Budaya

Langgai, Negeri yang Merindu Jalan ‘Hitam’

2088
×

Langgai, Negeri yang Merindu Jalan ‘Hitam’

Sebarkan artikel ini
Pemandangan Langgai, Nagari Gantiang Mudiak Utara Surantiah dari udara.ist

PADANG – Sore yang mendung, Kamis (29/6/2023) di Langgai, nagari yang lembab. Disana, sepertinya tamu selalu disambut oleh hujan, cuaca begitu sudah biasa.

Hujan lebat langsung turun, menyiram perkampungan di lembah Bukit Barisan yang dingin. Sore langsung gelap.

Langgai masuk dalam Kenagarian Gantiang Mudiak Utara Surantih, Kecamatan Sutera, Pesisir Selatan. Daerah ini selalu diselimuti awan, hujan datang tiba-tiba, kemudian berhenti juga secepatnya.

“Inilah daerah kami, kampung yang berada di apit dua bukit. Kita berada di celah,”sebut Jawek (84) warga Langgai,

Ternak warga berkeliaran di tengah jalan menuju desa Langgai, Nagari Gantiang Mudiak Utara Surantih.ist

Penduduk di Langgai tak banyak, hanya sekitar 3.069 jiwa, atau sekitar 678 kepala keluarga. Semua punya usaha berladang, isinya bermacam. Ada gambir, nilam, juga durian. Mereka bertahan disana juga karena hasil ladang itu.

Ladangnya bukan di belakang rumah, tapi jauh merangkak ke atas punggung bukit. Sungai deras halaman mereka. Satu keluarga bisa punya satu hingga dua hektar ladang. Tapi jauh-jauh dari rumah.

Rumah permanen sudah banyak. Pakai beton, sudah dikeramik pula. Tapi juga banyak yang masih semi permanen. Suasana tenang, kampung yang jauh dari hiruk pikuk keramaian. Tapi warganya merindukan jalan yang ‘hitam’.

“Sudah sering janji akan menghitamkan jalan kami. Tapi sampai sekarang tidak belum juga ada hasilnya,”sebut Jawek.

Masalah mereka adalah akses jalan yang lancar. Akses yang mulus, jalan beraspal (hitam). Agar hasil ladangnya mudah dibawa ke Padang. Sekitar 142 Kilometer dari sana.

Anak-anak Desa Langgai senang bermain air hujan.Ist

Sekarang hasil ladang warga adalah gambir. Kebetulan harga gambir sedang bagus. Jika kering satu hari jemur, bisa Rp45 ribu perkilonya, tapi kalau sudah mencapai kualitas tinggi, harganya mencapai Rp100 ribu perkilo.

Harga itu sebenarnya harga yang bagus. Itu pula yang membuat warga Langgai enam bulan terakhirnya cukup senang. Sama senangnya hati ketika melihat matahari setelah turun hujan. Hangat…

Baca Juga:  Awali Tahun 2025, Keluarga Besar YMMY dan Rektor UMMY Solok Ziarah ke Makam Muhammad Yamin

Harga gambir memang sempat menjadi topik utama di Sumatera Barat (Sumbar). Karena gambir di Indonesia itu palinng banyak di Sumbar. Di Sumbar gambir paling banyak berasal dari Limapuluh Kota.

Kemudian dari Pesisir Selatan, Langgai ini penghasil utamanya. Badan Pusat Statistik (BPS) mencata ada sebanyak 451 ton setiap tahun gambir diproduksi disana.

Tak heran, gambir menjadi penghasilan utama masyarakat Langgai. Kalau ada hasil ladang lainnya, ya durian. Durian kalau sudah musim, berton-ton keluarnya. Tapi ini musiman. Kebetulan kali ini durian tidak musim.

“Ini sudah bagus harganya. Sebelumnya harganya sangat jatuh, sampai Rp18 ribu perkilo. Upah untuk menggampo (memeras) saja tidak cukup,”lanjut Jawek.

Kondisi jalan menuju desa Langgai, Nagari Ganting Mudik Utara Surantih, Pesisir Selatan.ist

Jalan Berlumpur
Akses jalan ke Kampung Langgai memang memperihatinkan. Jaraknya dari Pasar Surantih sekitar 12 kilometer. Paling parah dari jembatan penghubung Ampalu dan Kayu Aro.

Jembatan itu panjangnya 140 meter, nomor dua terpanjang di Sumbar, setelah Sungai Dareh. Saat ini kondisinya masih jembatan gantung, lantainya baja.

Dari Pasar Surantih, jalan sudah beraspal hotmix. Setelah jembatan Ampalu, semua jalan tanah. Mulai dari Kayu Aro, Batu Bala, Lubuak Batu sampai ke Langgai semuanya jalan tanah. Jika ada yang rata itu hanya dicor pendek-pendek. Semua itu adalah hasil swadaya masyarakat.

Jika hujan turun, badan jalan jadi berlumpur. Ini makin mempersulit untuk diakses warga. Lantas kondisi ini membuat jarak temput dari Langgai ke Pasar Surantih bisa dicapai dengan waktu 3 jam. Kondisi itu juga membuat harga material bangunan melambung tinggi.

“Untuk ongkos satu zak semen saja kita harus bayar Rp15 ribu,”kata tokoh masyarakat Langgai, Dalisman.

Dikatakannya, jalan mulus adalah impian masyarakat yang belum terujud. Jika saja akses jalan sudah lancar, maka pendapatan masyarakat Langgai akan lebih meningkat.

Baca Juga:  Buka Bersama Rang Batangkapeh, Bakri M Terus Dorong Kepedulian Sosial

Apalagi hingga kini, daerah tersebut juga tidak ada akses internet. Kondisi itu menyulitkan masyarakat mendapatkan informasi dari luar.

Gubernur Mahyeldi saat berada di desa Langgai, Pesisir Selatan.ist

Dibangun
Kamis 29 Juni 2023 Gubernur Mahyeldi mengunjungi daerah itu dengan rombongan. Mahyeldi mengajak sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Tujuannya bagaimana semua OPD dapat mencocokan programnya dengan kondisi di Langgai.

Untuk kesehatan contohnya, Dinas Kesehatan Sumbar nantinya harus fokus untuk memperhatikan kondisi kesehatan warga Langgai. Seperti memenuhi ketersediaan tenaga kesehatan di Puskesmas Rawat Inap (Puskesmas RI) Langgai.

“Disana hanya ada satu pegawai negeri, nanti ini menjadi perhatian kita,”sebut Mahyeldi.

Kemudian, karena aktivitas masyarakat ke ladang, lantas membuat anak-anak mereka tinggal bersama neneknya. Kondisi itu berpotensi menyebabkan anak-anak stunting.

“Ini akan menjadi sasaran kita, bagaimana anak-anak disini tidak menjadi stunting karena ditinggal ke ladang oleh orang tuanya,”sebutnya.

Kemudian, Pemprov Sumbar segera membantu memperbaiki jalan akses ke Langgai. Pada 2023 Pemprov Sumbar sudah mengalokasikan anggaran Rp1 miliar untuk memasang beton pada sebagian jalan. Rencananya pada 2024 akan dianggarkan lagi senilai Rp1 miliar dengan kontruksi pengecoran.

“Secara bertahap kita akan bangun jalan. Karena memang kondisinya cukup panjang, kita lakukan secara bertahap,”ujarnya.

Begitu juga untuk jembatan yang menghubungkan Nagari Ampalu dengan Kayu Aro. Pemprov Sumbar akan membuat Detail Engineering Design (DED).

“Tahun depan akan susun DED. Semuga dapat kita carikan solusi untuk pembangunannya,”sebut Mahyeldi.

Sedangkan untuk harga gambir, menurut Mahyeldi saat ini harganya cukup bagus. Untuk itu petani diharapkan dapat menjaga kualitas gambir.

“Sekarang harga cukup bagus, jadi masyarakat agar menjadi kualitas. Jangan mau disuruh campur bahan lain oleh orang. Ini dapat merugikan warga sendiri,”harapnya.(Bdr)