya lahan sawah dengan menghadirkan Direktur Eksekutif WALHI Sumbar, Wengki Purwanto dan Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Dinas Pertanian Kecamatan Sangir, Bahwanudin Batubara, Kelompok Pecinta Alam, dan undangan lainnya.
Pada kesempatan itu, WALHI Sumbar menyatakan bahwa pertanian intensif dan berbasis modal besar selama ini telah membawa dampak buruk terhadap lingkungan serta membebani masyarakat dalam pengelolaan wilayah pertaniannya.
Sebagai respon terhadap kondisi tersebut, WALHI Sumbar terus berupaya mengembangkan pendidikan dan pelatihan untuk menciptakan sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan dengan tingkat biaya yang rendah.
Direktur Eksekutif WALHI Sumbar, Wengki Purwanto, menyebutkan harapannya dan mengajak seluruh pihak yang diundang untuk terlibat aktif dalam mewujudkan pertanian berkelanjutan di wilayahnya .
Pihaknya memandang pentingnya mendorong kembali praktik pertanian ramah lingkungan, hemat biaya, dan berbasis kemandirian petani.
“Bagaimana kita membuat pertanian yang ramah lingkungan, tidak melulu bergantung pada kimia tapi hasilnya masih standar,”katanya.
Dia mengatakan, program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kapasitas petani dalam menerapkan sistem pertanian ekologis. Mengurangi ketergantungan terhadap input pertanian mahal dan berisiko tinggi. Membangun kembali sistem pertanian yang adil, lestari, dan berpihak kepada kepentingan rakyat.
Dengan menghadirkan model sawah yang murah, efisien, dan berbasis kebutuhan pokok petani, WALHI Sumatera Barat berharap dapat memperkuat gerakan pertanian berkelanjutan di tingkat lokal sekaligus berkontribusi pada upaya menjaga lingkungan hidup dan kedaulatan pangan.
Koordinator penyuluh pertanian Kecamatan Sangir Bahwanudin Batubara, mengatakan, program yang akan kita lakukan adalah “Basawah pokok murah” yaitu pengelolaan tanam padi dengan berbudidaya dengan musa jerami tanpa olah sawah.
“Sudah jelas ini akan menekan biaya produksi, ramah lingkungan dan menghemat waktu pengolahan,”jelasnya.
Selama ini, lanjutnya, untuk pengelola tanam padi biasanya pengelola terpadu, sistem SRI dan organik sawah.
“Sekarang dengan basawah pokok murah ini, kita berupaya bagaimana hasil besar dan bisa menekan biaya produksi,”pungkasnya. (afr)







