Sumatera Barat

Kasus Stroke di Sumbar Tertinggi, Gubernur Mahyeldi Tekankan Deteksi Dini Penyakit Saraf

301
×

Kasus Stroke di Sumbar Tertinggi, Gubernur Mahyeldi Tekankan Deteksi Dini Penyakit Saraf

Sebarkan artikel ini
Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi membuka Forum Ilmiah Neurologi Sumatera (FINEST) 2025 di Hotel ZHM Premiere Padang, Sabtu (4/10).Ist

PADANG – Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi membuka Forum Ilmiah Neurologi Sumatera (FINEST) 2025 di Hotel ZHM Premiere Padang, Sabtu (4/10). Pertemuan ilmiah ini tak sekadar berbagi pengetahuan medis, tapi juga menjadi alarm keras bagi pemerintah tentang meningkatnya ancaman penyakit saraf di Indonesia, terutama Sumatera Barat.

Acara bertema “Experiences, Challenges, and New Trends in Neurology” ini dihadiri sejumlah tokoh kesehatan nasional, mulai dari Ketua Kolegium Neurologi Indonesia Syahrul, Ketua IDI Sumbar Roni Eka Saputra, hingga para neurolog dan akademisi kedokteran dari berbagai daerah di Sumatera.

Mahyeldi mengingatkan, penyakit neurologi bukan lagi isu rumah sakit, tapi ancaman sosial ekonomi yang nyata. Ia menyoroti fakta meningkatnya kasus stroke, epilepsi, Alzheimer, dan Parkinson di tengah lemahnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan saraf.

“Kasus neurologis di Indonesia paling sering adalah stroke, epilepsi, Alzheimer, dan Parkinson,” ujar Mahyeldi.

Berdasarkan data Global Burden Disease and Infection (GBD) 2021, beban penyakit neurologis meningkat 18 persen sejak 1990. Penyakit saraf kini menjadi penyumbang terbesar kecacatan dan kematian dini, melampaui penyakit jantung dan pembuluh darah.

Baca Juga:  Prakiraan Cuaca Sumbar Tiga Hari ke Depan Dominan Cerah Berawan

Mahyeldi menilai, lemahnya data nasional tentang gangguan saraf membuat langkah penanganan belum optimal. Observasi di klinik dan rumah sakit menunjukkan gangguan neurologi mendominasi daftar penyakit rawat jalan, terutama stroke yang terus meningkat di Sumbar.

“Di Indonesia, gangguan neurologis utama yang kita kenal adalah stroke,” kata Mahyeldi.

Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi stroke nasional sebesar 8,3 per 1.000 penduduk, sedangkan di Sumatera Barat mencapai 8,8 per 1.000 penduduk. Ironisnya, beban pembiayaan kesehatan akibat stroke pada 2023 menembus Rp5,2 triliun.

Mahyeldi menegaskan, pencegahan dini harus menjadi prioritas. Ia mengingatkan bahwa gaya hidup buruk dan rendahnya kesadaran deteksi dini memperparah situasi.

“Gangguan saraf dapat dicegah sejak dini dengan gaya hidup sehat dan deteksi dini,” ujar Mahyeldi.

Ia menyinggung, pemerintah pusat telah menetapkan stroke sebagai penyakit tidak menular prioritas sejak 2023. Namun, ia menilai kebijakan itu perlu diikuti kerja nyata di daerah, terutama penguatan fasilitas deteksi dini melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

“Forum ini jangan hanya berhenti pada diskusi, tapi juga melahirkan aksi konkret untuk memperkuat layanan kesehatan saraf,” tegas Mahyeldi.

Baca Juga:  Pastikan Sudah Melewati Pengkaderan, Pengurus PWPM Sumbar Jangan Hanya Modal KTA

Ia berharap kegiatan FINEST 2025 menjadi jembatan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan praktisi medis dalam memperluas edukasi masyarakat tentang bahaya gangguan saraf.

Sementara itu, Ketua Kolegium Neurologi Indonesia Syahrul memperkuat pernyataan Mahyeldi. Ia menyebut stroke masih menjadi penyebab kematian dan disabilitas tertinggi di dunia.

“Menurut data, satu dari empat orang diperkirakan terkena stroke dalam hidupnya,” kata Syahrul.

Ia menyebut setiap tiga detik terdapat satu orang yang terkena stroke, dengan total 12 juta kasus baru per tahun dan setengah juta di antaranya meninggal dunia.

Syahrul mengingatkan, Sumatera Barat menempati posisi lebih tinggi dibanding rata-rata nasional dalam prevalensi stroke. Ia menilai peningkatan kasus harus dijawab dengan kampanye pencegahan dan gaya hidup sehat secara masif.

“Mari kita jaga kesehatan sejak sekarang. Hidup sehat kalahkan stroke mulai dari diri sendiri,” ucap Syahrul.

Ia menutup dengan apresiasi terhadap komitmen Pemerintah Provinsi Sumbar yang telah memberi ruang edukasi publik dan mendorong kolaborasi lintas sektor dalam menekan penyakit saraf.(Bdr)