SIJUNJUNG – Perjalanan hidup Aria Nurrahman tidak selalu berjalan mulus. Lahir di Kabupaten Agam pada 10 Agustus 2007, pemuda ini harus menghadapi keterbatasan ekonomi keluarga yang membuatnya putus sekolah saat masih duduk di kelas III sekolah dasar (SD).
Namun, keterbatasan tidak memadamkan semangatnya untuk mengubah nasib. Melalui olahraga bela diri sambo, Aria menemukan jalan untuk membuktikan kemampuan dirinya.
Siapa sangka, setelah baru sekitar enam bulan menekuni sambo, ia langsung meraih medali emas kelas 48 kilogram pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVI Sumatera Barat 2026.
Prestasi tersebut terasa istimewa karena Porprov Sumbar XVI menjadi turnamen pertama yang diikutinya. Debut yang langsung berbuah medali emas sekaligus menjadi awal perjalanan Aria untuk menapaki jenjang prestasi yang lebih tinggi.
Di balik keberhasilan itu, ada kisah perjuangan yang tidak mudah.
Aria mengungkapkan, kondisi ekonomi keluarga dan persoalan keluarga membuatnya harus berhenti sekolah sejak kelas III SD. Setelah itu, ia menjalani kehidupan dengan bekerja dan dibesarkan oleh paman, tante, serta neneknya.
Perjalanan hidupnya mulai menemukan arah ketika ayahnya, Nurdin, membawanya ke Kabupaten Sijunjung. Sang ayah melihat Aria memiliki potensi di bidang bela diri, terutama karena ketekunan, kegigihan, dan kemauannya untuk terus berlatih.
Melihat potensi tersebut, Nurdin kemudian memperkenalkan Aria kepada seorang pelatih. Dari situlah Aria mulai menekuni sambo dengan lebih serius.
Meski harus berlatih di tengah keterbatasan ekonomi, Aria tidak kehilangan tekad. Ia terus mengasah kemampuan dan mengikuti arahan pelatih yang mendorongnya agar berlatih lebih giat demi mempersiapkan diri menghadapi Porprov Sumbar 2026.
Kecintaannya terhadap sambo menjadi salah satu alasan utama Aria bertahan dan terus berkembang.
“Saya memilih sambo karena saya suka dengan bela diri ini,” ungkapnya.
Kerja keras itu akhirnya terbayar. Dengan dukungan doa dari keluarga, sahabat, dan pelatih, Aria berhasil melewati pertandingan demi pertandingan hingga keluar sebagai peraih medali emas kelas 48 kilogram.
Bagi Aria, kemenangan tersebut bukan sekadar pencapaian pribadi. Medali emas itu menjadi kebanggaan bagi orang-orang yang selama ini mendukung perjuangannya, terutama ayah, ibu, dan pelatihnya.
Ia bersyukur dapat mempersembahkan medali emas untuk Kabupaten Sijunjung pada penampilan perdananya di ajang olahraga tingkat provinsi tersebut.
“Alhamdulillah, berkat kemudahan dari Allah SWT serta doa sahabat, orang tua, dan pelatih, saya bisa meraih medali emas dan membuat mereka bangga,” tuturnya.
Aria mengakui, keberhasilannya tidak terlepas dari peran orang-orang terdekat yang terus memberikan dukungan. Ia menyebut ayah, ibu, dan pelatih sebagai sosok yang paling berjasa dalam perjalanan kariernya.
Kini, medali emas Porprov Sumbar XVI menjadi modal berharga bagi Aria untuk melanjutkan perjalanan di dunia olahraga. Ia berharap prestasi pertamanya ini membuka kesempatan untuk tampil di kompetisi yang lebih tinggi.
“Insyaallah, jika diberi kesempatan, saya ingin naik ke jenjang berikutnya,” katanya.
Kisah Aria Nurrahman menjadi gambaran bahwa prestasi dapat tumbuh dari berbagai keadaan. Keterbatasan ekonomi dan pendidikan bukan akhir dari perjalanan seseorang untuk berkembang.
Dengan ketekunan, dukungan orang-orang terdekat, serta kesempatan untuk menunjukkan kemampuan, Aria berhasil mengubah debutnya di arena sambo menjadi pencapaian yang membanggakan.
Medali emas itu bukanlah garis akhir. Bagi Aria, kemenangan di Porprov Sumbar XVI justru menjadi langkah awal untuk mengejar mimpi yang lebih besar. (*/drd)






