Pariwisata

Bangun Desa Adat Wisata, Butuh Proses dan Dukungan Masyarakat serta Pemerintah

225
×

Bangun Desa Adat Wisata, Butuh Proses dan Dukungan Masyarakat serta Pemerintah

Sebarkan artikel ini

 

BALI–Untuk mewujudkan destinasi wisata, memang makan proses. Selain itu juga membutuhkan dukungan semua pihak. Di antaranya, masyarakat lingkungan pemerintah, akademisi, media dan pihak ketiga.

Pengurus Desa Adat Tradisional Penglipuran Kubu, kabupaten Bangli, provinsi Bali Nengah Moneh, Sabu (27/11/2021) mengatakan, yang menjadi unggulan jualan destinasi desa adat ini memang budaya adat Bali. Selain dukungan sarana dan prasarana dari pemerintah, seperti sarana transportasi, penginapan, restoran (warung makan) dan dukungan sarana teknologi informasi (TI).
“Tapi, yang menjadi unggulan wisatawan domestik, Asean maupun Mancanegara atraksi budaya adat Bali, yang lestari hingga sekarang,” ujar Nengah di hadapan rombongan Studi Tiru Dispar Sumbar melalui Pokir Anggota DPRD Sumbar Evi Yandri Rajo Budiman.

BACA JUGA  Polsek Kuranji Bekuk 2 Janda dan Seorang Pria Saat Mengedarkan Sabu
Pengurus Desa Adat Tradisional Penglipuran Kubu Bangli Bali Nengah Moneh paparkan proses jadi desa adat yang dikenal mancanegara

Ditambahkan Nengah, membangun desa adat ini tidak memakan waktu yang instan. Desa ini mulai dibenahi menjadi destinasi wisata sejak tahun 1990-an silam. Tapi, ini dilatarbelakangi niat dan kemauan yang kuat dari masyarakat sekitarnya. Di mana pengurus Desa Adat dibekali pemerintah dengan studi banding, FGD (Forum Group Discuss) dan pelatihan manajerial.

Namun, yang tak kalah pentingnya dukungan dari unsur media, baik cetak, elektronik dan Medsos. Juga tak kalah urgennya dukungan unsur akademisi dengan melakukan penelitian dan sebagainya. Desa adat ini tak saja dikenal di level domestik, akan tetapi sampai Asean dan Mancanegara.

“Di sisi lain, peran Kelompok Pariwisata (Pokdarwis) di Desa Adat Penglipuran ini juga cukup strategis dalam mengelola atraksi budaya yang sifatnya kontinua dan berkelanjutan,” unkap Nengah, di samping Kabid Sumberdaya Pariwisata dan Ekraf Dispar Sumbar Drs Mulyadi Yanis.

BACA JUGA  Pornas Korpri XV Babel 2019, Tenis Lapangan Sumbar ke Babak Semifinal

Awal mula keberadaan Desa Penglipuran sudah ada sejak dahulu, sejak zaman Kerajaan Bangli. Para leluhur penduduk desa ini datang dari Desa Bayung Gede dan menetap sampai sekarang, sementara nama “Penglipuran” sendiri berasal dari kata Pengeling Pura yang mempunyai makna tempat suci untuk mengenang para leluhur.

Comment