Pendidikan

Irwan Prayitno Dianugerahi Academic Award Sastra “Pin Emas”

156
×

Irwan Prayitno Dianugerahi Academic Award Sastra “Pin Emas”

Sebarkan artikel ini

PADANG — Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang menyelenggarakan Seminar Internasional Pantun, Syair, Tambo dan Tarombo dalam memajukan Kebudayaan di studio Sastra dan Seni Islam UIN Imam Bonjol Padang, Senin (28/10/2019).

Dalam kesempatan tersebut Gubernur Sumbar Irwan Prayitno  Datuak Rajo Bandaro Basa dianugerahi Academic Award Sastra “Pin Emas” dari Fakultas Adab dan Humaniora. Pin tersebut diserahkan dan disematkan langsung oleh Rektor UIN Imam Bonjol Padang Dr. Eka Putra Wirman Lc, MA.

Irwan Prayitno dinilai sebagai sastrawan yang kreatif dan produktif, piawai berpantun spontan mentradisikannya dalam berbagai orasi, pidato, amanat dan sambutannya pada masa jabatannya sebagai gubernur Sumbar.

BACA JUGA  Masalah Kesehatan Makin Kompleks, Masyarakat Sumbar Butuh Perawat Cekatan dan Peka Berteknologi

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengucapkan terima kasih atas penghargaan ini, semoga menjadi motivasi dan inspirasi bagi generasi muda. Karena pantun masuk dalam kategori budaya yang dideskripsikan berada dalam situasi hampir punah.

Generasi milenial saat ini banyak yang tidak akrab dengan pantun. Dikarenakan kalangan sesepuh yang pandai berpantun pun jumlahnya sudah berkurang. Akhirnya pantun yang beredar di masyarakat pun juga semakin berkurang.

“Kita berharap sebagai generasi penerus, bisa membudayaan pantun, syair, tambo dan tarombo dalam kemajuan budaya Minangkabau, jangan sampai kita menjadi asing di rumahnya sendiri, masyarakat Melayu,” jelas Irwan.

Sejarah Melayu banyak menceritakan tentang pantun dan juga karya pantun. Ini bisa dilihat dari buku atau tulisan serta peninggalan lama dalam kehidupan adat sehari-hari. Selain itu pantun masih dipakai pada saat acara adat dan sekali-kali di berbagai acara kemasyarakatan.

BACA JUGA  Gubernur Sumbar Teken Sister Province, Jajaki Kerjasama Pendidikan dengan Rusia 

Namun secara umum, kini pantun tidak banyak dipakai dan tidak banyak karya pantun yang tersebar. Kalaupun ada pantun, biasanya pantun yang berulang, yang sudah sering dibacakan di tengah masyarakat.

“Maka dari itu saya sangat mendukung adanya seminar ini, dan juga tentunya kita berharap agar seminar ini menghasilkan suatu pemikiran-pemikiran, konsep yang bisa diterapkan untuk memperkuat pemajuan budaya Minangkabau,” kata gubernur Sumbar.

Comment