PADANG – Sebanyak 357 karateka dari 18 kabupaten dan kota ambil bagian dalam pertandingan cabang olahraga (Cabor) karate pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVI Sumatera Barat 2026 yang akan dilaksanakan di GOR Batu Batupang, Kabupaten Solok, pada 9-13 Oktober mendatang.
Jumlah tersebut menjadikan karate sebagai cabor perorangan dengan tingkat partisipasi atlet tertinggi dalam perhelatan olahraga tingkat provinsi tersebut.
Ketua Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) Sumbar Khairuddin Simajuntak, menilai tingginya jumlah peserta merupakan indikator positif bagi perkembangan karate di Ranah Minang. Capaian itu sekaligus menunjukkan bahwa pembinaan atlet di berbagai daerah terus berjalan dan memiliki potensi untuk dikembangkan lebih jauh.
Dari total peserta yang terdaftar, sebanyak 198 atlet merupakan putra dan 159 lainnya putri. Seluruh peserta akan berkompetisi dalam 29 nomor pertandingan yang menjadi bagian dari rangkaian Porprov XVI Sumbar 2026.
“Alhamdulillah, karate menjadi cabor perorangan dengan peserta terbanyak pada Porprov XVI Sumatera Barat 2026. Ada 357 atlet dari 18 kabupaten dan kota yang akan bertanding pada 29 nomor. Ini tentu menjadi kebanggaan bagi kami di FORKI Sumbar. Artinya, semangat berlatih, berkompetisi, dan mengembangkan karate di daerah terus tumbuh,” ujar Khairuddin Simajuntak, Minggu (4/10/2026).
Bagi Khairuddin, besarnya jumlah atlet yang berpartisipasi bukan sekadar catatan statistik dalam penyelenggaraan Porprov. Lebih dari itu, kompetisi ini menjadi kesempatan bagi FORKI Sumbar untuk menilai perkembangan pembinaan di setiap daerah, sekaligus mengidentifikasi atlet-atlet potensial yang dapat dipersiapkan menghadapi kejuaraan dengan tingkat persaingan lebih tinggi.
Anggota DPRD Sumbar dari Fraksi Partai Gerindra tersebut menegaskan bahwa keberhasilan pembinaan olahraga tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah medali yang berhasil dikumpulkan. Aspek lain yang tidak kalah penting adalah kemampuan melahirkan atlet baru, memperluas kesempatan berkompetisi, serta menjaga kesinambungan pembinaan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Bagi kami, yang terpenting bukan hanya berapa banyak atlet yang turun bertanding, tetapi bagaimana dari kompetisi ini lahir atlet-atlet potensial yang nantinya bisa mengharumkan nama Sumatera Barat. Porprov harus menjadi ajang untuk mengukur hasil pembinaan, menemukan bibit unggul, sekaligus mengevaluasi kekuatan karate di masing-masing kabupaten dan kota,” katanya.
Partisipasi dari 18 kabupaten dan kota juga memberikan gambaran mengenai penyebaran kekuatan karate di Sumatera Barat. Data tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan evaluasi untuk melihat daerah yang telah menunjukkan perkembangan positif, sekaligus menentukan wilayah yang masih memerlukan dukungan tambahan dalam pembinaan atlet.
Khairuddin menjelaskan, pencapaian prestasi olahraga membutuhkan proses panjang dan keterlibatan berbagai pihak. Pengurus organisasi, pelatih, perguruan karate, serta pemerintah daerah memiliki peran penting dalam membangun sistem pembinaan yang terarah dan berkelanjutan.
Menurutnya, Porprov merupakan salah satu tahapan penting dalam proses tersebut. Selain menguji penguasaan teknik, pertandingan juga menjadi sarana untuk mengukur kedisiplinan, kesiapan mental, daya tahan, serta kemampuan atlet dalam menghadapi tekanan selama kompetisi berlangsung.
“Pembinaan itu harus berkesinambungan. Kita tidak bisa hanya berorientasi pada hasil sesaat atau mengejar medali ketika ada kejuaraan. Atlet harus dipersiapkan sejak dini, diberi kesempatan bertanding, dievaluasi, lalu dibina kembali sesuai kebutuhan dan potensinya. Dengan begitu, prestasi yang kita harapkan bisa dibangun secara bertahap,” tuturnya.
Komposisi peserta yang melibatkan atlet putra dan putri dalam jumlah besar juga dinilai sebagai peluang untuk memperluas jangkauan pembinaan secara lebih merata. FORKI Sumbar diharapkan dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk memberikan perhatian kepada atlet potensial tanpa membatasi peluang berdasarkan daerah asal maupun kelompok peserta.
Khairuddin berharap, atlet yang memperlihatkan kemampuan menonjol selama Porprov XVI dapat memperoleh pembinaan lanjutan. Dengan persiapan yang tepat, mereka diharapkan mampu meningkatkan kemampuan dan bersaing pada kejuaraan tingkat nasional hingga internasional.
“Harapan kami, Porprov ini melahirkan lebih banyak karateka berprestasi, bukan hanya juara pada tingkat provinsi, tetapi juga atlet yang mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional. Kita ingin pembinaan karate di Sumatera Barat memiliki kesinambungan, sehingga atlet yang berprestasi hari ini bisa menjadi inspirasi dan membuka jalan bagi generasi berikutnya,” ucapnya.
Meski berhasil menghimpun peserta terbanyak di antara cabor perorangan, FORKI Sumbar masih menghadapi tantangan untuk memastikan tingginya partisipasi tersebut diikuti peningkatan kualitas atlet dan capaian prestasi.
Keberadaan 357 atlet yang berkompetisi pada 29 nomor pertandingan menjadi potensi besar yang perlu dikelola melalui program pembinaan yang terukur. Pemetaan bakat, peningkatan mutu latihan, pengembangan kompetensi pelatih, serta penyelenggaraan kompetisi secara rutin menjadi sejumlah aspek yang perlu diperkuat agar hasil pembinaan tidak berhenti setelah Porprov selesai.
Di bawah kepemimpinan Khairuddin Simajuntak, capaian partisipasi pada Porprov XVI Sumbar 2026 diharapkan menjadi landasan untuk memperkuat masa depan karate di Sumatera Barat. Jumlah peserta yang besar merupakan modal awal, sedangkan keberhasilan melahirkan atlet berkualitas dan mempertahankan prestasi secara konsisten menjadi sasaran jangka panjang.
“Ini bukan akhir dari pekerjaan kita, justru menjadi motivasi untuk berbuat lebih baik. Kami ingin karate Sumatera Barat terus berkembang, memiliki regenerasi atlet yang kuat, dan mampu melahirkan prestasi yang membanggakan. Terima kasih kepada seluruh pengurus, pelatih, perguruan, pemerintah daerah, dan semua pihak yang ikut menjaga serta membesarkan karate di Sumatera Barat,” ujarnya. .(*/drd)






