PADANG – Ketua Pemusatan Latihan Provinsi (Pelatprov) KONI Sumatera Barat, Dr. Risky Syahputra, membuktikan bahwa tugas membina prestasi tidak harus menjauhkan diri dari arena pertandingan.
Pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumatera Barat 2026, ia kembali turun sebagai atlet dan berhasil meraih dua medali emas dan satu medali perak dari cabang olahraga soft tenis.
Dua medali emas diraih Risky pada nomor tunggal putra dan ganda putra, sementara satu medali perak dipersembahkan dari nomor beregu putra.
Capaian tersebut menegaskan konsistensinya di ajang Porprov. Sejak debut pada 2010, Risky tercatat selalu naik podium. Ia meraih satu emas pada Porprov 2010, dua emas (2012), dua emas (2014), dua emas dan satu perak (2016), tiga emas (2018), serta dua emas dan satu perak (2026). Dengan hasil ini, total koleksinya mencapai 12 medali emas dan 2 medali perak dari enam edisi Porprov.
“Keikutsertaan di Porprov 2026 adalah bagian dari tanggung jawab moral. Sebagai pengelola pembinaan, kita harus merasakan langsung apa yang dirasakan atlet – tuntutan latihan, tekanan pertandingan, dan proses menuju prestasi,” ujar Risky saat ditemui usai penutupan Porprov Sumbar, Rabu (14/10/2026) di Padang.
*Bekal PON dan Pelatnas SEA Games*
Di level nasional, Risky juga memiliki rekam jejak mentereng. Pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016, ia meraih satu perak dan satu perunggu, dan kembali menyumbang satu perunggu pada PON 2024. Total, ia telah mengoleksi satu perak dan dua perunggu di ajang PON.
Pengalamannya bahkan menembus level internasional. Ia pernah tergabung dalam Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) soft tenis untuk persiapan SEA Games 2019.
Menurutnya, pengalaman bertanding di PON dan Pelatnas menjadi modal penting sebagai Ketua Pelatprov. Ia memahami langsung pentingnya kualitas persiapan, strategi pertandingan, hingga manajemen pemulihan atlet.
*Anggaran Pembinaan Harus Jawab Kebutuhan Atlet*
Berangkat dari pengalamannya sebagai atlet, Risky menekankan bahwa prestasi tidak hanya dibangun dari latihan keras. Ada aspek krusial yang sering luput dari perencanaan anggaran: gizi, vitamin, dan istirahat.
“Atlet butuh karbohidrat untuk energi, protein untuk pemulihan otot, lemak sehat, serta vitamin dan mineral. Vitamin B untuk metabolisme energi, vitamin C untuk imunitas, vitamin D, kalsium, dan zat besi untuk tulang dan distribusi oksigen. Ini tidak bisa dibebankan sepenuhnya ke atlet dan keluarga,” tegasnya.
Ia menilai anggaran pembinaan KONI dan pengurus cabang olahraga harus dirancang lebih komprehensif. Tidak hanya untuk transportasi, akomodasi, dan perlengkapan pertandingan, tetapi juga untuk dukungan gizi selama Pelatprov, pemeriksaan kesehatan berkala, konsultasi ahli gizi, pemantauan fisik, hingga fisioterapi.
“Target medali harus sejalan dengan pemenuhan kebutuhan atlet. Atlet dituntut disiplin, tapi organisasi wajib menyediakan lingkungan pembinaan yang layak, terukur, transparan, dan akuntabel,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya manajemen istirahat. Atlet dewasa, kata dia, idealnya tidur 7-9 jam per malam, bahkan lebih saat beban latihan intensif, untuk menghindari kelelahan kronis.
*Akademisi dan Penerus Tradisi Olahraga*
Dr. Risky Syahputra merupakan putra dari Prof. Syahrial Bakhtiar, tokoh olahraga Sumbar yang pernah menjabat Ketua Umum KONI Sumbar dua periode (2009-2013 dan 2013-2016).
Selain atlet, Risky adalah akademisi bergelar doktor di bidang olahraga dengan keahlian identifikasi bakat olahraga (sports talent identification). Keilmuan ini, menurutnya, penting untuk membangun sistem pembinaan berkelanjutan yang tidak hanya mengandalkan intuisi, tetapi berbasis data dan evaluasi sistematis.
Perjalanan organisasinya dimulai sebagai anggota Bidang Pembinaan Prestasi (2017-2021), Kepala Bidang Binpres KONI Kota Padang (2021-2025), hingga kini dipercaya sebagai Wakil Sekretaris Umum II KONI Sumbar sekaligus Ketua Pelatprov KONI Sumbar. Ia juga aktif di Pengprov tenis dan soft tenis.
“Bagi KONI Sumbar, membangun prestasi butuh kerja bersama. Tidak cukup hanya menetapkan target medali, tapi membangun sistem yang mengintegrasikan latihan berkualitas, gizi, kesehatan, istirahat, dan anggaran yang bertanggung jawab,” pungkasnya. (drd) .







