PADANG – Di antara riuh-rendahnya Kejuaraan Tenis Piala Kapolda Sumbar HUT RI Ke-81, ada satu nama yang mencuri perhatian: Novita Rama (54). Bukan hanya karena prestasinya meraih Juara 2 Kategori Beginner Putri bersama Tim Basuo Tenis, tapi karena kisah hidup di baliknya.
Wanita kelahiran Muaro Labuah, 25 Mei 1972 ini adalah potret perempuan tangguh Minang. Alumni Manajemen Ekonomi Unand sejak sembilan (9) tahun lalu hidup single parent untuk berjuang membesarkan lima orang anaknya, dimana dua diantaranya kuliah di ITB dan dua lagi sudah bekerja, serta yang bungsu masih anak sekolahan.
Bertahun-tahun mengadu nasib di Belanda sejak suaminya wafat tahun 2017 lalu, Novita akhirnya memutuskan untuk pulang. Kembali ke pangkuan kampung halaman, Muaro Labuah, Solok Selatan. Keputusan yang tidak mudah, tapi penuh cinta.
“Kita merantau untuk anak-anak. Setelah cukup, kita pulang. Muaro Labuah itu rumah, di sinilah hati tenang,” tuturnya saat diwawancarai di sela turnamen akhir pekan lalu.
Sekembalinya ke kampung, ia menemukan kebahagiaan baru lewat tenis lapangan. Sosoknya yang dikenal santun, ramah, dan muda bergaul membuatnya cepat diterima di komunitas tenis. Tenis ia jadikan sebagai cara menjaga kebugaran di usia yang tak lagi muda.
Tak hanya tenis, jiwa petualangnya juga tersalurkan lewat hobi otomotif, khusus trabas motor trail. Kontras, tapi itulah Novita – lembut di luar, tangguh di dalam.
Piala Kapolda tahun ini menjadi penanda indah kepulangannya. Juara 2 yang ia raih bersama Tim Basuo Tenis bukan sekadar piala, tapi bukti bahwa perantau yang pulang tetap bisa berprestasi di tanah kelahirannya sendiri. (drd)







