Budaya

Nasrul Abit :Budaya Merantau Rangminang, Merupakan Sebuah Pertarungan Hidup 

221
×

Nasrul Abit :Budaya Merantau Rangminang, Merupakan Sebuah Pertarungan Hidup 

Sebarkan artikel ini

PADANG — Budaya merantau bagi orang minang merupakan sebuah pertarungan hidup  untuk merobah nasib. Apakah dalam bentuk mencari ilmu pengetahuan, berda’wah dan mencari reski. Orang minang merantau karena hidup dikampungnya amat prihatin dan sulit.

Hal ini disampaikan Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit dalam penyampaikannya acara Halal bi Halal via zoom Video Confrence bersama tokoh-tokoh minang Jakarta maupun luar negeri dan diaspora dengan tema budaya merantau dan pelestarian adat, di ruang kerja wagub, Kamis, (25/6/2020).

Nasrul Abit mengatakan Budaya merantau orang ini sudah ada sejak zaman dulu kala dan ini juga pengembangan diri orang minang dalam pemekaran wilayah ke daerah lain.

BACA JUGA  Pengurus Dikukuhkan, FKAN Pauh IX Ikrarkan Tiada Henti Membangun Nagari

“Di Sumatera Barat ada namanya Luhak Nan Tigo yaitu, Agam, Tanah Datar dan Limapuluh Kota, perpindahan masyarakat minang ini juga ke Pesisir Selatan dan bahkan ada berpindah ke luar negri seperti Malaysia dan tentu budaya-budaya ini sudah menyembangkan diri disebut daerah rantau” ungkap Nasrul Abit.

Nasrul Abit juga katakan merantau sebuah motivasi diri bagi masyarakat minang untuk mampu mengembangkan diri sebaik mungkin melihat peluang perkembangan zaman.

“Ada pepatah minang yang kental, ka ratau madang di hulu, ba buah ba bungo balun, marantau bujang dahulu, di kampuang baguno balun. Sebuah pesan yang memberikan makna untuk belajar mengasah diri sebanyak-banyak jika perlu merantau ke negeri orang,” ungkapnya.

BACA JUGA  Perbas Sumbar Gelar Festival Tari Tor Tor dan Penyanyi Trio Batak

Selain itu Nasrul juga menjelas terkait dengan fungsi kelestarian kedepan adalah fungsi surau harus diaktifkan kembali dengan harapan kembalinya Perda kembali ke Nagari no.9 tahun 2000, bagaimana pemerintahan nagari dan kembali ke surau dapat difungsikan kembali.

“Dimana dalam budaya minang mengembleng generasi muda laki-laki mesti kesurau karena disurau guna dipelajari agama, masalah akidah, budi pekerti, sopan santun, adat istiadat dan budaya sebagai karakter jatidiri serta belaiar bersilat sebagai bekal diri untuk bertahan hidup,” katanya.

Selain itu Wakil Gubernur Nasrul Abit juga mengatakan bukan hanya mengaji saja adat nagari bisa difungsikan tetapi seperti budaya tari, pencak silat untuk persiapan hendak pergi merantau dan ada juga kesenian-kesenian lainnya. “Untuk itu fungsi Nagari perlu kita hidupkan kembali dalam rangka melestrikan adat budaya Minangkabau,” ujar Wagub.

BACA JUGA  Sekdaprov Sumbar Hansastri Gerakan Literasi Media di Mentawai

Comment