PADANG — Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumatera Barat melihat peluang besar penguatan ekonomi masyarakat melalui pengembangan perikanan budidaya lele dan ikan nila yang terintegrasi dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Program tersebut dinilai mampu mendorong peningkatan produksi perikanan budidaya sekaligus membuka pasar yang stabil bagi pembudidaya di berbagai daerah di Sumatera Barat.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar Syefdinon menyebut lele dan ikan nila memiliki potensi ekonomi tinggi karena siklus produksi relatif singkat serta mudah dibudidayakan oleh masyarakat.
“Lele dan ikan nila memiliki siklus panen cepat dan biaya produksi terjangkau. Jika dikaitkan dengan Makan Bergizi Gratis, peluang ekonominya sangat besar,” ujar Syefdinon, Senin (26/1).
Ia menjelaskan, kemitraan dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Makan Bergizi Gratis dapat menjadi jaminan pasar bagi pembudidaya. Skema tersebut diharapkan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat perikanan secara berkelanjutan.
“Jika kerja sama ini terwujud, usaha budidaya lele dan ikan nila masyarakat bisa kembali bergerak. Di sisi lain, pemenuhan keragaman protein Makan Bergizi Gratis juga semakin beragam,” ujar Syefdinon.
Syefdinon mengakui, rencana tersebut masih berada pada tahap gagasan awal. Namun, pihaknya akan segera menindaklanjuti melalui koordinasi intensif dengan pemerintah kabupaten dan kota di Sumatera Barat.
Ia menegaskan, peran pemerintah provinsi bersifat koordinatif. Lokasi kolam budidaya serta dapur Makan Bergizi Gratis berada di wilayah kabupaten dan kota.
“Kami di tingkat provinsi berperan dalam koordinasi. Kolam budidaya dan dapur Makan Bergizi Gratis berada di kabupaten dan kota,” jelas Syefdinon.
Dari sisi kebutuhan pasar, Syefdinon memperkirakan permintaan lele akan sangat besar. Dengan sekitar 500 dapur Makan Bergizi Gratis di Sumatera Barat, kebutuhan lele diperkirakan mencapai 140 ton per minggu.
“Jumlah itu cukup besar untuk kebutuhan lele. Perhitungan ini baru untuk satu kali menu ikan lele dalam satu minggu,” ujar Syefdinon.
Menurutnya, permintaan dalam skala besar tersebut dapat menjadi pemicu tumbuhnya sentra-sentra budidaya baru. Kondisi itu juga berpotensi menyerap tenaga kerja lokal serta meningkatkan perputaran ekonomi daerah.
Syefdinon menambahkan, peningkatan produksi budidaya harus diiringi dengan penguatan manajemen usaha, ketersediaan pakan, serta stabilitas harga agar pembudidaya memperoleh keuntungan optimal.
Meski memiliki potensi ekonomi besar, ia menekankan perlunya kajian mendalam sebelum lele dan ikan nila masuk dalam menu Makan Bergizi Gratis. Kajian tersebut meliputi standar pengolahan, keamanan pangan, serta kemudahan konsumsi bagi anak-anak.
“Kita perlu mengkaji bentuk penyajian ikan. Ikan memiliki tulang kecil, sementara tidak semua anak bisa mengonsumsi ikan bertulang,” kata Syefdinon.
Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar berharap pengembangan budidaya lele dan ikan nila berbasis Makan Bergizi Gratis dapat menjadi motor baru penggerak ekonomi perikanan, sekaligus mendukung ketahanan pangan dan gizi di Sumatera Barat.(Bdr)







