PADANG — Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah mencanangkan gerakan “Farm the Future” atau pertanian masa depan di Auditorium Gubernuran, Kamis (9/10/2025).
Gerakan ini sejalan dengan Program Unggulan (Progul) Mahyeldi–Vasko, Gerak Cepat Sumbar Sejahtera, yang menitikberatkan pada Lumbung Pangan Sejahtera dan Ekonomi Keberlanjutan. Melalui Progul tersebut, pemerintah mengalokasikan 10 persen APBD untuk peningkatan produksi, hilirisasi, dan asuransi pertanian agar kesejahteraan petani meningkat serta menjadikan Sumatera Barat sebagai lumbung pangan nasional.
Program ini juga mencakup pendayagunaan perhutanan sosial untuk kesejahteraan masyarakat, pengembangan pertanian berbasis kawasan, serta pengelolaan sumber daya alam yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Progul itu menargetkan keseimbangan antara eksploitasi dan pelestarian sumber daya tambang, hutan, dan laut.
Selain itu, pemerintah mendorong akselerasi milenial entrepreneur dan womenpreneur agar pelaku UMKM tumbuh melalui pemberdayaan, kemudahan akses permodalan, serta digitalisasi untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Mahyeldi menyebut gerakan Farm the Future digagas untuk menumbuhkan semangat generasi muda agar kembali ke sektor pertanian yang diyakini menjadi jawaban atas ancaman krisis pangan global. “Gerakan ini membangkitkan minat anak muda bertani sekaligus menjawab isu tantangan krisis pangan global,” ujar Mahyeldi.
Ia mengakui sektor pertanian masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan lahan, rendahnya pemanfaatan teknologi, dan lambatnya regenerasi petani. “Sensus pertanian 2003 menunjukkan hanya 21,93 persen petani di Sumbar tergolong milenial. Kalau hari ini kita tidak bergerak, 10 atau 30 tahun ke depan siapa yang akan menanam dan memproduksi pangan,” tegasnya Mahyeldi.
Mahyeldi menyoroti produktivitas pertanian di Sumbar yang tumbuh landai, sementara permintaan pasar terus meningkat. “Produktivitas padi masih di kisaran 5 ton per hektare. Beberapa waktu lalu inflasi sempat dipicu gangguan produksi cabai merah. Ini peluang bagi generasi muda menghadirkan pertanian cerdas berbasis teknologi,” ujarnya Mahyeldi.
Ia mencontohkan penerapan inovasi pertanian seperti metode green house untuk mengatasi cuaca ekstrem dan hidroponik untuk lahan terbatas di perkotaan. “Kita ingin anak muda melihat bahwa pertanian hari ini bukan lagi kerja tangan semata, tapi kerja pikiran, riset, dan inovasi,” tambahnya Mahyeldi.
Mahyeldi menekankan gerakan smart farming tidak hanya mempercepat regenerasi petani melalui teknologi, tetapi juga membuka jalan bagi tumbuhnya startup agro serta ekosistem ekonomi pertanian berkelanjutan. “Kita ingin pertanian menjadi sumber ekonomi kuat dan berkelanjutan bagi Sumatera Barat,” tuturnya Mahyeldi.
Sementara itu, inisiator gerakan Farm the Future for Food Security and Sustainable Economy Mursalim menegaskan gerakan ini memiliki visi besar untuk mengubah citra petani menjadi profesi modern dan bergengsi. “Pertanian bukan lagi kerja tangan, tapi kerja pikiran dan inovasi. Kami ingin milenial Sumbar melihat profesi petani sebagai karier yang cerdas dan berprestasi,” ujarnya Mursalim.
Kegiatan pencanangan juga diwarnai penandatanganan komitmen kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, Forkopimda, perbankan, BUMN, media, kelompok petani milenial, serta mahasiswa. Gerakan ini diharapkan menjadi titik tolak kebangkitan pertanian Sumbar dengan semangat baru yang digerakkan kaum muda, berbasis inovasi dan nilai kearifan lokal Minangkabau. (Bdr)







