Peristiwa

Sikap Positif Terhadap Bahasa Negara Minim

153
×

Sikap Positif Terhadap Bahasa Negara Minim

Sebarkan artikel ini
Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Dr. Harja Danu Ismadi pada kegiatan, kebijakan pembinaan bahasa dalam pengutamaan bahasa negara di ruang publik yang digelar Balai Bahasa Sumatera Barat, Selasa (2/4) di ruang rapat kantor gubernur Sumbar.
Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Dr. Harja Danu Ismadi pada kegiatan, kebijakan pembinaan bahasa dalam pengutamaan bahasa negara di ruang publik yang digelar Balai Bahasa Sumatera Barat, Selasa (2/4) di ruang rapat kantor gubernur Sumbar.

PADANG –
Penggunaan bahasa Indonesia yang baik di ruang publik banyak belum tepat. Masih banyak ruang publik dipenuhi dengan petunjuk dan tulisan dengan bahasa asing.

“Kondisi kebahsaan kini kurangnya sikap positif masyarakat terhadap bahasa negara, yakni bahasa Indonesia. Selain itu, maraknya bahasa asing di ruang publik,”ungkap Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Dr. Harja Danu Ismadi pada kegiatan, kebijakan pembinaan bahasa dalam pengutamaan bahasa negara di ruang publik yang digelar Balai Bahasa Sumatera Barat, Selasa (2/4/2019) di ruang rapat kantor gubernur Sumbar.

Dikatakannya, persoalan bahasa saat ini selain maraknya bahasa asing juga berkurangnya kecermatan terhadap penggunaan kaidah berbahsa. Diiringi dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Termasuk pesatnya perkembangan siber.

BACA JUGA  TPP PKK Kelurahan Belakang Balok Wakili Bukittinggi ke Tingkat Provinsi

Menurutnya, kondisi tersebut dapat ditekan jika sikap positif terhadap bahasa negara dapat ditumbuhkan. Terutama bagi pemangku kepentingan terkait penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik.

Seperti pengelolaa periklanan dari lembawa swasta tetap mengutamakan bahasa Indonesia yang baik dalam penulisan informasinya. Meski periklanan lebih mengutamakan usaha, bisnis. Namun hendaknya tetap utamakan bahasa Indonesia.

“Jika memang harus menggunakan bahasa asing, tapi dahulukan bahasa Indonesia. Sekarang masih banyak kita dapatkan bahasa asing bertebaran dimanapun. Bukan menolak, atau anti bahasa asing. Tapi menempatkan sesuai dengan tempatnya,”ujarnya.

Disebutkannya, tidak tepatnya penggunaan bahasa Indonesia memang tidak diatur sanksi. Berbeda dengan yang diatur dengan Undang-undang yang mengatur, lambang negara, lagu kebangsaan dan bendera. Jika dari tiga komponen itu ada kesalahan ada sanksinya, hanya bahasa yang tidak ada sanksinya.

BACA JUGA  Pelajar SMKN 1 yang Tenggelam di Batang Kuranji Kota Padang Ditemukan

“Ini memang tidak ada sanksiny, kita hanya mengetuk kesadaran. Terpampang banyak bahasa, kita tidak terusik. Jika bendera, salah pasang pasti sudah ribut. Sikap positif terhadap bahasa negara. Bahasa pemersatu masih minim,”ulasnya.

Comment