PADANG – Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Museum Adityawarman Dinas Kebudayaan Provinsi Sumbar menggelar pameran kerajinan karya budaya hasil tambang. Kerajinan tersebut terdiri dari perhiasan emas, perak dan suasa (emas 18 karat).
Pameran tesebut berlangsung mulai Rabu (26/10) hingga Senin (30/10). Pameran tersebut kerjasama antara UPTD Museum Adityawarman dengan Museum Kota Gede, Yogyakarta di Ruang Utama Pameran Lantai I Museum Adityawarman di Padang.
Dengan pameran tersebut juga sekaligus menggali kesamaan antara Kota Gede Yogyakarta dengan Koto Gadang, Agam di Sumbar. Karena kebetulan dua daerah tersebut sama-sama menjadi pusat kerajinan logam. Terutama di Koto Gadang Agam, pusat kerajinan perak.
“Kita sengaja memilih kerajinan hasil tambang ini, karena selama ini belum pernah dipamerkan. Sementara kerajinan tersebut sangat banyak jumlahnya,”sebut Kepala UPTD Museum Adityawarman Dinas Kebudayaan Provinsi Sumbar, Dewi Ria, Selasa (25/10/2022).
Di museum ini dipamerkan berbagai perhiasan kedua daerah melalui pameran bersama Dinas Kebudayaan Provinsi Sumbar dengan Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta bertajuk “Jalinan Mahakarya Budaya”.
Pameran bersama kerajinan karya budaya hasil tambang tersebut, juga mengundang Dekranasda Sumbar, BKOW, Bundo Kanduang, komunitas seni dan budaya serta sejarawan.
Dewi mengungkapkan, saat ini Museum Adityawarman memiliki 300 koleksi perhiasan. Pada pameran nanti, ada 90 koleksi perhiasan yang dipamerkan. Terdiri dari 75 koleksi perhiasan dari Sumbar dan 15 koleksi perhiasan dari Museum DI Yogyakarta.
“Perhiasan yang dipamerkan ada dari bahan emas 18 karat hingga 24 karat. Juga ada perhiasan berbahan perak dari Sumbar. Perhiasannya berupa gelang, kalung, anting dan lainnya yang dipakai pengantin perempuan dan laki-laki Minangkabau dari ujung kepala hingga ujung kaki. Perhiasan ini dipamerkan di ruang pameran,” terangnya.
Di ruangan pameran ini nantinya, ada lima zona, di antaranya zona pengantar, zona tambang, zona koleksi dan lainnya. Pembagian zona ini untuk pengamanan barang perhiasan yang dipamerkan.
Untuk pengamanan lain pameran perhiasan yang pertama kali digelar di museum tersebut dengan membatasi pengunjung yang hadir di ruang pameran. Selain itu pintu utama yang berbahan kaca diganti dengan pintu berbahan besi.
Selain pameran, juga ada kegiatan lainnya berupa Jumpa Sahabat Museum Adityawarman yang digekar 27 Oktober 2022. Acara yang dikemas dalam bentuk talkshow nanti, tujuannya untuk mendekatkan museum dengan masyarakat.
Kurator Pameran Bersama Salaka Kerajinan Perak Kota Gede dari Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta, Sektiadi mengatakan, pihaknya menyambut gembira digelarnya pameran budaya bersama ini. Di mana untuk pertama kalinya masyarakat bisa melihat nantinya jalinan Mahakarya Budaya DI Yogyakarta dan Minangkabau.
“Ini lebih menjadi bagian pameran besar berbasis tambang yang direncanakan oleh Museum Adityawarman. Kita tidak banyak tambang yang bisa dieksplor. Namun, ada kerajinan masyarakat lokal menjadi adat dan tradisi yang berkaitan dengan logam. Terutama perak,” terangnya.
Sektiadi mengungkapkan, kerajinan logam yang dipamerkan nanti kerajinan perak dari Kota Gede yang merupakan kota tua yang menjadi bahagian dari DI Yogyakarta. “Kota Gede artinya Kota Besar. Kalau di Sumbar ada Koto Gadang di Kabupaten Agam yang juga menjadi sentra kerajinan perak. Ada kesamaan. Ini menjadi semangat persaudaraan,” harapnya.
Kerajinan perak Kota Gede saat ini terang Sektiadi sudah didaftarkan warisan budaya takbenda Indonesia di DI Yogyakarta. Melalui pameran budaya bersama nanti, sejumlah kerajinan perak, baik itu perhiasan baru dan lama, berupa perabot, perangkat minum teh dan souvenir yang cukup khas dari Kota Gede yang populer di Eropa di masa kolonial dipamerkan nanti.
“Pameran nanti juga untuk memperkaya pengetahuan, juga disaksikan bagaimana masyarakat mengolah perak secara khusus jadi perhiasan. Pameran ini bisa dipelajari juga oleh masyarakat Yogyakarta nantinya, bagaimana masyarakat Sumbar mengolah logam,” terangnya.(Bdr)







