Oleh: Dasman Boy Dt Rj Dihilie
(Wartawan Utama)
Era politik kapitalis, ketika seseorang menanamkan modalnya di jalur dunia politik – dunia abu abu – yang lebih mengedepankan prinsip ekonomi. Yakni untuk memanfaatkan modalnya di jalur politik untuk keuntungan ekonominya.
Sebab, pada galibnya para politisi seperti ini juga cenderung seperti kutu loncat. Sepertinya, pelakunya juga bukan kader partai yang berangkat dari bawah. Dengan kelebihan modalnya ia bisa membeli suatu jabatan yang strategis di kepengurusan partai, baik di tingkat daerah kabupaten dan kota serta provinsi lain pusat. Sebab, pada prinsipnya dengan uang ia membeli kekuasaan sekaligus menjadi penguasa.
Bahkan, dengan modalnya di jalur politik, bisa membeli konstituennya. Segala seseatunya selalu diukur dengan uang, termasuk duduk di gedung parlemen dengan modalnya, dengan mudah mereka bisa menebar amplop. Bahkan, dengan strategi serangan fajar dan segala macam strategi berbasis modal, sehingga mereka “indak baluluak kakinya maambik cikarau”.
Namun, apa muara dari politik kapitalis ini, sebagian besar anggota dewan produknya, kurang peka dengan nasib rakyat. Kecuali hanya peduli terhadap sekelompok tertentu saja. Yakni, orang orang yang pernah menjadi tim suksesnya. Maka, ke depan masyarakat jadi pesimis anggota dewan produk politik sistem kapitalis ini melahirkan figur yang peduli dan peka terhadap penderitaan masyarakat.
Sebelumnya, pasca reformasi tahun 1999 pernah muncul sosok yang vokal menyuarakan kepentingan rakyat di gedung parlemen DPRD Sumbar, M Zein Gomo. Dia juga tokoh anti korupsi, sehingga dia tidak terlibat dugaan korupsi berjamaah di DPRD Sumbar saat itu. Sekarng, pertanyaanya. Apakah masih ada sosok politisi yang anti korupsi dan peka dengan penderitaan rakyat.
Tampaknya, mustahil akan lahir sosok Gomo ke depannya jika sistem rekrutmen anggota masih berbau sistem kapitalis. Logikanya, setelah mereka duduk, mereka berpikir bagaimana mengembalikan modalnya. Maka tak heran bersikap dendam kemiskinan sebelum modalnya kembali.
Tapi, harapannya pada masa mendatang, agar anggota parlemen kembali ke Tupoksi nya, peduli rakyat. Maka perlu ditinjau ulang kembali sistem pemilihan anggota dewan. Serta juga perlu dikaji ulang perekrutan kader partai. Artinya, ke depan anggota dewan, adalah kader partai yang memilki integritas, adab dan moral (akhlakkulkarimah).
Pemimpin menurut Rasul, Amanah dan Bertanggung Jawab:Pemimpin adalah wakil Allah SWT yang bertanggung jawab penuh atas rakyat, baik urusan dunia maupun akhirat.
Beriman dan Berakhlak Mulia:
Pemimpin ideal harus memiliki keimanan kepada Allah SWT, mendirikan salat, dan menundukkan diri pada peraturan-Nya.
Jujur dan Dapat Dipercaya: Kredibilitas seorang pemimpin sangat bergantung pada kejujuran dan kemampuannya untuk dipercaya oleh umatnya.
Cerdas dan Bijaksana:Pemimpin harus memiliki kecerdasan untuk memahami dan mencari solusi atas permasalahan, serta menyampaikan wahyu dengan bijak.
Penuh Kasih Sayang:Seorang pemimpin yang baik harus memiliki sifat pengasih dan penyayang (raufur rahim) serta peduli terhadap penderitaan rakyatnya. (“)







