Ekonomi

Harga Capai 450 Ribu Perkilo, Pemprov Sumbar Dorong Nelayan Budi Daya Ikan Kerapu

373
×

Harga Capai 450 Ribu Perkilo, Pemprov Sumbar Dorong Nelayan Budi Daya Ikan Kerapu

Sebarkan artikel ini
Gubernur Sumbar, Mahyeldi meninjau proses panen ikan kerapu di salah satu keramba pembudidayaan kerapu di kawasan Mandeh, Pesisir Selatan (Pessel), Senin (15/01/2024).Ist

PADANG – Dinilai sangat ekonomis dan menguntungkan. Pada 2024, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melanjutkan upaya pengembangan budi daya ikan kerapu yang memiliki nilai ekonomi tinggi untuk kebutuhan ekspor pada 2024.

“Potensi budi daya ikan kerapu ini cukup besar di Sumbar karena memiliki garis pantai yang cukup panjang. Nilai ekonominya juga tinggi karena menjadi salah satu produk ekspor potensial,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumbar, Reti Wafda kemarin.

Ia mengatakan pada saat pandemi Covid19, ekspor ikan kerapu dari Sumbar sempat terkendala karena kapal yang menampung ikan untuk ekspor menuju Hongkong, tidak beroperasi di Sumbar.

Akibatnya banyak pengusaha budidaya ikan kerapu yang merugi karena pasarnya menjadi terbatas untuk memenuhi kebutuhan lokal dengan harga jual yang berada jauh di bawah harga ekspor.

BACA JUGA  Ina Yatul Kubra: Upaya Pengembalian Pengelolaan Kebun Plasma Sawit Air Bangis Pasbar ke Masyarakat Berhasil

Namun pada 2023, kapal penampung ikan untuk ekspor ke Hongkong tersebut sudah kembali beroperasi dan menampung hasil budidaya nelayan.

“Ini menjadi angin segar bagi nelayan dan pengusaha budi daya ikan kerapu. Dengan terbukanya kembali peluang ekspor, pendapatan mereka kembali meningkat. Kita juga akan memberikan bantuan untuk menyokong pengembangan budi daya ikan kerapu ini,” ujarnya.

Reti mengatakan sejak pertengahan 2023 dan awal 2024 sudah dua kali dilakukan ekspor ikan kerapu hasil budidaya di perairan Sumbar, masing-masing 20 ton.

“Kapal ini memang hanya mau menampung minimal 15 ton dan maksimal 20 ton ikan kerapu untuk sekali ekspor, sesuai dengan kapasitas angkut kapal. Jumlah ini terpenuhi dari hasil budidaya yang ada saat ini,” katanya.

BACA JUGA  Gubernur Mahyeldi Apresiasi PT Charoen Pokphan Salurkan 50 Ribu Butir Telur ke Pessel dan Pariaman

Ia berharap mulai 2024 atau setidaknya 2025, akan bisa dilakukan minimal dua kali ekspor ikan kerapu per tahun.

Diakuinya, untuk budi daya ikan kerapu membutuhkan waktu 8 bulan hingga 1 tahun. Kerapu yang dapat diekspor jika sudah mencapai 800 gram.

“Kalau sudah 800 gram ke atas, harganya mencapai Rp450 ribu perkilo,”ungkapnya.

Sementara itu, Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi menyebut untuk budi daya ikan kerapu masih banyak ruang bagi investor menanamkan modal karena saat ini, dari tujuh kabupaten dan kota di Sumbar yang memiliki wilayah laut, baru Pesisir Selatan yang telah mengembangkan budi daya ikan kerapu.

Comment