Sumatera Barat

Mahyeldi: Kepemimpinan Nasional Harus Berakar pada Integritas dan Akhlak

9
×

Mahyeldi: Kepemimpinan Nasional Harus Berakar pada Integritas dan Akhlak

Sebarkan artikel ini
Gubernur Mahyeldi menjadi keynote speaker pada Kuliah Umum bertajuk “Kepemimpinan Nasional sebagai Kunci Pembinaan SDM Unggul Bangsa”. Kegiatan tersebut dirangkai dengan peluncuran dan bedah buku “40 Petunjuk Langit untuk Pemimpin dan Penguasa” di Institute SEBI, Depok, Jawa Barat, Senin (31/8). Ist

PADANG – Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menegaskan kepemimpinan nasional tidak cukup mengandalkan kecerdasan, kompetensi, dan kemampuan teknis. Kepemimpinan harus berakar pada nilai, integritas, akhlak, dan keteladanan.

Menurut Mahyeldi, kepemimpinan yang kuat secara moral menjadi kunci melahirkan sumber daya manusia (SDM) unggul. Kepemimpinan juga menentukan arah pembangunan bangsa ke depan.

Mahyeldi menyampaikan hal itu saat menjadi keynote speaker pada Kuliah Umum bertajuk “Kepemimpinan Nasional sebagai Kunci Pembinaan SDM Unggul Bangsa”. Kegiatan tersebut dirangkai dengan peluncuran dan bedah buku “40 Petunjuk Langit untuk Pemimpin dan Penguasa” di Institute SEBI, Depok, Jawa Barat, Senin (31/8/2026).

Mahyeldi menyebut pemimpin memiliki posisi strategis. Setiap keputusan dan kebijakan yang diambil dapat memberikan dampak luas terhadap lingkungan. Pemimpin tidak hanya harus mampu mengambil keputusan. Pemimpin juga harus memberikan keteladanan dan memastikan kewenangan yang dimiliki menghadirkan kemaslahatan.

“Pemimpin bukan hanya orang yang memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan, tetapi juga orang yang mampu memberikan keteladanan dan memastikan setiap kewenangan yang dimiliki digunakan untuk kemaslahatan masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga:  ASN Sumbar Diminta Bijak Bermedia Sosial dan Amalkan Core Value ASN

Ia menilai pembangunan SDM unggul harus berjalan seiring dengan pembangunan karakter. Generasi berkompetensi tinggi perlu memiliki integritas, akhlak, tanggung jawab sosial, serta kesadaran bahwa ilmu dan kemampuan yang dimiliki harus diabdikan bagi kepentingan masyarakat dan bangsa.

Mahyeldi menyambut baik kehadiran buku “40 Petunjuk Langit untuk Pemimpin dan Penguasa”. Buku yang menghimpun hadis-hadis Nabi Muhammad SAW tentang kepemimpinan itu menjadi pengingat bahwa kekuasaan bukan tujuan. Kekuasaan merupakan amanah dan sarana untuk menegakkan keadilan serta menghadirkan kemaslahatan.

“Kami melihat bahwa buku 40 Petunjuk Langit untuk Pemimpin dan Penguasa adalah pengingat yang tegas sekaligus lembut, bahwa kekuasaan bukan tujuan, melainkan alat untuk menegakkan keadilan,” katanya.

Mahyeldi mengatakan keberhasilan seorang pemimpin tidak semata-mata diukur dari lamanya memegang kekuasaan atau besarnya kewenangan. Ukuran keberhasilan terletak pada seberapa besar manfaat dan kemaslahatan yang mampu diwujudkan selama masa kepemimpinannya.

Baca Juga:  Gubernur Mahyeldi: Pesan Presiden Jadi Acuan Sumbar Susun Program 2026

“Pemimpin sejati diukur bukan oleh lamanya berkuasa, tetapi oleh seberapa besar maslahat yang dihasilkannya,” tegasnya.

Ia menilai kepemimpinan yang kehilangan pijakan nilai akan mudah kehilangan arah. Kepemimpinan yang menjadikan akhlak dan nilai-nilai Ilahiah sebagai landasan akan memiliki kompas moral dalam menggunakan kekuasaan dan menjalankan amanah.

“Kekuasaan tanpa akhlak akan rapuh, dan kepemimpinan tanpa petunjuk Ilahi akan kehilangan arah,” lanjutnya.

Karena itu, pembinaan SDM unggul harus dilakukan secara utuh dengan memadukan kompetensi, karakter, integritas, dan nilai-nilai keagamaan. Mahyeldi berharap forum tersebut dapat memperluas dialog tentang kepemimpinan nasional.

Forum itu juga diharapkan menjadi bagian dari upaya melahirkan pemimpin masa depan yang kompeten, berintegritas, berakhlak, dan berorientasi pada kemaslahatan bangsa.

“Pada akhirnya, kepemimpinan adalah amanah. Semakin besar kewenangan yang diberikan, semakin besar pula tanggung jawab untuk menggunakannya bagi kepentingan masyarakat,” pungkasnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Yassierli. (Bdr)