PADANG – Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit meminta kepada petugas yang menjaga pintu masuk agar benar-benar mencatat orang yang bisa di tracking, Senin (6/4/2020). Sehingga orang itu benar-benar bisa diawasi.
Hingga kini katanya, berdasarkan laporan notifikasi sudah ada sebanyak 25.690 yang sudah masuk Sumbar. Kita harapkan perantau yang datang itu benar-benar untuk disiplin, agar transparan. Katakan saja.
“Ini bukan aib, jika perantau yang pulang disiplin, maka masyarakat di kampung aman. Kita bukan memusuhi perantau, tapi tolong disiplin dan bekerjasama, melaporkan diri dan melakukan karantina mandiri,”sebutnya.
Dikatakannya, jika tidak disiplin, maka upaya pemerintah untuk mencegah korona ini tidak akan pernah habisnya. Karena tidak jelas, kapan peratau pulang, bagaimana memantaunya.
Berdasarkan kajian tim ahli COVID-19, Sumatera Barat bisa mencapai puncak penyebaran penyakit berbahaya ini saat lebaran nanti.
Tim ahli yang dibentuk Pemprov Sumbar tersebut terdiri dari peneliti dari beberapa Universitas. Dalam kajiannya hal itu bertepatan dengan momen pulang kampung, yang telah menjadi tradisi tahunan perantau asal Sumatera Barat.
“Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, sangat berharap kepada seluruh masyarakat untuk dapat mengikuti seluruh instruksi dari pemerintah. Sehingga, angka penyebaran COVID-19 dapat ditekan. Bahkan, diputus mata rantainya. Sehingga prediksi puncak itu, tidak terjadi,” katanya.
Pemprov Sumbar, bersama kepala daerah se Sumatera Barat dan pihak terkait telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi. Termasuk imbauan tidak pulang kampung bagi perantau.
Selain itu juga dilakukan “Pembatasan Selektif”, memeriksa dan mendata seluruh orang masuk ke Sumatera Barat. Data itu akan diteruskan oleh petugas gabungan perbatasan ke Gugus penanganan COVID-19 untuk selanjutnya diteruskan hingga ke tingkat RT dan RW.
“Ini harus benar diantisipasi. Pendatang dan perantau yang datang di awal, saat dan setelah lebaran,”ujar Nasrul Abit,
Nasrul Abit berhadap, agar semua Kabupatendan Kota terutama di sembilan pintu masuk jalur darat serta Bandara Internasional Minangkabau (BIM), mendata semua pendatang ini. Melaporkan, mencatat berapa jumlah orang yang datang perhari. Kemudian sampaikan langsung ke Bupati atau gugus tugas Kabupaten atau kota masing-masing, sehingga mereka itu benar-benar tercover.
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat kata Nasrul, juga meminta kepada seluruh masyarakat untuk tidak berpandangan negatif terhadap mereka yang terpapar COVID-19. Karena, penyakit ini bukanlah aib. Hanya saja, masyarakat mulai dari tingkat RT dan RW, diminta untuk sama-sama berperan aktif memantau mereka yang baru saja datang dari luar, terutama yang dari daerah-daerah yang sudah terpapar COVID-19.
“Bisa mendeteksi dan mengawal para pendatang tersebut. Isolasi diri, periksa kesehatannya. Baik pak RT, RW, Jorong dan Korong, semua mengawasinya. Dan Masyarakat sekitar, juga ikut mengawasi. Tapi, jangan berpandangan negatif terhadap mereka. Ini bukan Aib. Tapi, kita butuh keterusterangan setiap pasien kita. Mereka harus terus terang bahwa pernah merasa demam, pernah ketemu dengan orang terpapar. Terus terang saja, sehingga penanganan kesehatannya lebih baik,” tutup Nasrul Abit.







