Budaya

Soal Suara Azan, Pemuda Muhammadiyah Kota Padang Minta Menag Minta Maaf

495
×

Soal Suara Azan, Pemuda Muhammadiyah Kota Padang Minta Menag Minta Maaf

Sebarkan artikel ini
Ketua Pemuda Muhammadiyah Kota Padang, Sintaro Abe.ist

PADANG – Kecaman terus berdatangan atas pernyataan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas yang membandingkan suara azan dengan gonggongan anjing. Kali ini datang dari Pemuda Muhamadiyah Kota Padang, Menteri Agama diminta untuk meminta maaf atas kekeliruan tersebut.

“Bahasanya sangat tidak elok, tidak pantas seorang menteri memilih analogi seperti itu. Sangat menyinggung umat Islam,”sebut Ketua Pemuda Muhamadiyah Kota Padang, Sintaro Abe, Jumat (25/2/2022).

Dikatakannya, Menteri Agama itu adalah pejabat publik yang membawahi semua umat beragama. Tidak hanya Islam, tapi semua agama yang ada di negara ini. Untuk itu hendaknya, bisa menggunakan kata-kata yang mempererat persatuan umat beragama. Jangan memancing kegaduhan tak menentu.

Menurutnya, dengan menganalogikan suara azan dengan gonggongan anjing, justru mempertontonkan ketidakmampuan seorang Yaqut menjadi seorang menteri agama. Menunjukan dia belum bisa memimpin lembaga yang besar dalam pemerintahan.

Baca Juga:  Kostum Kontingen Sumbar pada PON XX Tak Lazim

“Dia harus minta maaf, bagaimanapun dia memberikan penjelasan atas maksud kata-katanya, dalam rekaman video beredar, sangat jelas dengan sadar dia memilih analogi yang tidak baik,”katanya.

Abe menilai jika Yaqut tidak meminta maaf pada umat Islam, maka tidak salah umat Islam menilai apa yang dilakukan Yaqut adalah kesengajaan. Kesengajaan merendahkan umat Islam sendiri. Sehingga dengan berani dan serampangan membandingkan suara azan dengan gonggogan anjing.

“Mari kita lihat sikapnya, apakah meminta maaf atau tidak. Jika tidak, jelas kata-kata yang dikeluarkannya adalah kesengajaan untuk melukai hati umat Islam. Tidak pantas dia menjadi seorang menteri,”pungkasnya.

Sebelumnya, Yaqut menilai suara-suara Toa di masjid selama ini adalah bentuk syiar. Hanya, jika dinyalakan dalam waktu bersamaan, akan timbul gangguan. Hal itu disampaikan di Pekanbaru, Rabu (23/2/2022).

“Karena kita tahu, misalnya ya di daerah yang mayoritas muslim. Hampir setiap 100-200 meter itu ada musala-masjid. Bayangkan kalau kemudian dalam waktu bersamaan mereka menyalakan Toa bersamaan di atas. Itu bukan lagi syiar, tapi gangguan buat sekitarnya,” katanya.

Baca Juga:  Kubu Gadang jadi Desa Wisata Terbaik Sumbar

“Kita bayangkan lagi, saya muslim, saya hidup di lingkungan nonmuslim. Kemudian rumah ibadah saudara-saudara kita nonmuslim menghidupkan Toa sehari lima kali dengan kenceng-kenceng, itu rasanya bagaimana,” kata Yaqut lagi.

Ia kemudian mencontohkan suara-suara lain yang dapat menimbulkan gangguan. Salah satunya suara gonggongan anjing.

“Yang paling sederhana lagi, kalau kita hidup dalam satu kompleks, misalnya. Kiri, kanan, depan belakang pelihara anjing semua. Misalnya menggonggong dalam waktu bersamaan, kita ini terganggu nggak? Artinya apa? Suara-suara ini, apa pun suara itu, harus kita atur supaya tidak jadi gangguan. Speaker di musala-masjid silakan dipakai, tetapi tolong diatur agar tidak ada terganggu,” katanya menggebu.(Bdr)