ROMBONGAN ekspedisi Padang – Solok, yang terdiri dari puluhan peserta, telah melangkahkan derap kaki mereka membelah hutan rimba belantara. Sebagian dari puluhan peserta tersebut, tersirat dari wajah mereka yang peduli lingkungan dan cinta alam. Rute ini penuh tantangan dan cukup ekstrem.
DASMAN BOY – – – – Kota Padang Sumbar
Namun, ekspedisi Padang – Solok tersebut digarisbawahi dengan sasaran, agar generasi Kota Padang dan Sumbar umumnya, memahami nilai nilai perjuangan pahlawannya secara historis. Ide menelusuri jalur Padang – Solok digagas kader partai Gerindra yang duduk di legislatif DPRD Sumbar Evi Yandri Rajo Budiman.
Pria yang hobi bertualang dan naik gunung ini bersama rombongan yang terdiri dari 35 personel itu ingin merasakan asam garam, pahit getirnya para pejuang masa lalu menerobos jalur rimba belantara, yang penuh jurang dan bukit yang menjulang di jajaran Bukit Barisan. Jalur itu juga bakal dihiasi pernak pernik perjjalanan, yang akan ditemui di perjalanan seperti duri, onak, acek (pacet – red), jilatang (tanaman gatal dan pedih-red) dan rintangan lainya.
Karena, mengutip semboyan Presiden Soekarno, “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah (Jasmerah) yang terkenal yang diucapkan Soekarno, dalam pidatonya yang terakhir pada HUT RI, 17 Agustus 1966 silam.
Tersirat dalam semboyan tersebut pentingnya mengenal sejarah, terutama bagi generasi muda, sehingga mencintai negeri ini. Karena, dalam mempertahankan sejengkal tanah negeri ini tak segampang dibayangkan. Memakan korban, jiwa raga, darah, air mata, harta dan sebagainya.
Di saat pelepasan di Medan Nan Bapaneh Kantor KAN Pauh IX Kuranji, Evi Yandri menuturkan, ekspedisi Jalur Padang-Solok bukan sebagai gagah gagahan. Kemudian, nukan melepaskan hasrat semata, untuk sebuah euforia. Hasrat bukan, sebagai hanya menempuh jalur Padang – Solok menelusuri para jejak Pahlawan, lalu kemudian dibangga banggakan. Bukan itu tujuannya.
Tapi, ketahuilah, waktu masa perjuangan itu ketika jalur Jalan Raya Padang – Solok dan jalur Padang – Bukittinggi dikuasai Sekutu dan panjajah. Maka tak terbantahkan salah satu cara untuk bisa berkomunikasi dengan pejuang yang ada di kawasan Solok, lalu para pejuang yang berada di kawasan pinggiran kota seperti Pauh IX Ke, Koto Tangah Pauh V Kecanatan Pauh memanfaatkan jalur kompas Padang – Solok ini.
Menempuh jalur ini, memang tak semudah membalikan telapak tangan. Jika ditempuh para pejuang yang memiliki fisik yang kuat dan terlatih, jalur ini bisa ditempuh dua hari lebih. Jika, masyarakat menempuh jalur ini bisa saja memakan waktu 6 hari lebih kurang atau seminggu.
Rombongan ekspedisi Padang – Solok yang dipimpin legislator Sumbar Evi Yandri Rajo Budiman bersama rombongan, berangkat dari Bukit Sikayan Gariang tak beberapa bagian ke timur objek Wista Lubuk Timpuruang usai sholat Jumat (9/12 /2022).
Rombongan, yang melibatkan Mapala, Kelompok Pecinta Alam (KPA), Aktivis Lingkungan Arkeologi, Pembaca Peta Lama, Kasi Cagar Budaya, Tim Medis dan Permuseuman Dikbud Kota Padang.
Juga ikut serta Tim Pemetaan dan Eksplorasi Tambang dan Tim Jelajah Cagar Budaya Kota Padang, Komunitas Flora dan Fauna
Komunitas Pecinta Reptil dan Ampibi. Hari pertama, mulai menapak jalur ekspedisi tersebut diwarnai cuaca mendung, karena pagi harinya Kota barusan diguyur hujan.

Pada hari kedua, Sabtu (10/2/2022) pada sore harinya rombongan Evi Yandri bersama penggiat pecinta alam Khalid Syaifullah Rj Basa. Informasi chating whatsaap grup (WAG) yang diterima penulis, menyebutkan, Alhamdulillah
Kami rombongan Ekspedisi Padang – Solok 35 orang sudah sampai di Camp II, kondisi tim anggotanya semua dalam keadaan baik. Besok, Minggu (11/12/2022) akan dilanjutkan menempuh rute menuju Bukit Sasak Angok terus ke Bukit Nurjidah. “Doa kan semoga perjalanan kami lancar dan sesuai dengan yang direncanakan,” tulis erb (Evi Yandri Rajo Budiman – red).
Evi Yandri menyebutkan, usai menempuh Bukit Sasak Angoh lalu hamparan Bukit Nurjida, rombongan bakal menempuh rute yang bakal cukup berat, tanjakan Bukit Gadang. Rombongan ini dalam mewujudkan rute mereka menyibak hutan belantara ke Koto Sani Solok, kadang kadang diwarnai hujan, gerimis, kabut yang selalu menyelimuti. Maka personel tim selalu berjalan hati hati agar anggota tim tidak tercecer. (bersambung)







