Sumatera Barat

Seminar Lingkungan di Padang, Mahyeldi Tekankan Tata Kelola Berbasis Nagari

92
×

Seminar Lingkungan di Padang, Mahyeldi Tekankan Tata Kelola Berbasis Nagari

Sebarkan artikel ini
Gubernur Mahyeldi menjadi keynote speaker pada Seminar Nasional Tata Kelola Lingkungan Berbasis Kearifan Lokal Nagari bertema “Batulak ka Rimbo, Balinduang ka Adat” di Hotel Santika Padang, Kamis (12/2/2026).Ist

PADANG — Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menegaskan menjaga lingkungan bukan sekadar urusan ekologis. Ia menyebut pelestarian alam merupakan tanggung jawab moral, adat, dan keimanan.

Pernyataan itu disampaikan saat menjadi keynote speaker pada Seminar Nasional Tata Kelola Lingkungan Berbasis Kearifan Lokal Nagari bertema “Batulak ka Rimbo, Balinduang ka Adat” di Hotel Santika Padang, Kamis (12/2/2026).

Mahyeldi menilai konsep menjaga alam telah lama hidup dalam falsafah Minangkabau dan ajaran agama. Ia menyebut Islam mengajarkan kepedulian lingkungan sebagai bagian dari ibadah.

“Gambaran surga dalam ajaran agama adalah lingkungan yang bersih, air yang jernih, kehidupan yang aman dan nyaman. Orang yang menjaga lingkungan sejatinya sedang menghadirkan surga di dunia dan insyaallah akan memperoleh surga di akhirat,” ujar Mahyeldi Ansharullah.

Ia menegaskan nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah menjadi fondasi dalam tata kelola kehidupan, termasuk pengelolaan sumber daya alam. Nilai tersebut juga diperkuat Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2022 yang mengakui kekhasan dan kearifan lokal Sumatera Barat.

Baca Juga:  Vasko Ruseimy Motivasi Atlet IPSI Sumbar Jelang Kejurnas 2025 Jakarta

Mahyeldi menjelaskan makna Balinduang ka Adat merujuk pada adat yang bersumber dari syarak.

“Syarak mengatur, adat menjalankan. Nilai itulah yang menjadi pedoman dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam,” kata Mahyeldi Ansharullah.

Ia mengingatkan Indonesia merupakan bangsa majemuk. Kebijakan pengelolaan lingkungan harus mempertimbangkan karakter sosial dan budaya setempat.

“Indonesia itu heterogen. Kalau semuanya dipaksa sama, di situlah awal dari sebuah persoalan. Pendekatan berbasis nagari justru menjadi kekuatan kita dalam menjaga kelestarian alam,” tegas Mahyeldi Ansharullah.

Mahyeldi mengapresiasi WWF Indonesia yang menginisiasi seminar tersebut sebagai ruang dialog lintas perspektif. Ia meminta forum tersebut melahirkan rekomendasi konkret.

“Jangan berhenti pada diskusi dan dokumen. Kita butuh langkah nyata yang bisa dirasakan masyarakat dan menjaga keberlanjutan hutan, sungai, serta lanskap Sumatera Barat,” ujar Mahyeldi Ansharullah.

Baca Juga:  DP3AP2KB Sumbar Libatkan PKB dan KUA, Upaya Mencegah Stunting dari Hulu

Ia menegaskan Pemprov Sumbar akan memperkuat sinergi dengan masyarakat nagari, pemangku adat, akademisi, serta mitra pembangunan.

“Menjaga lingkungan adalah tanggung jawab lintas generasi. Apa yang kita putuskan hari ini akan menentukan kualitas hidup anak cucu kita di masa depan,” tutup Mahyeldi Ansharullah.

Chief Conservation Officer Yayasan WWF Indonesia Dewi Lestari Yani Riski menyebut hutan nagari bukan hanya ruang ekologis, tetapi juga ruang sosial, budaya, dan ekonomi. Ia menekankan pentingnya menjembatani sistem adat dengan kebijakan kehutanan modern agar tata kelola lingkungan menjadi adil dan berkelanjutan. (Bdr)