Pendidikan

Dua Smartphone Dari Nasrul Abit untuk Anak Penjual Belut

117
×

Dua Smartphone Dari Nasrul Abit untuk Anak Penjual Belut

Sebarkan artikel ini
Wagub Sumbar, Nasrul Abit belikan dua anak penjual belut di Kota Padang telepon pintar.ist

PADANG – Kehidupan berat membuat keluarga Asraf, warga Kota Padang kesulitan memenuhi kebutuhan pendidika anaknya. Apalagi saat ini proses belajar semuanya dilakukan dengan sistem daring (dalam jaringan).

Asraf punya dua anak yang sedang menempuh pendidikan berbeda, mereka mereka Ansyah Putra dan Pamil Prasatio Syah Puyra. Mereka hidup dengan kondisi keluarga yang bisa dikatakan jauh dari kata cukup. Penjualan belut yang dilakoni oleh ayahnya Asraf hanya bisa memenuhi kebutuhan makan dari hari ke hari.

Dengan kondisi yang demikian, smartphone adalah barang mahal baginya. Tak jarang mereka tidak mengikuti belajar karena tidak punya smartphone.

Ansyah Putra atau yang akrab disapa Aan menceritakan penghasilan ayahnya dari hari-hari memanglah tidak banyak dan terkadang tidak menentukan. Terkadang per harinya itu bisa mendapatkan 4 kilogram belut bila cuaca lagi hujan.

BACA JUGA  UNP Expo, Tampilkan Lima Tim Pengabdian PNBP 2023

Bila cuaca lagi panas, hasil menangkap belut yang menggunakan lukah hanya 2 kilogram saja. Untuk 1 kilogram belut itu dijual Rp35.000 artinya penghasilan dari ayahnya itu berkisar Rp70.000.

“Tidak setiap harinya ayah saya menangkap belut, karena butuh lihat cuaca juga. Padahal kebutuhan selalu ada dan kami ada tiga orang beradik kakak,” katanya, Sabtu (12/9/2020).

Aan ini kini tengah menempuh pendidikan dan berjuang meraih strata 1 di Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang tahun angkatan 2016 di Fakultas Hukum.

Sementara adiknya Pamil Prasatio Syah Puyra yang akrab disapa Pamil masih duduk dibangku sekolah dasar, dan adiknya satu lagi dari segi usia belum mencukupi untuk bersekolah.

BACA JUGA  Jadikan Masjid Sebagai Simbol Pemersatu Masyarakat

“Jadi kami ini perantau yang datang dari Kabupaten Pesisir Selatan. Alasan merantau ke Padang untuk mencari ekonomi yang lebih layak ketimbang di kampung dimana saat ini perekonomian sangat sulit,” ujar dia.

Begitu juga dengan ayahnya, menangkap belut bukannya di wilayah Kota Padang, tapi masih menangkap belut di Pesisir Selatan. Artinya ayah Aan harus bolak balik dari kampung halamannya ke Padang.

“Kata ayah harga belut di Padang lebih mahal ketimbang di kampung. Di Padang harga belut bisa Rp60.000 per kilogramnya. Dari kondisi demikian, kami beradik kakak memang tidak punya hp yang mendukung untuk sekolah jarak jauh,” sebut Aan.

Comment