BudayaPariwisata

Menyusuri Megahnya Masa Lalu di Kawasan Kota Tua, Kota Padang

623
×

Menyusuri Megahnya Masa Lalu di Kawasan Kota Tua, Kota Padang

Sebarkan artikel ini
Menariknya kawasan Kota Tua, Kota Padang.Bdr

PADANG – Bangunan-bangunan arsitektur eropa abad ke 17 terlihat berbaris di sepanjang kawasan Pecinan Kota Padang. Kawasan ini siap menunggu wisatawan bagi yang berminat mengunjungi wisata sejarah.

Kawasan ini menjadi objek wisata, Kawasan Kota Tua. Kawasan yang menarik pengunjung pada abad ke 17. Menunjukan masa keemasan Pelabuhan Muaro sebagai sebuah bandar perdagangan besar juga sudah jadi sejarah.

Gedung-gedung peninggalan VOC di pinggiran Batang Arau itu masih tersisa. Jejeran bangunan yang pernah menjadi perkantoran dan gudang beragam komoditas seperti emas, batu bara, teh, kopi, kapur barus, garam dan kemenyan masih berdiri melewati berabad-abad waktu.

Sebagian bangunan berarsitektur Eropa peninggalan Belanda itu difungsikan menjadi kafe dengan lampu warna-warni. Menyajikan sajian kekinian dan hiburan musik “live”. Keindahan yang terekam jelas bisa menikmatinya dari atas Jembatan Siti Nurbaya yang membentang di atas sungai Batang Arau.

BACA JUGA  Gelar Goro Bersama, Ketua DPD LPM Irwan Basir: Mencerminkan Kebersamaan dalam Lingkungan 

Tidak jauh dari Jembatan Siti Nurbaya, berdiri megah Gedung GEO Wehry & CO. Gedung kantor sekaligus gudang dari firma atau perusahaan ekspor-impor terbesar di Hindia-Belanda (Indonesia) pada masa kolonial itu yang didirikan pada 1911 dan diresmikan pada 1920.

Tidak hanya bangunan khas Eropa, di kawasan ini, pengunjung juga akan dibawa kepada nuansa hidup seperti suasana di Pecinan, dengan hadirnya sejumlah klenteng berumur tua dan bangunan kongsi-kongsi masyarakat keturunan Etnis Tionghoa yang masih berdiri kokoh.

Masing-masing bangunan tua tersebut memiliki sejarah sendiri. Namun, di antara bangunan tua tersebut, ada salah satu bangunan yang paling lama di kawasan Kota Tua tersebut. Bangunan tersebut bernama Klenteng See Hin Kiong.

BACA JUGA  Berwisata di Green House Lezzata, Cabup Agam: Perizinan Sehari Kelar

Bangunan Klenteng See Hin Kiong ini masih berdiri kokoh. Namun, saat ini bangunan yang dulunya dimanfaatkan untuk sebagai tempat beribadah bagi masyarakat Etnis Tinghoa, kini berubah fungsi sejak gempa 2009 merusak bangunan tersebut.

Setelah diperbaiki, bangunan tersebut telah dijadikan sebagai salah satu heritage tujuan destinasi wisata, setelah hadirnya bangunan klenteng baru untuk beribadah yang berdiri berjarak 100 meter dari lokasi bangunan klenteng tersebut.

Comment