Peristiwa

Budidaya Maggot Banyak Manfaat, Solusi Atasi Sampah Rumah Tangga

286
×

Budidaya Maggot Banyak Manfaat, Solusi Atasi Sampah Rumah Tangga

Sebarkan artikel ini

SOLOK SELATAN – Maggot adalah larva (ulat) dari lalat Black Soldier Fly (BSF). Maggot merupakan tahap kedua dalam siklus hidup lalat BSF, setelah telur dan sebelum menjadi pupa dan lalat dewasa. Maggot dikenal sebagai pengurai sampah organik yang efektif dan juga merupakan sumber pakan ternak yang kaya nutrisi.

Untuk itu, Kelompok Pecinta Alam (KPA) Winalsa Kabupaten Solok Selatan bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Barat mengembangkan budidaya maggot sebagai solusi ramah lingkungan dalam pengelolaan limbah organik dan penguatan ketahanan pangan lokal.

Budidaya ini dilakukan di Pondok Belajar Pangan Berkelanjutan WALHI Sumbar yang berlokasi di Sukabaru Jorong Bukik Malintang Utara, Nagari Lubuk Gadang, Kecamatan Sangir, Kabupaten Solok Selatan.

Ketua KPA Winalsa Solok Selatan, Hendri Syarief, menjelaskan bahwa budidaya maggot bukan hanya solusi teknis untuk mengolah sampah organik, tetapi juga strategi pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan serta memberikan dampak ekonomi.

“Maggot ini punya banyak manfaat. Ia bisa mengurai sampah organik rumah tangga, menghasilkan pakan ternak berkualitas, dan tentu saja menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat desa” ujar Hendri saat ditemui di lokasi budidaya, Jumat, (25/07/2025).

Baca Juga:  Wako Erman Safar Himbau Masyarakat Bukittinggi untuk Mendukung Perjuangan Palestina

Maggot yang mampu melahap habis sampah organik rumahan selain bisa untuk pakan ternak yang cocok untuk ayam, ikan, bebek, burung dan reptil.

“Maggot mampu mengurai sisa makanan seperti nasi, limbah sayuran, buah, hingga kotoran ternak. 1 kg maggot bisa menghabiskan 2–3 kg sampah organik per hari. Selain itu sisa sampah yang dilahap maggot menjadi pupuk organik (kasgot) yaitu, hasil dari kotoran maggot yang kaya nutrisi untuk tanaman,” katanya.

Siklus hidup maggot dari telur butuh waktu menetas dalam 4 hari. Dan kemudian, larva alias maggot dapat tumbuh selama 14–18 hari. Lalu menjadi Pupa yang dapat berkembang selama 10–14 hari. Selanjutnya menjadi Lalat dewasa yang hidup 5–8 hari hanya untuk kawin dan bertelur.

“Dipasaran maggot saat ini dijual per kilogram sekitar Rp 8.000. Namun, Kami masih menggunakan untuk pakan ternak dan tidak menjualnya. Ini cukup membantu kami yang biasanya membeli pakan jenis pelet dan pur,” kata dia.

Baca Juga:  Ketua BPRN Nagari Gurun Diturunkan di Tengah Jalan, Eldiman Digantikan Irwan Dt Paduko Bosa

Menurutnya, maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF) mampu mengurai limbah organik secara efisien dan menghasilkannya kembali menjadi bahan bermanfaat bagi pertanian dan peternakan. Tidak hanya itu, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi kepada masyarakat, terutama generasi muda, mengenai pentingnya pertanian ekologis dan pengelolaan sumber daya alam yang adil.

Pondok Belajar Pangan Berkelanjutan WALHI Sumbar menjadi tempat pembelajaran sekaligus praktik langsung, dengan konsep kolaboratif antar organisasi lingkungan dan petani lokal. Selain budidaya maggot, di lokasi ini juga dikembangkan sistem pertanian terpadu berbasis agroekologi.

“Tujuan akhirnya adalah kedaulatan pangan. Kita ingin masyarakat, khususnya petani, tidak hanya menjadi objek pembangunan tapi juga subjek yang mengelola dan menjaga tanahnya sendiri,” tutup Ketua KPA itu. (afr)