Peristiwa

Sempat Tertunda, Minang Geopark Run Tahun 2025 Kembali Digelar

179
×

Sempat Tertunda, Minang Geopark Run Tahun 2025 Kembali Digelar

Sebarkan artikel ini

BUKITTINGGI – Event Sport Tourism “Minang Geopark Run” kembali digelar untuk tahun 2025. Sempat ditunda hampir satu bulan, MGR 2025 dilaksanakan Sabtu, 20 Desember 2025 dengan tema besar “Sumbar Bangkit”.

Founder Minang Geopark Run, Yv Tri Saputra, menjelaskan, MGR dilaksanakan untuk promosikan daerah yang memiliki kawasan geopark. Promosi digandeng dengan kegiatan olahraga lari, yang bisa diikuti seluruh warga. Perubahan jadwal pelaksanaan MGR 2025 dilakukan dengan mempertimbangkan faktor keselamatan peserta sebagai prioritas utama, sekaligus membuka ruang bagi gerakan kepedulian yang lebih luas.

“Keselamatan pelari adalah yang utama. Di saat yang sama, kami ingin Minang Geopark Run hadir sebagai gerakan yang relevan dengan kondisi daerah. Melalui tema Sumbar Bangkit, kami mengajak pelari dan masyarakat untuk berlari sambil berbagi dan peduli,” ujar Yv Tri Saputra, di Istana Bung Hatta, Sabtu (20/12/2025).

Melalui penyesuaian waktu pelaksanaan serta rangkaian program sosial, Minang Geopark Run 2025 tidak hanya menjadi ajang olahraga lari, tetapi juga ruang kolaborasi untuk solidaritas, pemulihan dan kebangkitan daerah. Tahun ini menandai penyelenggaraan Minang Geopark Run untuk ke-6 kalinya menghadirkan sejak pertama kali digelar pada 2018, dengan komitmen yang terus dijaga untuk menghadirkan event lari yang berdampak pada positif bagi daerah.

“Minang Geopark Run 2025 juga menginisiasi Virtual Charity Run For Sumbar. Ada pengumpulan donasi, termasuk melalui kitabisa.com, untuk para korban bencana di Sumatra Barat. Hasilnya nanti, akan diserahkan kepada korban hidrometeorologi, melalui Pemerintah Kota Bukittinggi. Selain itu, pelaksana juga mengagendakan untuk menghadirkan Buya Mas’ud Abidin untuk pimpin do’a kebangkitan Sumatra Barat. Ini buka event untuk bersorak sorai. Bukan event untuk menari nari, tapi tahun ini lebih kepada melahirkan semangat Sumbar untuk bangkit,” tegasnya.

Baca Juga:  Walhi Sumbar Latih Petani Basawah Pokok Murah di Solok Selatan

Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, menyampaikan, geopark nasional Sianok-Maninjau, memiliki sejarah cukup panjang. Pemko Bukittinggi akan mengupayakan kawasan ini, untuk menjadi kawasan Unesco Global Geopark. Upaya ini menjadi langkah mendatangkan tamu yang lebih besar untuk masuk ke Kota Bukittinggi.

“Bukittinggi merupakan kota tamu. Harus banyak event yang dilaksanakan, salah satunya Minang Geopark Run, yang akan dijadikan kalender pariwisata Bukittinggi. Sport Tourism akan didukung penuh oleh Pemerintah Kota Bukittinggi, sebagai upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi masyarakat,” ungkap Ramlan.

Kegiatan MGR 2025, juga menjadi bagian dari program unggulan 1001 event. Awalnya event ini akan diadakan akhir November 2025. Namun, karena ada bencana di Sumbar, kegiatan ini ditunda hingga 21 Desember 2025, karena sudah ada kontrak yang berkaitan dengan anggaran dan harus dilaksanakan di tahun 2025.

“Jadi event ini jangan disalahartikan sebagai eforia saat Sumbar dilanda bencana. Namun ini lebih kepada upaya bagian dari Sumbar yang harus bangkit. Kita dorong korban bencana untuk tidak larut dengan kesedihan. Bantuan terus kita salurkan. Termasuk dari kegiatan ini, akan dikumpulkan donasi untuk mereka yang dilanda bencana. Kita juga dorong pertumbuhan ekonomi Bukittinggi yang sempat turun setelah bencana ke angka 3,92. Setelah pelaksanaan MTQN ke 41, pertumbuhan ekonomi kembali menggeliat dan naik hingga 4 lebih. Kita harap, dengan MGR, pertumbuhan ekonomi semakin meningkat,” jelasnya.

Baca Juga:  Kepenggurusan Alumni Magister Pendidikan Geografi Periode 2024-2029 Resmi Terbentuk

Kepala Dinas Pariwisata Sumbar, Lila Yanwar, menyampaikan apresiasi kegiatan Minang Geopark Run, yang kembali dilaksanakan dengan tema Sumbar Bangkit. Infrastruktur memang menunggu lama, namun kebangkitan ekonomi harus dipercepat.

“Ini langkah besar dan luar biasa. Tapi ini bukan ketidakempatian, tapi ini spirit. Sumbar harus bangkit kembali. Kita lari menuju Sumatra Barat bangkit,” ujarnya.

Race director, Imam Al Akbar, menyampaikan, dua bulan sebelum pelaksanaan, telah mendaftar sebanyak 3500 peserta, terdiri dari 20 persen warga Bukittinggi-Agam dan 80 persennya dari daerah lain, termasuk 1000 lebih peserta dari provinsi tetangga.

“Setelah terjadi bencana, kami cek lagi rute yang akan dilalui pelari kita. Ada sejumlah titik rawan yang tidak akan kita lewati, termasuk di Jembatan Koto Gadang. Pada tahun ini, kita kembali ke rute pelaksanaan tahun 2018 lalu. Kita start jam 06.00 untuk kategori 21k. 5 menit setelah itu, kita lepas untuk kategori 10 K dan 5 menit setelah itu, kita lepas lagi untuk kategori 5k,” jelasnya. (Aul)