PERJALANAN, rombongan Ekspedisi Padang – Solok yang melibatkan 35 orang, selama menempuh rute perjalanan lima hari, lima malam, menyisakan banyak temuan yang menjadi catatan.
Di antaranya, salah seorang anggota tim yang nyaris terjun bebas ke jurang sedalam 30 meter. Serta, menemukan batu diyakini sebuah batu nisan. Diduga nisan tersebut nisan rombongan pejuang yang melalui rute itu di era perjuangan. Dan banyak lagi, temuan temuan saat menembus hutan belantara yang tersebut.
DASMAN BOY – – – – Kota Padang Sumbar
Ketua Rombongan Ekspedisi Padang – Solok Evi Yandri Rajo Budiman menuturkan, ia bersama rekan rekan yang terdiri dari Mapala, KPA , aktivis lingkungan, SAR , komunitas penelusuran khusus sejarah dan budaya. Kemudian, komunitas flora dan fauna, komunitas reptil dan ampibi serta komunitas peduli cagar budaya.
Alhamdulillah telah menyelesaikan ekspedisi napak tilas cinta tanah air, dengan rute Padang – Solok, yang dimulai dari Guo Lubuk TImpuruang Kelurahan Kuranji Kecamatan Kuranji Kota Padang hingga Jorong Ujuang Ladang Koto Sani Kecamatan X Koto Singkarak Kabupaten Solok. Rute yang menantang dan ekstrem direncanakan selama 6 hari, 9-14 Desember 2022 (enam hari lima malam).
Evi Yandri yang didampingi Ketua KPA Bias Khalid Syaifullah Rj Basa memaparkan, kegiatan ini diawali dari Bukit Sarasah Tigo Pangkek menyasar ke Bukit Simpang Kumayan, Bukit Kuburan Bulun, Bukit Sumua Tanah Putih, Bukit Sasak Angok, Bukit Nurjida, Bukit Lengkung Banda dan Bukit Gadang.
“Selanjutnya, terus menyusuri bebagai Bukit di daerah Kabupaten Solok yang tidak kami ketahui namanya, “ujar Evi Yandri.
Tapi yang jelas ada beberapa bukit yang ditandai dari tanaman mayoritas ditemui, seperti bukit Tanaman Kayu Bana, yang merupakan salah satu tanaman langka dan sulit ditemui. Lalu, bukit yang banyak tanaman Pandan Berduri – nya, bukit yang se olah-olah berada di atas awan, karena awan berada di bawah dan rombongan seakan akan berjalan tidak diatas tanah tapi atas awan. Juga berjalan dengan menyusuri akar-akar yang berlumut, dengan ketebalan lumutnya cukup tebal.
“Kami juga menemukan lahan yang dipenuhi batu Andesit yang berserakan dan menonjol ke atas permukaan tanah yang kami lalui. Jika diperkirakan jumlahnya sangat banyak, ada yang bersusun dengan ukuran rata-rata 30 cm hingga 45 cm dengan lebar 20 cm, kami dengan tim meyakini ini adalah peninggalan sisa-sisa peradaban, dengan artian ada potensi arkeologi (cagar budaya), “ucap Evi Yandri.
Kemudian rombongan juga menemui dua buah batu nisan dan tim sempatkan juga berdoa di hadapan batu nisan kuburan tersebut. Entah siapa yang berkubur di sana? Tapi yang jelas bukan masyarakat Kabupaten Solok atau Kota Padang yang sengaja mengantarkan jenazah keluarganya kesana. Tapi, secara logika memang tak masuk akal. Karena menempuh ke lokasi tersebut membutuhkan waktu
perjalanan kurang lebih dua hari perjalanan dengan jalan kaki, siapa yang berkubur di sana.
“Kami juga menemukan tanda-tanda adanya hewan-hewan di rute yang di lalui baik berupa jejak, tahi, bau dan suaranya. Seperti tapir, beruang harimau, kambing hutan, rusa, landak dan sebagiannya. Tapi, alhamdulilah rombongan tidak sempat bertemu binatang buas tersebut,” sebut Evi Yandri.
Di hari kedua rombongan telah memasuki kawasan Bukit Nurjida yang terkenal dengan berbagai kisah mistiknya, karena jarang yang tidak tersesat melewati kawasan tersebut. Bahkan, tim sempat kebingungan dan kesulitan menentukan arah, akhirnya dengan berpedoman kepala peta tim mmemutuskan memotong jalur dengan mendaki tebing di sisi Bukit Nurjida akhirnya malah berhasil memperpendek jarak tempuh yang seharusnya.
Memang tak disangkal, medan yang cukup ekstrem, tanjakan dan turunan dengan tingkat kemiringan mencapai 80-90 derajat. Bahkan, seolah olah nyaris vertikal tegak lurus. Kondisi medan seperti itulah yang dilalui pada hari ketiga. Namun, pada hari keempat sempat membuat tim khawatir sebagai pimpinan rombongan.
Bahkan, seorang anggota tim ekspedisi nyaris jatuh ke dalam jurang sedalam kurang lebih 30 meter. Saat itu telah memasuki hari kelima, setelah rombongan memasuki kawasan Kabupaten Solok. Saat itu jika rombongan megambil jalan melambung, maka waktu yang ditargetkan akan molor.
Namun, di depan mata rombongan dihadang jurang yang dalam dan ekstrem. Untuk memotong waktu dan jalur, terpaksa.
“Alhamdulillah berkat doa dukungan dunsanak dan tuntutan serta lindungan Allah SWT semua rintangan di perjalanan kami lalui dgn baik, kondisi tim sebanyak 35 orang sampai ke Nagari Koto Sani dalam keadaan sehat walafiat,” tutur Evi Yandri, legislator dari Partai Gerindra.
Segala temuan selama di sepanjang rute perjalanan akan dibuatkan catatan dalam bentuk laporan ke Kesbangpol Sumbar dan pihak-pihak terkait lainnya. Semoga bisa memberikan arti dan bermanfaat untuk masayarakat Sumbar ke depannya.
Terima kasih kepada Pemprov Sumbar melalui Kesbangpol Sumbar, Siinas Kebudayaan Sumbar, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang, Walikota Padang, Wabup Kabupaten solok, Ketua DPRD Kabupaten Solok Dodi Hendra, Walinagari Koto SANI Deswandi, Kapalo Jorong Ujung Ladang Zul Effendi dan ketua pemuda Ujuang Ladang.
*Jangan Sisakan Sampah
Kemudian. KPA BIAS dan terkhusus yang diapresiasi semua tim yang sangat luar biasa serta semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Ketua KPA BIAS Khalid Saifullah Rj Basa sepanjang rute yang ditempuh menekankan kepada rombongan jangan meninggalkan sampah di perjalanan. Rombongan disarankan untuk memasukan sampah ke dalam kantong plastik.
Jika tim sampai di Camp peristirahatan sampah tersebut lalu dibakar. “Sebagai pecinta alam telah tertanam, jangan mengambil apapun di sepanjang rute perjalanan selain gambar, jangan meninggalkan apapun termasuk sampah kecuali jejak, Kemudian, jangan membunuh apapun selain waktu,” ungkap Khalid.
Di sepanjang rute yang ditempuh di bawah guyuran hujan, karel yang disandang di punggung terasa makin berat karena basah. Tapi, selain karel dan kantong yang bergelantungan, juga membonceng pula acek (pacet – red) sebagai tumpangan gelap di bagian tubuh tertentu. Nyaris sepanjang rute dilalui selalu ditemui pacet. Tapi, binatang melata yang ditemui hanya pada pertama berupa ular yang berwarna hitam putih.
Ketua DPRD Kabupaten Solok Dodi Hendra Dt Pandeka Sati mengakui, ia bukan menyambut sekadar kahadiran dari rombongan pecinta alam saja. Akan tetapi, ia mengakui menyonsong kehadiran rombongan belahan dirinya dari Kota Padang.
“Sebab, warga Kota Padang dengan persentase 80 persen berasal dari nagari – nagari di daerah Kabupaten Solok,” tutup Dodi.
Mayoritas warga Kota Padang berasal beberapa nagari dari Solok, yakni Jawi-Jawi, Saniang Baka, Koto Sani, Koto Ilalang dan Gantuang Ciri.” Diharapkan sosok tokoh Evi Yandri Rajo Budiman bisa menyatukan Kabupaten Solok dengan Kota Padang, ” harap Dodi. (**)







