PADANG-Wakil Wali Kota Padang Ekos Albar gelar soft launching Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Teknologi – Refuse Derived Fuel (TPST-RDF) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Aie Dingin Balai Gadang Koto Tangah, Rabu (13/12 /2023).
Proyek ini merupakan salah satu alternatif pengolahan sampah yang diperoleh dari bantuan ISWMP dengan kapasitas 200 ton perhari dengan anggaran mencapai sebesar Rp 128 miliar.
“Sementara, kapasitas sampah di Kota Padang setiap hari mencapai 630 ton perhari. Sehingga, dengan keberadaan proyek TPST-RDF ini bisa mengurangi kapasitas sampah sekitar 20 persen setiap hari,” ujar Ekos Albar.
Dikatakan, Pemko Padang telah mempunyai Feasibility Study (FS) yang dibuat tim ahli dari Universitas Andalas (Unand) November 2020. FS tersebut merekomendasikan teknologi TPST-RDF layak diterapkan di Kota Padang.
Selain itu Pemko Padang telah memiliki MoU (kerjasama) dengan off taker/pemanfaat produk RDF yaitu PT Semen Padang pada tanggal 6 Desember 2021.
Menurutnya, hadirnya TPST-RDF memberikan beberapa manfaat untuk Kota Padang antara lain perpanjangan masa pakai TPA, mengurangi emisi karbon, gas metan yang menjadi penyebab rusaknya ozon dan pemanasan global, RDF bisa menjadi energi terbarukan dan RDF menjadi sumber PAD baru bagi Kota Padang.
“Diharapkan dengan adanya teknologi RDF ini Kota Padang dapat melakukan pengelolaan sampah yang lebih baik dan dapat mengubah perilaku masyarakat Kota dalam pengelolaan sampah,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut pihaknya menyampaikannya ucapan terimakasih kepada Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Dirjen Sanitasi Kementerian PUPR, BPPW Sumatra Barat, dan semua pihak yang telah mendukung pencanangan lokasi TPST-RDF di TPA Aie Dingin Kota Padang.
Belakangan Pemko tengah menyiapkan lahan untuk pembangunan untuk penerapan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) di TPA Aie Dingin.
Ditambahkan Ekos, pengolahan sampah secara konvensional selama ini menyelesaikan maslah sampah di Kota Padang. Apakah itu pengelolaan sampah dengan Bank Sampah dan sebagainya. Ke depan mamang masih diharapkan pengolahan sampah dengan teknologi.
Jika secara teknis dan teoritis, Kota Padang akan terus akan tetap mengalami kesulitan mengelola sampah secara optimal, jika tidak dikelola dengan teknologi.
Saat ini Kota Padang merupakan salah satu dari 6 kabupaten dan kota yang menerima bantuan proyek TPST – RDF, yang dipusatkan di TPA Aie Dingin Balai Gadang Koto Tangah.
“Lahan TPA Aie Dingin ini masih bisa dikembangkan, karena memiliki luas 38 ha, sedangkan yang baru dikelola baru hanya 1,8 ha,” ujar Ekos.
Deputy Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi RI, Rendra Kurnia Hasan mengatakan, kapasitas sampah Kota Padang sebanyak 630 ton per hari. Maka untuk pengurangan dan penanganan sampah, dituntut pelayanan distribusi harus mampu mengelola sampah ini dengan maksimal. “Namun jika dihitung secara matematis, distribusi sampah selama ini belum menyelesaikan masalah mengelola sampah secara optimal,” ujarnya.(drd)







