EkonomiSumatera Barat

Sempat ada Penolakan, ESDM Sumbar Pastikan Proyek Hitay di Gunung Talang Berlanjut

292
×

Sempat ada Penolakan, ESDM Sumbar Pastikan Proyek Hitay di Gunung Talang Berlanjut

Sebarkan artikel ini
(Kiri) Kepala Dinas ESDM Provinsi Sumbar, Helmi Heriyanto bersama Kepala Bagian Makopim Biro Adpim Setdaprov Sumbar, Budi Arif menjelaskan upaya Pemprov Sumbar mewujudkan energi hijau di Sumbar. Ist

PADANG – Investasi panas bumi PT Hitay Daya Energi di Gunung Talang, Kabupaten Solok tetap berlanjut meski sempat ditolak warga. Dinas Energi Sumber Daya Mineral Sumbar memastikan perusahaan asal Turki itu berkomitmen melanjutkan proyek.

Kepala Dinas ESDM Sumbar, Helmi Heriyanto mengatakan pihak HDE sudah melakukan komunikasi awal dengan ninik mamak di Salingka Gunung Talang, Nagari Batu Bajanjang. “Sejauh ini pihak Hitay Daya Energi sudah bisa masuk dan sudah komunikasi awal dengan ninik mamak. Bagaimana perkembangannya bisa dilihat siapa tokoh yang coba jalin komunikasi agar tidak terulang lagi,” kata Helmi.

Ia mengakui warga masih trauma akibat bentrok yang pernah terjadi antara masyarakat dengan aparat. Namun ada harapan proyek tetap berjalan. “Kita sudah mendampingi Hitay Daya Energi ke lokasi. Kita wanti-wanti yang datang ke situ orang-orang yang diberi kepercayaan membangun komunikasi yang baik. Orangnya sudah ada, yang dihire khusus oleh Hitay. Orang awak juo,” ujar Helmi.

Baca Juga:  Ketua SMI Sumbar Budi Syukur Resmikan Playground BUNNY BOO and Bakmi HDH

Helmi menegaskan HDE tidak menarik diri dari investasi panas bumi di Gunung Talang. “Gunung Talang memiliki potensi panas bumi terbesar setelah Solok Selatan yang dikelola PT Supreme Energy,” kata Helmi.

Ia menjelaskan, pihaknya kini melakukan pemetaan sosial sebelum menawarkan lokasi kepada investor. “Lokasi-lokasi investasi dipetakan dulu potensi sosial, sehingga ada pendekatan kepada masyarakat. Setelah clear baru tawarkan ke investor. Kini ingin merubahnya,” tegas Helmi.

Helmi mengungkapkan ada tujuh daerah di Sumbar yang memiliki potensi panas bumi. “Sambil berjalan, tahun 2026 kita mapping kondisi sosialnya. Setelah ditetapkan Menteri ESDM dapat investor, kondisi sosialnya juga sudah clear,” terangnya.

Selain pemetaan sosial, ESDM Sumbar juga ingin melibatkan media, mahasiswa, LSM, NGO, perguruan tinggi, lembaga adat dan struktural nagari untuk memberikan edukasi bahwa energi panas bumi tidak meninggalkan masalah di tengah masyarakat. “Panas bumi ini contohnya di jurnal penelitian dunia tidak ada masalah. Kita akan rangkul semua pihak agar bisa memberikan informasi positif dan edukatif,” harap Helmi.

Baca Juga:  Meriahkan HUT ke 22, Baznas Padang Santuni Anak Yatim dan Lansia

ESDM Sumbar juga mendampingi investor yang baru masuk agar tidak salah langkah. “Kita coba berikan pemahaman di awal. Seperti kepada PT Medco Power Indonesia yang mulai mengebor sumur panas bumi di Bonjol. Kita undang bertemu dengan PT Supreme Energy dan HDE untuk berbagi kisah sukses diterima masyarakat, sehingga pengalaman itu jadi pelajaran,” ujar Helmi.

Proyek HDE di Gunung Talang menargetkan kapasitas awal 20 MW dengan masa eksplorasi empat tahun. Perusahaan ini sudah menginvestasikan Rp1 triliun untuk mengembangkan panas bumi di Sumbar, termasuk di Gunung Talamau dan Gunung Tandikek.

Namun, penolakan warga masih berlangsung. Bentrok antara masyarakat dan aparat di Gunung Talang sempat menimbulkan korban, tujuh warga menjadi sasaran kekerasan aparat saat menolak proyek tersebut.