Sumatera Barat

Mahyeldi Paparkan Dua Inovasi Unggulan Sumbar dalam Penilaian IGA 2026

6
×

Mahyeldi Paparkan Dua Inovasi Unggulan Sumbar dalam Penilaian IGA 2026

Sebarkan artikel ini
Mahyeldi paparkan Lameh Kesa dan Udah Gagah, dua inovasi unggulan Sumbar dalam penilaian Innovative Government Award 2026.

PADANG — Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) mengandalkan dua inovasi unggulan dalam penilaian Innovative Government Award (IGA) 2026 yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Kedua inovasi tersebut mengangkat potensi ekonomi lokal dan meningkatkan pelayanan kesehatan jiwa.

Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah memaparkan inovasi Lameh Kesa dan Udah Gagah secara daring dari Istana Gubernuran, Padang, Selasa (3/11/2026).

Lameh Kesa merupakan inovasi pengolahan nira kelapa sawit menjadi gula merah untuk meningkatkan nilai ekonomi sektor perkebunan. Sementara itu, Udah Gagah merupakan program deteksi dini kekambuhan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) untuk mencegah pemasungan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan jiwa.

Mahyeldi mengatakan, Pemprov Sumbar menempatkan keberlanjutan inovasi sebagai perhatian utama. Pemerintah daerah memperkuat regulasi, meningkatkan komitmen kepala organisasi perangkat daerah (OPD), serta mengintegrasikan pengembangan inovasi dari masyarakat, perguruan tinggi, media massa, dan komunitas ke dalam perencanaan pembangunan daerah.

“Untuk menjamin keberlanjutan inovasi daerah, kami melakukan integrasi pengembangan inovasi dari berbagai unsur masyarakat, memperkuat komitmen kepala organisasi perangkat daerah, serta menyiapkan regulasi yang lebih kuat,” ujarnya.

Baca Juga:  Singgah Sahur di Bukittinggi, Mahyeldi Salurkan Bantuan Bedah Rumah Kartini

Saat memaparkan Lameh Kesa, Mahyeldi menjelaskan bahwa inovasi tersebut mengubah pemanfaatan kelapa sawit yang selama ini dikenal sebagai penghasil minyak menjadi sumber bahan baku gula merah melalui pengolahan niranya. Terobosan ini membuka peluang diversifikasi pendapatan petani, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan nilai tambah perkebunan lokal.

Salah satu lokasi pengembangan Lameh Kesa berada di Kecamatan Sungai Aur, Kabupaten Pasaman Barat. Berdasarkan paparan Mahyeldi, pengolahan nira sawit dari satu hektare perkebunan berpotensi menghasilkan pendapatan sekitar Rp34 juta dalam bentuk gula cair. Nilainya dapat meningkat hingga Rp72 juta jika diolah menjadi gula merah cetak.

Inovasi tersebut juga mendukung peremajaan kebun sawit atau replanting. Petani dapat memperoleh sumber pendapatan alternatif selama masa peremajaan tanaman.

Dari sisi lingkungan, Lameh Kesa membantu mengurangi praktik pembakaran bagian tanaman sawit yang berpotensi menghasilkan asap. Inovasi ini juga telah direplikasi di sejumlah daerah, termasuk Kota Padang Panjang, sebagai bagian dari upaya mendorong hilirisasi produk unggulan daerah.

Sementara itu, Udah Gagah berfokus pada deteksi dini gejala kekambuhan ODGJ melalui pendampingan keluarga dan tenaga kesehatan. Deteksi serta penanganan lebih cepat diharapkan dapat menekan risiko kekambuhan sekaligus mencegah pemasungan yang merampas hak dan martabat pasien.

Baca Juga:  Safari Ramadan di Pasaman Barat, Mahyeldi Serahkan Bantuan Pendidikan Rp600 Juta

“Melalui Udah Gagah, kita ingin memastikan pasien mendapatkan penanganan lebih cepat. Keluarga juga memperoleh pendampingan sehingga risiko kekambuhan dan praktik pemasungan dapat ditekan,” ungkapnya.

Program Udah Gagah telah menjangkau sekitar 2.000 penerima manfaat. Sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan juga telah mereplikasi program tersebut, di antaranya di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Pesisir Selatan.

Mahyeldi menegaskan, kedua inovasi tersebut mencerminkan komitmen Pemprov Sumbar dalam menghadirkan solusi atas persoalan masyarakat. Lameh Kesa mendorong hilirisasi dan peningkatan ekonomi berbasis potensi lokal. Sementara itu, Udah Gagah memperkuat pelayanan kesehatan jiwa sekaligus melindungi hak ODGJ.

“Kami berharap inovasi-inovasi ini terus dikembangkan dan memberikan manfaat lebih luas, tidak hanya bagi Sumatera Barat, tetapi juga menjadi kontribusi bagi Indonesia,” pungkasnya.

Dalam presentasi di hadapan Tim Penilai Kemendagri, Mahyeldi didampingi Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) beserta jajaran, Kepala Rumah Sakit Jiwa HB. Saanin, serta jajaran Dinas Kesehatan Provinsi Sumbar. (Bdr)