PADANG -Cuaca ekstrem kembali melanda sejumlah daerah di Sumatera Barat dan memicu banjir serta tanah longsor di beberapa kabupaten dan kota. Ratusan rumah warga terendam, akses jalan nasional terputus, dan sejumlah warga harus dievakuasi akibat tingginya intensitas hujan.
Juru Bicara BPBD Sumbar Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi sekaligus Juru Bicara BPBD Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Ilham Wahab melaporkna, banjir pertama terjadi di Nagari Duku Utara, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, pada Minggu siang (23/11/2025) pukul 14.00 WIB. Hujan lebat memicu banjir genangan yang merendam 418 rumah warga.
Banjir melanda dua lokasi di Jongang Kampung Tanjung dan Lubuk Ganggo dengan total 155 rumah terendam. Genangan juga terjadi di Kampung Duku dan Kampung Simauang yang menyebabkan 263 rumah terendam.
BPBD Kabupaten Pesisir Selatan melakukan evakuasi warga di lokasi terdampak. “Petugas bergerak cepat mengevakuasi warga yang terjebak banjir,” kata Ilham.
Tidak ada laporan korban jiwa dan tidak ditemukan kerusakan rumah warga. Namun, kondisi genangan masih diawasi BPBD setempat untuk mengantisipasi banjir susulan.
Di Kabupaten Solok, tanah longsor terjadi di ruas Jalan Nasional Lubuk Selasih–Alahan Panjang pada Sabtu malam (22/11/2025) pukul 23.00 WIB. Material longsor menutup badan jalan dan memicu kemacetan dari dua arah.
“Longsor terjadi akibat curah hujan tinggi yang mengguyur sejak sore,” ujar Ilham Wahab pada akhir kutipan langsung. BPBD berkoordinasi dengan BPJN Sumbar untuk membuka akses jalan.
Longsor kedua terjadi di Nagari Gantung Ciri, Kecamatan Kubung, pada Selasa pagi (25/11/2025) pukul 05.00 WIB. Material longsor masih menutup jalan kabupaten dan warga bersama aparat nagari melakukan pembersihan sambil menunggu alat berat.
Selain longsor, banjir juga terjadi di Kubung pada waktu yang sama. Banjir merendam rumah warga di Jorong Batu Palano dan Kajai. Enam warga dievakuasi dari Batu Palano, sementara delapan warga dievakuasi dari Jorong Kajai.
“Evakuasi dilakukan untuk memastikan keselamatan warga yang terjebak banjir,” katanya.
Banjir dan longsor kembali terjadi di Muaro Busuk dan Kapondoh, Nagari Koto Baru, Kecamatan Kubung, pada pukul 07.00 WIB. Sebanyak 50 rumah terdampak dan sekitar 100 jiwa terisolasi karena jembatan runtuh.
Di Kota Padang Panjang, tanah longsor menutup saluran irigasi di Silaiang Bawah pada Sabtu sore (22/11/2025). Sehari kemudian, angin kencang menyebabkan pohon tumbang yang merusak satu rumah dan menutup akses jalan.
Cuaca ekstrem juga melanda Kabupaten Pasaman pada Senin malam (24/11/2025) pukul 20.50 WIB. Pohon tumbang terjadi di beberapa kecamatan dan menimpa beberapa rumah warga.
Di Pasaman Barat, angin kencang menyebabkan pohon tumbang di Nagari Aua Kuniang pada Senin sore (24/11/2025). Pada waktu yang sama, longsor terjadi di Kecamatan Talamau dan mengancam akses warga setempat.
Di Kota Pariaman banjir meluas ke titik permukiman lain pada 23 dan 24 November 2025. Beberapa rumah warga tergenang dan aktivitas sekolah terganggu akibat naiknya debit air yang tidak mampu ditampung drainase.
Pada waktu yang sama, angin kencang melanda Kecamatan Pariaman Timur, Pariaman Selatan, dan Pariaman Tengah. Pohon tumbang terjadi di Desa Bato, Kampung Gadang, Desa Taluak, Kelurahan Karan Aur, serta kawasan lainnya.
Pohon tumbang menimpa badan jalan hingga menghambat lalu lintas di Desa Taluak. Akses masuk sekolah dan jaringan telepon terganggu di Kelurahan Karan Aur akibat batang pohon yang roboh ke arah bangunan dan kabel.
BPBD mencatat tidak ada korban jiwa. Warga terdampak banjir berhasil dievakuasi oleh tim gabungan. Tidak ada laporan kerusakan bangunan berat.
Banjir, banjir bandang, longsor, dan angin kencang juga melanda Tanah Datar, banjir pertama terjadi pada 23 November 2025 pukul 10.15 WIB di Kecamatan Batipuh Selatan dan Kecamatan X Koto.
Aliran air meluap dari drainase dan selokan hingga merusak satu rumah warga di Nagari Padang Laweh. Jembatan di Jorong Sungai Rayo putus dan memaksa 18 KK atau 26 jiwa mengungsi ke rumah kerabat.
Pada 24 November 2025 pukul 10.00 WIB, banjir bandang kembali menghantam Nagari Malalo di Batipuh Selatan. Air bah menghantam permukiman dan mengakibatkan 18 KK atau 56 jiwa terdampak. Satu rumah terkikis air, satu jembatan putus total, empat saluran irigasi rusak, serta sanitasi air bersih tidak berfungsi.
Angin kencang juga terjadi pada 23 November 2025 pukul 13.13 WIB di Nagari Malalo dan Nagari Batipuh Baruh. Hembusan angin menumbangkan pohon besar dan menimpa satu rumah warga di Jorong Kubu Nan Limo hingga menimbulkan kerusakan sedang.
Pada hari yang sama, longsor turut terjadi di Nagari Tambangan, Kecamatan X Koto. Material tanah bergerak ke halaman rumah warga akibat tidak mampu menahan curah hujan tinggi.
BPBD Sumbar menyebut total warga terdampak dari seluruh kejadian mencapai 59 jiwa atau 27 KK di Batipuh Selatan, ditambah 18 KK atau 26 jiwa di X Koto yang mengungsi secara mandiri. Tim terus melakukan pendataan kerusakan serta berkoordinasi dengan perangkat daerah terkait.
Banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, hingga jalan amblas pada sejumlah kecamatan di Kabupaten Agam.
Banjir terjadi berulang sejak Sabtu (22/11/2025) dan merendam permukiman di Kecamatan Tanjung Raya, Banuhampu, Palupuah, Palembayan, Tanjung Mutiara, serta IV Nagari. Genangan mengganggu aktivitas warga dan merendam sedikitnya 30 rumah terdiri atas 35 KK dan 80 jiwa. Tiga rumah warga di Nagari Cingkariang ikut terendam setinggi 80 sentimeter.
Kerusakan juga muncul pada infrastruktur jalan. Badan jalan Kampuang Pasia–Lurah Dalam di Kecamatan Palupuah amblas sepanjang 25 meter dengan kedalaman 2,5 meter. Sawah warga ikut terendam seluas 3 hektare. Di Kecamatan Palembayan, evakuasi dilakukan kepada 9 jiwa yang terjebak banjir di Jorong Tapian Kandis.
Banjir turut memutus akses jembatan Kampung Chaniago di Nagari Salareh Aia Timur. Sawah seluas 10 hektare dan kebun 50 hektare ikut tersisolir akibat luapan Batang Maua. Pada Tanjung Mutiara, genangan air menutup akses Jorong Muaro Putuih dan Jorong Labuhan sehingga tidak bisa dilalui kendaraan.
Proses belajar terganggu akibat banjir yang merendam SD Negeri 17 Gantiang di Kecamatan IV Nagari. Ruas jalan pada beberapa titik juga tergenang antara 30 sentimeter hingga 1 meter.
Banjir bandang terjadi pada Minggu pagi (23/11/2025) di Kecamatan Tanjung Raya, Nagari Paninjauan. Material banjir menimbun tiga kolam renang, merusak tiga saung, menimbun kafe, merusak kolam pembibitan ikan seluas 1 hektare, merusak Pamsimas, mengubah aliran sungai, dan menutup jalan lingkar nagari pada dua titik sepanjang 10 meter dan 120 meter.
Tanah longsor melanda empat kecamatan pada 23–24 November, yaitu Palembayan, Lubuk Basung, Palupuh, dan IV Koto. Material longsor menutup akses jalan provinsi dan kabupaten pada beberapa titik. Di Palembayan, empat titik longsor menutup jalan dengan ketinggian material mencapai 2,5 meter. Di Palupuh, longsor merusak halaman kantor nagari, akses jalan provinsi, serta jalan kampung menuju permukiman warga.
Angin kencang melanda Palupuh, Lubuk Basung, Tanjung Mutiara, dan IV Koto. Pohon tumbang menutup sejumlah jalan dan satu unit rumah warga mengalami kerusakan atap di Nagari Tiku Limo Jorong. Kejadian angin kencang tercatat pada 23–24 November.
Jalan provinsi di Jorong Pahambatan, Kecamatan IV Koto, turut amblas pada Senin (24/11/2025) pukul 15.30 WIB. Kerusakan sepanjang 70 meter dengan kedalaman 40 meter menyebabkan akses terputus total.
Di Kota Solok banjir terjadi di Kecamatan Lubuk Sikarah tepatnya di Kelurahan Kampai Tabu Karambia dan Kecamatan Tanjung Harapan di Kelurahan Koto Panjang. Air mengalir deras dan masuk ke kawasan permukiman.
BPBD mencatat banjir mengakibatkan runtuhnya sebagian bangunan rumah warga di dua kelurahan tersebut. Dampak langsung juga dirasakan enam kepala keluarga dengan total 18 jiwa yang terdampak.
Menurut keterangan, banjir merusak rumah warga di Kampai Tabu Karambia dan Koto Panjang, termasuk bangunan di sekitar kawasan AMIK Kosgoro yang runtuh akibat tekanan air. Banjir berdampak terhadap enam kepala keluarga dengan total delapan belas jiwa.
Parah
Dampak terparah terjadi di Padang Pariaman. Banjir, longsor, dan angin kencang di Kabupaten Padang Pariaman menyebabkan ribuan warga terdampak pada 17 kecamatan dan 56 nagari.
Cuaca ekstrem terjadi sejak Sabtu dini hari dan meluas hingga Minggu. Dua unit rumah rusak akibat terpaan angin kencang di beberapa nagari. Kondisi ini diperparah tingginya curah hujan.
Hujan intensitas tinggi memicu banjir setinggi 30 hingga 150 sentimeter. Sebanyak 3.326 rumah terendam pada 26 titik. Total warga terdampak mencapai 10.042 jiwa. Banjir juga merusak 15 rumah dan menyebabkan 13 rumah hanyut ke aliran sungai.
Banjir terparah terjadi di Kecamatan Ulakan Tapakih. Sebanyak 2.415 rumah terdampak dengan 7.265 jiwa. Kecamatan Batang Anai juga terdampak berat dengan 731 rumah tergenang dan 1.194 jiwa. Kecamatan Lubuk Alung mencatat 234 rumah terendam dengan 706 jiwa.
Longsor melanda 16 titik pada enam kecamatan. Kejadian ini menimbun badan jalan, merusak talud, dan memutus akses transportasi. Jalan menuju RSUD Padang Pariaman putus. Fasilitas pendidikan berupa satu unit sekolah rusak akibat material longsoran.
Lahan pertanian seluas 138 hektare sawah dan 26 hektare ladang ikut terendam. Kerusakan irigasi juga tercatat pada beberapa nagari. Total kerugian material mencapai Rp4,89 miliar.
BPBD Padang Pariaman melakukan evakuasi warga terjebak banjir. Pemerintah daerah meninjau lokasi terdampak dan menyalurkan bantuan makanan bagi pengungsi. Pendataan kerusakan dilakukan oleh petugas TRC BPBD bersama pemerintah kecamatan dan nagari.
Sebaran pengungsian berada di Ulakan, Seulayat, Manggopoh Palak Gadang, Sandi Ulakan, dan Kasang Batang Anai. Total pengungsi mencapai 327 jiwa yang terdiri dari ibu hamil, lansia, balita, dewasa, dan dua warga luka-luka.
Di Kota Padang, angin kencang, banjir genangan, serta tanah amblas tercatat terjadi hampir bersamaan di beberapa kecamatan berdasarkan laporan BPBD Sumatera Barat.
BPBD menyebut cuaca ekstrem memicu pohon tumbang di banyak titik Kota Padang. Dampak paling luas terjadi di Kecamatan Koto Tangah, Padang Barat, Pauh, Lubuk Begalung, Kuranji, hingga Nanggalo. Pohon tumbang menutup akses jalan dan merusak rumah warga.
“Angin kencang terjadi sejak 22 sampai 23 November. Dampaknya meluas dan mengganggu aktivitas masyarakat,” ulasnya.
Banjir genangan juga terjadi di Kelurahan Gunung Pangilun, Kecamatan Nanggalo. Hujan intensitas tinggi memicu luapan air pada Senin dini hari. BPBD mencatat banjir juga melanda kawasan Tabing Banda Gadang.
“Hujan deras memicu genangan di Gunung Pangilun dan Tabing Banda Gadang pada waktu yang hampir bersamaan,” katanya
Tanah amblas tercatat di dua lokasi berbeda pada Senin, 24 November. Peristiwa terjadi di Kelurahan Teluk Bayur pada pukul 07.41 WIB dan di Kelurahan Mata Air pada pukul 14.13 WIB. Retakan muncul di badan jalan, sementara sebagian teras rumah warga ikut amblas. (Bdr)







