Ekonomi

Program Tanam Kedelai di Sumbar Gagal, Ini Penyebabnya

537
×

Program Tanam Kedelai di Sumbar Gagal, Ini Penyebabnya

Sebarkan artikel ini
Seorang petani sedang berada di ladang kedele. foto net

Padang, Singgalang
Upaya Pemerintah Provinsi Sumbar untuk menjadi penghasil kedelai akhirnya tidak dapat terujud. Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumatera Barat menyatakan mulai tahun 2019 ini, tidak lagi melakukan penanaman kedelai dengan sejumlah persoalan.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumbar, Candra mengakui banyak kendala di lapangan di saat berupaya melakukan penanaman kedelai. Salah satunya yakni mahalnya bibit kedelai yang mencapai Rp15 ribu per kilogram, pemeliharaaan, dan hal lainnya. Akibatnya membuat semangat petani menanam kedelai jadi kendor.

“Awalnya kita telah memulai gerakan menanam kedelai, melalui pajele (padi, jagung dan kedelai). Setelah dijalani, ternyata bibitnya mahal, dan biaya pemeliharaan cukup tinggi. Akibatnya kini lahan yang dulu sempat ditanami kedelai, ada yang beralih bertanam jagung,” katanya, Senin (13/05/2019).

BACA JUGA  Wako Erman Safar Himbau Masyarakat Tunaikan Kewajiban Bayar Zakat

Dijelaskannya, dalam melakukan penanaman kedelai ini, untuk satu kilogram bibit kedelai seharga Rp15 ribu itu hanya bisa memenuhi lahan seluas 40 meter. Apabila dikakulasikan untuk satu haktare lahan itu kurang lebih bisa menghabiskan 25 kilogram bibit kedelai, artinya uang yang harus dikeluarkan untuk satu haktare itu Rp375 ribu. Sementara untuk satu orang petani memiliki minimal dua haktare lahan kedelai.

Selain harga bibit yang terbilang mahal, biaya perawatan untuk bertani kedelai juga terbilang cukup rumit. Karena tanaman kedelai sangat rentan diserang hama yang mengakibatkan buah kedelai becak-becak hitam. Cara untuk mengantisipasi hama itu, perlu dilakukan penyemprotan secara teratur, melihat dari kondisi tanamannya. Kondisi ini akan semakin parah, apabila cuaca hujan sering melanda.

BACA JUGA  Dorong Investasi Jatim-Sumbar, Khofifah Ajak Pengusaha Investasi di SIER

“Belum lagi untuk biaya panennya. Sebenarnya untuk meminamalisir biaya panen itu telah kita bantu alat mesin perontokannya melalui kelompok tani. Tapi persoalannya petani masih memilih cara tradasional, akibatnya cukup banyak tenaga yang dikerahkan dan membuat pengeluaran dana yang cukup besar,” ujarnya.

Comment