Ekonomi

Tersedia Rp30 Triliun, Dana Peremajaan Sawit Baru 11 Persen yang Terserap

548
×

Tersedia Rp30 Triliun, Dana Peremajaan Sawit Baru 11 Persen yang Terserap

Sebarkan artikel ini
Anakk-anak memandang kebun sawit.ist/republika

PADANG – Penggunaan dana peremajaan sawit rakyat (PSR) masih minim. Dari total Rp30 triliun dana yang tersedia pada Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) hanya 11 persen yang terserap.

“Sayang hingga sekarang baru 11 persen dari PSR yang terserap, sementara itu adalah dana yang disediakan oleh pemerintah untuk petani sawit,”sebut Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia DPP (Apkasindo) Gulat Medai Emas Manurung, Kamis (29/8/2019) di Padang.

Dikatakannya, ada persoalan yang mengikat petani kelapa sawit menyebabkan minimnya serapan. Pertama lahan sawit petani mandiri pada umumnya berada dalam kawasan hutan. Sehingga tidak dapat diajukan untuk mendapatkan pinjaman.

“Masalahnya sekarang 52 persen lahan petani sawit mandiri ini ada dalam kawasan. Sekarang bagaimana pemerintah dapat memberikan keringanan terhadap ini,”ulasnya.

BACA JUGA  Malam Minggu, Sanggar Seni Batu Manangih Hibur Anak Nagari Pauh IX

Dari jumlah itu, Sumbar pada 2019 ini sudah disetujui senilai Rp8,5 miliar untuk peremajaan sawit. Angka itu menempatkan Sumbar yang terbaik menyerap dana BPDP-KS.

Menurutnya, dari secara umum dari 116 kabupaten dan 20 provinsi pengurus Apkasindo semuanya adalah petani sawit mendiri. Semuanya menjadi penghasil sawit mendukung suplay tandan buah segar (TBS) bagi perusahaan kelapa sawit (PKS) milik perusahaan.

Diakuinya, Apkasindo memiliki sejumlah misi penting ke depan. Selain memperjuangkan peremajaan kelapa sawit petani mandiri. Apkasindo juga berjuang untuk menekan Uni Eropa untuk menghentikan pembatasan perdagangan sawit dunia.

“Selama ini Eropa sangat alergi dan berupaya untuk menekan harga kelapa sawit. Itu tidak lebih dari kampanye hitam memerangi sawit, dilakukan oleh NGO luar negeri,”sebutnya.

BACA JUGA  Walaupun Sama Kena Dampak, Warga Shafa Marwa Peduli Korban Banjir Pasisia

Menurutnya, selama ini perjuangan itu lebih banyak dilakukan oleh pengusaha kelapa sawit. Jika dengan menyertakan perjuangan petani, maka kemungkinan Eropa akan lebih mahfum.

“Jika Eropa tahu, bahwa sawit yang dijual di pasar global adalah hasil petani, mereka akan terima. Karena dari sawit itu bergantung ratusan ribu nasib petani, dengan itu kemungkinan ada penerimaan,”harapnya.

Comment