SOLOK SELATAN — Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumatera Barat (Sumbar) menyebutkan, Petani sebagai pahlawan bangsa dibebani oleh pertanian modern yang terbebani oleh biaya yang mahal dan merusak lingkungan.
“Untuk itu, kami dari Walhi Sumbar bersama Komunitas Pecinta Alam (KPA) Winalsa Solok Selatan dan penyuluh pertanian mencoba mengembangkan sistem pertanian yang ramah lingkungan dengan metode mulsa jerami tanpa olah tanah atau basawah pokok murah,” ujar
Direktur Eksekutif WALHI Sumbar, Wengki Purwanto, Rabu (23/072025).
Dia mengatakan, dari data yang didapat, Solok Selatan menghabiskan 11.500 ton pupuk setiap tahun. Biaya yang ditanggung petani setelah subsidi mencapai Rp 27 miliar dengan kalkulasi harga sekitar Rp 2.300 – 2.500 perkilonya. Sedangkan Subsidi yang harus dibayar negara sekitar Rp 115 miliar, sehingga total negara dan petani mengeluarkan keuangan untuk pertanian modern Rp 142 miliar pertahunnya. Belum lagi dampak yang ditimbulkan dari pupuk ini yang menyebabkan kerusakan tanah dan mencemari lingkungan dan ini juga menjadi bagi negara.
“Dengan sistem pertanian metode musa jerami tanpa olah tanah (MTOT), proses ini tidak hanya menghilangkan beban oleh petani, tapi juga tidak menghilangkan keuangan negara. Jadi ini meski kita dukung bersama sama dalam mewujudkan kedaulatan pangan bagi petani,” katanya.
Metode pertanian ini, lanjutnya, akan sangat efisien, mudah dan murah serta memulihkan kembali lingkungan yang rusak, termasuk juga menghilangkan beban keuangan bagi petani dan negara.
Untuk di Solok Selatan, WALHI memiliki training center atau pondok belajar pangan berkelanjutan, kedepan ini agenda pertama WALHI dengan pemerintah kabupaten Solok Selatan untuk bersama sama membangun pertanian yang ramah lingkungan, juga sekaligus menjadi solusi krisis iklim yang hari ini menjadi ke kuatiran global.
“WALHI menempatkan diri sebagai bagian dari masyarakat petani itu sendiri, dan akan berkabolorasi dengan 19 kabupaten dan kota di Sumbar, dimana WALHI bersama sama dengan petani untuk mengembangkan sistem pertanian yang ramah lingkungan, dimana hari ini Rabu (23/07/2025) kita mulai dari Solok Selatan,”jelasnya.
Ditambahkan, sistem pertanian sawah dengan pokok murah, akan menghilangkan ketergantungan dengan pupuk kimia, karena jerami yang dipakai pada penanaman tanpa olah tanah itu akan menjadi pupuk alami bagi sistem pertanian kita.
“Ini menjadi strategis bagi kemajuan daerah, dimana uang Rp 142 miliar dari pembelian pupuk akan bisa dimanfaatkan oleh pemerintah daerah untuk hal lain. Yang jelas itu akan melipat gandakan beban bagi petani dan negara serta juga merusak lingkungan kita, baik tanah maupun air,”katanya.
Sementara itu Ketua KPA Winalsa, Hendri Syarief menyampaikan, melalui tanam padi dengan MTOT atau sawah pokok murah ini akan mengembalikan minat petani untuk kembali bertanam padi setelah beberapa lama mereka telah beralih profesi.
Sebagai Non Governmental Organization (NGO) lokal, melalui proses basawah pokok murah ini, tentunya ramah lingkungan dan modal minim, sehingga masyarakat akan kembali bergairah untuk bertani karena modalnya terjangkau, sehingga ini akan menjadi konsen kita kedepannya.
Untuk masyarakat petaninya, kami mengutamakan masyarakat yang berada di sekitar pondok belajar pangan berkelanjutan. Disini kita akan memberikan pelatihan dan praktek langsung di lapangan kepada petani sawah.
“Tentunya harapan kita, apa yang telah kita lakukan ini dengan basawah pokok murah, nantinya akan bisa di contoh oleh masyarakat luas, sehingga masyarakat menerapkan di lahan pertaniannya masing-masing,”katanya.
Meski masyarakat petani tidak memiliki lahan yang luas, melalui metode itu, akan memancing minat dan bukan lagi kendala untuk bertanam padi.
Dia berharap, meski pemerintah daerah melalui penyuluhnya telah melakukan di dalam kecamatan dan bahkan kabupaten melalui penyuluhnya. Kita berharap pemerintah daerah bersama jajaran Dinas Pertanian lebih memperluas skala pertanian basawah pokok murah ini, sehingga masyarakat betul betul terbantu dengan modal yang minim, tapi bisa menghasilkan sehingga ada gairah petani untuk kembali bertanam padi.
Koordinator penyuluh pertanian Kecamatan Sangir, Bahwanudin Batubara menjelaskan, bertanam padi dengan musa jerami tanpa olah tanah atau basawah pokok murah ini merupakan solusi terkait permasalahan yang selama ini oleh petani padi sawah.
Harapannya dengan metode MTOT ini akan memotivasi kembali minat pemilik lahan yang ada, sehingga lahan yang ada sebanyak 2.511,41 hektar di kecamatan Sangir kembali aktif untuk menghasilkan gabah atau padi, begitu juga hendaknya di kecamatan lain, sehingga terwujud ketahanan pangan di Kabupaten Solok Selatan kedepannya.
Terkait hasil yang didapat dengan pola MTOT jika dibandingkan dengan konvensional, menurutnya, hasil yang didapatkan masih bertahan, namun perbandingannya untuk basawah pokok murah ini sudah jelas biaya produksinya akan berkurang.
“Selama ini yang menjadi kendala bagi petani adalah biaya produksinya cukup tinggi, melalui MTOT ini petani tidak lagi mengeluarkan biaya yang tinggi, namun sudah bisa kembali bercocok tanam,”sebutnya.
Selanjutnya setelah lahan kembali produktif, dengan MTOT ini kesuburan lahan meningkat dan mikroorganisme yang bermanfaat itu sudah berkembang biak di lahan sawah, sehingga produksi dan produktivitas padi itu akan meningkat.bSementara dibalik itu biaya produksi dapat kita tekan jauh lebih banyak lagi.
Dia menyebutkan, di tahun kemaren (2024), melalui metode MTOT ini telah berhasil dilaksanakan melalui sekolah lapang yang difasilitasi oleh Pemerintah Nagari Lubuak Gadang Selatan, dimana setelah panen hasil meningkat dari konvensional.
“Melalui MTOT ini kita akan menuju ke padi organik, jika kita terapkan dari konvensional langsung ke organik, akan mempengaruhi hasil panen, malah ditakutkan akan cenderung menurun. Melalui basawah pokok murah ini, secara berangsur kita mengurangi pemakaian kimia sintetik, secara bertahap kita lakukan dan tujuannya adalah menuju tanam padi organik yang diinginkan,”sebutnya.
Kepala Divisi Wilayah Kelola Rakyat Eksekutif Nasional WALHI Indonesia, Uslaini mengatakan, kita di Solok Selatan sedang melaksanakan training of trainer pada petani yang berada di sekitar pondok belajar pangan berkelanjutan binaan WALHI, tentang basawah pokok murah atau MTOT.
Ini sebenarnya bagian dari WALHI mencoba membangun apa yang kami sebut dengan akademi ekologi membangun. Jadi kita ingin ada satu tempat bagi penggiat lingkungan untuk belajar dan mencoba teori teori baru, untuk mencoba mencari pengetahuan baru, bagaimana melakukan kegiatan pertanian yang lebih ramah lingkungan, yang berkelanjutan, tapi tidak tinggi biaya.
“Metode ini ni salah satu uji coba kita di akademi ekologi di Sumbar, bagaimana petani bisa menghasilkan dengan menekan biaya, ramah lingkungan. Dimana dengan memanfaatkan jerami dari hasil panen sebelumnya bisa dipakai sebagai pupuk,”katanya.
Menurutnya, program akademi ekologi ini adalah program WALHI secara Nasional, kita mendorong supaya semua WALHI di daerah dimana kita ada 29 kantor di 29 Provinsi di Indonesia, salah satunya di Sumbar, dimana kita mendukung supaya kita punya tempat. Seperti di Solok Selatan ini di lokasi ini di Sukabaru Jorong Bukik Malintang Utara, Nagari Lubuak Gadang, Kecamatan Sangir, kita punya tempat untuk bertemu, lalu penyiapan modul untuk belajar
“Jadi dukungan dari eksekutif nasional itu, kita punya tempat supaya kita bisa bertemu, modul untuk belajar oleh akademi ekologi untuk membangun pengetahuan oleh customer disekitar wilayah tempat kita berada,”sebutnya.
Ditambahkan, dalam proses belajar ini kita akan melakukan evaluasi terhadap perbaikan perbaikan terhadap model model yang dilakukan, sehingga kita akan menemukan satu model yang kita yakini itu adalah model yang terbaik untuk kita terapkan dalam skala yang lebih luas.
“Dalam evaluasi kepada akademi ekologi itu, setelah dilakukan perbaikan dan menemukan satu model yang terbaik, maka kita akan menerapkannya dalam skala yang jauh lebih luas, intinya bermanfaat dan berguna bagi orang banyak,”tutupnya. (afr)







