Nasional

Kejadian Aneh Ikuti Perjalanan Mr. Syafrudin Prawiranegara di Sungai Dareh

1015
×

Kejadian Aneh Ikuti Perjalanan Mr. Syafrudin Prawiranegara di Sungai Dareh

Sebarkan artikel ini
Kantor Dinas Sosial Dharmasraya yang dulunya adalah pesanggrahan saksi sejarah yang digunakan Mr Syafrudin Prawiranegara memimpin PDRI.Ist

PADANG – Pesanggrahan saksi sejarah Mr Syafrudin Prawiranegara memimpin NKRI selama 4 hari dari Nagari Sungai Dareh Kecamatan Pulau Punjung, Dharmasraya. Sejarah yang tak banyak dikenal generasi muda di Ranah Cati Nan Tigo tersebut.

Rumah dengan arsitektur Eropa di jalan Pesangerahan Jorong Sungai Kilangan Nagari Sungai Dareh nampak mencolok dari bangunan sekitarnya. Bangunan itu masih kokoh dengan warna cat merah.

Atap genteng kecoklatan. Sedikit ruang tamu seperti rumah peninggalan Belanda kebanyakan. Rumah tersebut kini menjadi kantor Dinas Sosial Kabupaten Dharmasraya. Di rumah itulah dulunya Mr Syafrudin Prawiranegara menggelar rapat, sekaligus juga pernah menyampaikan selamat tahun baru melalui radio.

Bangunan itu tepat di pinggir Batang Hari. Sekitarnya sudah dibangun sejumlah rumah warga. Sementara tugu PDRI dibangun sekitar 100 meter dari rumah tersebut.

“Ini sejarah yang disampaikan pada kami. Ini kami dapatkan juga dari sejumlah sumber. Kalau saksi sejarah sudah tidak ada lagi di sini,”sebut Camat Pulau Punjung, Yulius Monti, Kamis (15/12).

Tugu PDRI di tepi Batang Hari, Sungai Dareh.Ist

Diakuinya, tak banyak yang tahu kalau Sungai Dareh pernah menjadi titik kumpul Mr Syafrudin Prawira Negara. Jejak sejarah itu baru diketahui banyak oleh warga Dharmasraya setelah adanya kegiatan seminar yang digelar pada 2020 lalu.

Selain itu juga dari buku Sejarawan Mestika Zed dalam Buku “Somewhere in The Jungle: Pemerintah Darurat Republik Indonesia” (1997).

Hanya empat hari di Sungai Dareh. Karena PDRI saat itu dijalankan dengan gerilya. Namun, keberadaan di Dharmasraya mulai ‘tercium’ oleh Belanda.

Baca Juga:  KKP Segel Proyek Reklamasi Langgar Aturan di Lingga

Kontan, hanya dari tanggal 31 Desember 1948 hingga 3 Januari 1949 rombongan Mr Syafrudin Prawiranegara di Sungai Dareh. Rombongan memutuskan untuk mencari daerah lebih aman menuju Bidar Alam, Solok Selatan.

Menariknya, dalam perjalanan ini rombongan yang berisikan Mr. Syafrudin Prawiranegara, Wakil Ketua PDRI Teuku Mohammad Hasan dan Loekman Hakim berbeda pendapat untuk memilih jalur menuju Bidar Alam.

Bahkan, ketiga tokoh tersebut memilih jalur yang berbeda pula untuk mencapi Bidar Alam dari Sungai Dareh. Pada 4 Januari 1949 ketiga rombongan tersebut berangkat menuju Bidar Alam.

Pada 4 Januari, rombongan tersebut berangkat meninggalkan Sungai Dareh. Saat berangkat menuju Abai Sangir, rombongan dibagi tiga.

Mr. Syafrudin Prawiranegara memilih jalur sungai Batang Hari sebanyak 20 orang rombongan. Rombongan pertama ini mendapat tenaga pengawal tambahan dari BPNK Sangir di bawah pimpinan Sersan Mayor Alwain Alamsyah.

Rombongan pertama ini, menuju Abai Sangir naik perahu menantang arus Batang Hari ke hulu. Sebaimana dikawatirkan, rombongan ini sempat tenggelam karena perahu oleng. Maka pada malam hari, rombongan harus menepi di peladangan masyarakat.

Kemudian, rombongan kedua dipimpin Wakil Ketua PDRI Teuku Mohammad Hasan. Ikut dalam rombongan ini, peralatan radio dan para teknisinya yang memang berisiko kalau harus lewat jalur sungai.

Sementara Loekman Hakim bersama sejumlah pengawal melalui jalur memutar melalui Muaro Bungo, Jambi.

Baca Juga:  Sumbar Berduka, Mantan Wakil Ketua MPR Asal Sumatera Barat Meninggal Dunia

Baik rombongan Mr. Sjafruddin yang melalui jalur sungai maupun rombongan Mr. Hasan lewat jalan darat sampai di Abai Sangir pada 7 Januari 1949. Sementara, rombongan ketiga sampai sekitar dua pekan kemudian, saat kabinet PDRI sudah berbasis di Bidar Alam.

Peristiwa Aneh
Diceritakan Yulius, dari informasi yang berkembang dalam seminar tersebut ada dua peristiwa aneh yang mengikuti perjalanan rombongan tersebut. Keduanya melibatkan harimau.

Pertama peristiwa aneh yang dialami rombongan Wakil Ketua PDRI Teuku Mohammad Hasan. Rombongan yang memilih jalur darat tersebut sepanjang perjalanan diikuti oleh seekor harimau.

Menariknya, harimau tersebut tidak mengganggu rombongan dalam perjalanan. Dia bergerak ketika rombongan sudah bergerak. Ketika rombongan berhenti istirahat, harimua tersebut juga berhenti.

“Menurutnya ceritanya, dari saksi sejarah M. Thaib Angku Mudo, tokoh masyarakat Sungai Dareh yang sudah berumur 101. Jarak harimua dengan rombongan hanya sekitar 20 meter,”katanya.

Fenomena tersebut diceritakan dari mulut ke mulut saat rombongan sudah tiba di Bidar Alam, Solok Selatan.

Kadian aneh juga melanda rombongan Mr. Syafrudin Prawiranegara yang menyusuri Batang Hari menuju Bidar Alam dengan perahu. Ketika rombongan tersebut berhenti di ladang masyarakat, mereka menyaksikan langsung seekor harimau sedang memangsa seekor kambing.

Selain itu, perahu yang ditumpanginya juga pernah hampir tenggelam. Karena arus Batang Hari saat itu cukup kuat. Sehingga begitu membahayakan bagi mereka diarungi dengan perahu.(Bdr)